Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 67


__ADS_3

Di ruangan Olivia, kini mereka tengah berkumpul. Olivia sendiri, Ranti, Axelle, Irene, Zaky dan Boni. Mereka tengah membicarakan masalah yang menimpa Axelle dan Irene saat ini.


Zaky sudah menjelaskan semuanya dari awal. Zaky pun telah meminta maaf karena sudah membohongi Axelle dan Irene. Awalnya memang ia berbohong agar Axelle dan Irene mau menikah demi menyelamatkan reputasi Axelle saat itu. Dan untuk kedua kalinya, ia kembali berbohong karena telah memiliki perasaan terhadap Irene.


Zaky telah mengikhlaskan, Irene memang bukan untuknya. Meski ada rasa sakit di hati, ada rasa cemburu, akan tetapi ia masih memandang Axelle sebagai adik nya. Meski tidak terlahir dari rahim yang sama. Axelle tetaplah adiknya, sebab dalam raga, mengalir darah yang sama.


"Secepatnya saya akan mengadakan jumpa pers untuk mengklarifikasi masalah ini." Ujar Zaky di tengah obrolan.


"Lebih cepat lebih baik. Sebelum kesalahpahaman semakin melebar kemana-mana." Ujar Olivia menimpali.


"Terus gimana dengan masalah foto dan video kemesraan Bos Axe dengan Nona Clarissa Pak Zaky?" Tanya Boni cemas. Sebab mereka telah melupakan hal itu. Clarissa pasti saat ini tengah merasa berada di atas daun, sebab seantero negeri tengah membicarakan namanya sebagai korban perselingkuhan kekasihnya.


Wanita itu kini menuai banyak pujian lantaran ia menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang kuat, berhati lapang, dan ikhlas menerima semuanya. Meski ia terluka, namun ia tetap sabar.


Tak hanya pujian, banyak dari warganet yang mendukungnya agar bisa kembali bersama Axelle. Banyak pula yang mengasihaninya, hingga ia disebut-sebut sebagai wanita yang paling pantas mendampingi Axelle dibanding Irene.


"Untuk masalah itu, akan aku selesaikan secepatnya. Aku yakin, setelah semua orang melihat buktinya, mereka tidak akan lagi menyudutkan Axelle dan Irene." Ujar Zaky yakin. Kini ia hanya bisa menyesali kenapa begitu mudahnya termakan bujuk rayu Clarissa. Tetapi untungnya, ia tak terjerumus terlalu jauh. Bersyukur ia masih diberi akal sehat agar tidak ikut menghancurkan kehidupan Axelle dan Irene.


"Axelle, Irene ... Saya minta maaf karena sudah berprasangka buruk terhadap kalian. Kontrak kerjasama kita akan tetap dilanjutkan. Sekali lagi saya minta maaf." Ujar Olivia sembari memandangi Irene dan Axelle bergantian.


"Tidak apa-apa Bu. Kami mengerti, semua ini hanya salah paham." Ucap Irene.


Olivia pun bernapas lega. Semula ia sempat kecewa terhadap Irene. Namun kini, perasaannya terhdap Irene kembali bersemi. Entah kenapa, setiap kali melihat Irene tersenyum, darahnya seakan berdesir. Ia tak bisa mengalihkan perhatiannya. Seolah ada ikatan, ada pertalian yang gak terlihat antara dirinya dengan Irene.


Namun ia tak ingin berharap lebih. Meski hati kecilnya sering berkata, bahwa Irene sangat mirip dengan putrinya. Ia hanya tak ingin kecewa, jika ternyata putrinya adalah orang lain. Sementara ia sendiri telah berharap lebih terhadap Irene.


.


.


Beruntung, keadaan di depan Galery telah terkendali. Sebab Zaky telah menjanjikan akan memberikan klarifikasi terkait skandal pernikahan Axelle. Akhirnya, Axelle dan Irene pun bisa kembali ke rumah dengan aman dan sentosa.


Irene melangkah gontai memasuki rumah. Sementara Axelle menyusul di belakangnya setelah mengunci pintu rumahnya rapat.


Irene hendak membuka pintu kamarnya, sampai tiba-tiba Axelle menahan tangannya yang sempat memutar handel pintu.


"Ini bukan kamarmu lagi. Kamar kamu sekarang di atas." Ucap Axelle.


