Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 47


__ADS_3

"Tunggu!" Seru Axelle lantang tiba-tiba. Suara lantangnya bahkan mengangetkan orang-orang disekitarnya.


Seketika, langkah Irene dan Zaky terhenti. Lalu keduanya berbalik. Axelle pun bergegas menghampiri.


Ia menatap tajam Irene dan Zaky bergantian. Dengan hati geram menahan kesal.


"Kenapa kamu tiba-tiba datang ke lokasi?" Tanya Axelle memulai.


"Aku hanya ingin melihatmu sebentar. Wajar kan seorang manajer memperhatikan kinerja artis asuhannya." Jawab Zaky sekenanya. Meski sebenarnya ada maksud yang terselip diantaranya.


"Dari mana kamu tau Irene ikut bersamaku ke lokasi?" Axelle makin penasaran.


"Hanya kebetulan saja. Aku bahkan kaget melihat Irene ada di sini."


"Benarkah?"


Axelle kini beralih menatap Irene. "Kita perlu bicara. Ikut aku." Titahnya.


Namun Irene tak menghiraukan. Ia justru berbalik cepat, lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Axelle dan Zaky. Entah kenapa perasaannya mendadak berubah sejak melihat Axelle dan Clarissa lupa diri dalam beradegan.


"Irene, tunggu." Seru Axelle lantang.


Lagi-lagi Irene tak menghiraukan. Ia semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Axelle. Sampai tiba-tiba tarikan kuat pada pergelangan tangan menghentikan langkahnya seketika.


"Dengarkan aku dulu." Pinta Axelle begitu Irene berbalik, berhadapan dengannya.


"Aku harus mendengar apa dari mu?" Kesal Irene.


"Jika ditanya lagi, aku sungguh tidak ingin melakukan adegan itu. Tapi aku harus melakukannya demi__"


"Aku tau. Aku mengerti. Bahkan saat kalian lupa diri pun aku berusaha memahami. Lalu apa lagi yang harus aku dengar darimu."


"Kamu marah?"


Irene menggeleng. "Tidak. Aku tidak marah. Aku tau kamu tidak bisa dipercaya. Jadi untuk apa aku marah."


Dari bunyi kalimatnya, bisa dipastikan Irene marah. Marah saat melihat Axelle dan Clarissa lupa diri. Bahkan mereka melakukannya bukan sekedar akting semata. Seakan mereka tengah mencurahkan segenap rasa di hati keduanya. Ada rasa kecewa, bahkan rasa sakit di dada saat ia menyaksikan hal itu.


Clarissa adalah mantan kekasih Axelle. Hubungan yang pernah terjalin diantara mereka bahkan lebih lama dibanding hubungannya dengan Axelle yang baru beberapa bulan saja. Mana mungkin ia bisa menggantikan Clarissa di hati Axelle. Tampak ia mulai berkaca-kaca.


"Kamu marah, Ren. Aku tau kamu marah padaku." Ucap Axelle pelan.


"Jadi, ini alasannya kenapa kamu meminta aku ikut bersamamu. Karena kamu ingin menunjukkan padaku bahwa aku bukan wa_"


"Cukup. Aku sudah bilang, aku tidak ingin membahas tentang Clarissa." Sela Axelle cepat sebelum Irene menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Axelle ... Sebaiknya, kamu tanyakan pada hatimu. Apakah kamu benar-benar mencintaiku, ataukah aku hanya sekedar pelampiasan bagimu. Dari yang aku lihat, sepertinya kamu masih mencintai Clarissa." Lirih Irene berkata. Tanpa disadarinya, butiran-butiran air bening mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.


Axelle menggeleng pelan. "Tidak. Kamu salah."


Irene pun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak salah. Sangat jelas terlihat dari cara kamu menciumnya tadi. Maaf, sebaiknya aku pulang. Tidak ada yang perlu di bahas lagi." Irene pun kembali berbalik. Lalu melangkahkan kakinya cepat meninggalkan Axelle.


"Irene ... Dengarkan aku dulu." Pekik Axelle sambil berusaha menyusul langkah Irene. Namun langkahnya terhenti saat Zaky mencekal lengannya kuat.


"Lepaskan aku." Axelle menghempas kasar lengannya dari cengkeraman Zaky.


"Biarkan dia. Kamu tidak punya hak mengatur hidupnya. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi diantara kalian. Tapi yang harus kamu tau, pernikahan kalianĀ  ini hanya sandiwara. Aku yang memulainya dan aku juga yang akan mengakhirinya." Ucap Zaky tegas dan tampak serius.


Axelle pun menatap tajam Zaky. Berusaha mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut Zaky.


"Apa maksud mu?"


"Aku sudah menyiapkan skenario perpisahan kalian."


"Maksudnya?" Axelle mengernyit.


"Cerai." Ucap Zaky singkat.


"Lebih jelas lagi."


"Sandiwara pernikahan sudah kalian lakukan. Sekarang waktunya kalian melakukan sandiwara perceraian. Kalian akan bercerai. Masih belum mengerti? Perlu aku ulangi?"


Cerai?


Berpisah dengan Irene?


Tidak!


Tidak akan pernah Axelle melakukan itu. Selain Zaky, hanya Irene satu-satunya yang ia miliki. Sungguh ia tak ingin kehilangannya. Ia tak ingin kembali bertemankan sepi.


"Aku tidak mau." Tegas Axelle tanpa basa-basi.


Zaky menarik sudut bibirnya. Menganggap Axelle sedang bercanda saat ini.


"Aku sudah pernah menjanjikan ini sebelumnya pada Irene. Sebelum sandiwara nya dimulai. Sekarang, aku ingin menepati janjiku."


"Aku tidak mau bercerai." Tegas Axelle sekali lagi.


"Kenapa?"


"Aku mencintainya."

__ADS_1


Zaky terkekeh. Lagi-lagi ia tak menganggap serius ucapan Axelle. Sebab ia tahu betul seperti apa kriteria wanita ideal Axelle. Tak mungkin jika tiba-tiba saja Axelle mengakui perasaannya terhadap Irene. Ia bukan anak kemarin sore yang baru saja mengenal Axelle. Ia sudah mengenal Axelle sejak kecil. Sebab Axelle adalah adiknya. Adik yang entah dari mana datangnya. Meski saat itu ia tak mengerti apapun, tapi ia