"Tapi aku mau mandi dulu."


"Mandi nya di kamar kita saja. Kita mandi sama-sama." Axelle mulai nakal.


"Kamar kita?" Irene mengernyit.


Axelle pun mengangguk.


"Kita adalah pasangan suami istri yang sah. Mana ada suami istri tidur di kamar terpisah. Tidur di kamar yang sama, mandi juga di kamar mandi yang sama."


"Iiih ... Dasar. Kamu pasti ada maunya kan?" Irene menatap curiga Axelle.


Axelle pun semakin tersenyum nakal. Lantas ia mengangguk pelan.


"Melanjutkan yang tadi sempat tertunda." Ujarnya genit dengan tatapan yang mulai terasa berbeda.


"Kamu__" Belum sempat Irene menyelesaikan kalimatnya, Axelle telah lebih dulu menarik pergelangan tangannya. Mengajaknya naik ke lantai dua.


Di kamarnya, Axelle mulai nakal. Ia lantas mengajak Irene ke kamar mandi untuk mandi bersama. Namun Irene menolak. Ia menarik kuat tangannya dari genggaman Axelle.

__ADS_1


"Aku tidak mau." Tolak Irene tegas.


"Aku tidak suka penolakan. Lagipula kamu itu istriku. Istri sah. Jadi aku berhak atas dirimu."


"Iya, tapi ... Aku tidak terbiasa mandi berdua. Biarkan aku mandi sendiri ya? Please ..." Rengek Irene manja. Dengan mimik wajah di buat seimut mungkin. Agar Axelle menuruti permintaannya.


"Baiklah. Kita mandi sendiri-sendiri. Tapi cepat ya, jangan lama. Aku juga mau mandi." Akhirnya Axelle menurut.


Irene pun senang, dan langsung masuk ke kamar mandi.


Klek


Irene mengunci rapat pintu kamar mandi agar Axelle tidak sembarangan menerobos masuk. Di dalam kamar mandi Irene tersenyum senang sebab ia bisa menghindari Axelle yang mulai bertindak semaunya. Sementara di luar, Axelle justru tersenyum puas, sebab Irene tak tahu apa yang ada dalam benaknya saat ini.


Tak butuh waktu lama, Irene telah selesai membersihkan diri. Karena di dalam kamar mandi hanya ada satu handuk, yaitu handuk Axelle, terpaksa Irene memakai handuk Axelle untuk menutupi tubuhnya.


Akan tetapi, sial, semua pakaiannya masih ada di kamarnya di lantai bawah. Sekarang, bagaimana caranya ia mengambil pakaiannya.


"Kenapa?" Tanya Axelle melihat Irene sedang kebingungan saat keluar dari kamar mandi.


"Ee ... Aku lupa bawa baju ganti." Jawab Irene sambil menggaruk tengkuknya.


"Pakai bajuku saja. Lagipula kita tidak akan kemana-mana kan? Setelah ini kita langsung tidur, jadi pakai bajuku saja."


"Bajunya ada di lantai bawah. Aku ambil dulu."


"Tidak perlu."


"Tidak jauh kok. Tinggal turun tangga, sudah, kamarnya sudah kelihatan." Irene membantah.


"Aku bilang tidak perlu. Kalau ada yang melihat kamu dalam keadaan seperti itu, gimana?"


"Ya ... Siapa tau saja ada wartawan nakal yang sedang mengintip."


"Iih ... Memangnya rumah ini tidak punya pagar apa."


"Siapa tahu saja wartawannya nekat." Sembari bangun dari duduknya di tepian tempat tidur itu. Lalu perlahan menghampiri Irene yang masih berdiri dalam keadaan handuk yang masih melilit di tubuhnya.


"Kok ada ya wartawan seperti itu?" Irene mulai gugup saat Axelle mendekat. Ia hanya bisa menelan salivanya susah payah.


Keadaannya yang setengah ... Ehem ... Terbuka, mungkin telah memancing sisi Axelle yang lain yang sejak tadi berdiam diri di sana.


Axelle mulai mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Irene. Dengan cepat Irene malah menghindarinya. Ia tahu Axelle telah diliputi gairah. Sangat kentara terlihat dari sorot matanya. Caranya menatap Irene begitu berbeda.


Irene melangkah cepat menuju pintu. Sambil berkata,


"Aku ambil baju ganti dulu ya, nanti aku kembali lagi."


Namun sial, pintunya telah terkunci rapat. Dan kunci pintunya tak lagi menggantung di tempat kunci. Axelle telah mencabut kunci pintunya.


Irene pun menghembuskan napasnya panjang. Ia turunkan lagi tangannya yang telah bersiap memutar handel pintu.


"Axelle pasti sengaja mencabut kuncinya." Gumam Irene kesal.


"Tepat sekali." Seru Axelle menyahuti gumaman Irene.


Sontak Irene pun memutar tubuhnya. Dan terkejut saat mendapati Axelle telah berdiri di hadapannya nyaris tanpa menyisakan jarak. Sambil memasang senyum liciknya.

__ADS_1


"Ren ... Kamu lupa kita ini pasangan yang sah?" Axelle mulai menggoda Irene.


Irene pun tersenyum sembari memalingkan wajahnya yang mulai bersemu merah. Kini ia tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.


Sama pasrahnya saat Axelle mengangkat tubuhnya ala bridal dan membawanya ke tempat tidur.


Perlahan Axelle membaringkan Irene di atas tempat tidur itu tanpa melepaskan tatapannya dari bola mata Irene. Jemari Axelle pun mulai nakal dengan membuka lilitan handuk di tubuh Irene. Lalu melemparnya asal.


Axelle yang telah diselimuti gairah yang tak tertahan lagi pun mulai melakukan aksinya. Dengan cepat ia membungkam bibir manis Irene dengan bibirnya. Memagutnya lembut dan dalam. Aroma mint serta aroma sabun mandi yang menyeruak dari tubuh Irene itu semakin menambah gejolak di jiwanya.


Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Axelle pun mulai menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya sendiri. Dalam sekejap, kini mereka berdua dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


Melakukannya dalam ikatan yang sah terasa sangat berbeda bagi keduanya. Menghadirkan getaran yang semakin mendebarkan. Semakin membuat keduanya hanyut dalam gelora asmara. Tak ada lagi rasa takut, tak ada lagi rasa bersalah, tak ada lagi rasa berdosa. Yang ada hanyalah sejuta kenikmatan yang tiada tara.


Ahh ...


Rintihan nikmat, lenguhan lembut, terdengar saling bersahutan. Menggema di seisi ruangan itu. Dua insan yang saling memadu kasih, saling memberikan sentuhan hangat, saling berlomba mencapai puncak asmara. Dengan peluh yang semakin mengucur deras. Rintihan yang semakin nyaring terdengar.


Hingga akhirnya, erangan panjang terdengar. Puncak asmara telah diraih. Keduanya pun terkapar kelelahan.


Irene melingkarkan sebelah tangannya di perut Axelle. Axelle mendaratkan satu kecupan lembut di kening Irene.


"Makasih Ren, kamu selalu ada untuk ku. Aku mencintaimu istriku." Ucap Axelle parau di sela napasnya yang tersengal.


"Aku juga mencintaimu, Axelle. Sebaiknya kita bersih-bersih dulu sebelum tidur."


"Jangan dulu, nanti saja."


"Percuma aku sudah mandi. Gara-gara kamu aku harus mandi lagi sekarang."


Axelle tertawa kecil saking gemasnya dengan Irene.


"Jangan mandi dulu. Aku masih mau."


Irene memukul pelan dada Axelle. "Dasar."


"Serius. Aku mau sekali lagi."


"Tidak akan. Aku lelah. Aku mau tidur sekarang." Tolak Irene.


"Katanya mau bersih-bersih. Sama-sama yuk."


"Tidak mau."


"Ayolah ... Jangan seperti itu."


"Aku malu."


"Aku ini suami mu. Untuk apa malu."


Tanpa aba-aba, Axelle bergegas turun dari tempat tidur. Masih dalam keadaan polos, ia lantas meraih tubuh Irene. Lalu menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.


Irene meronta, namun Axelle tak menghiraukan. Untuk selanjutnya, apa yang terulang kembali di dalam kamar mandi itu, hanya mereka berdua yang tau. Yang pasti, suara lenguhan lembut Irene kembali terdengar.


Malam ini tenaga Axelle seperti di charger full. Hingga tak hentinya ia menggempur Irene.


Astaga!

__ADS_1


Mentang-mentang sudah ketahuan halal. 🤦


TBC


__ADS_2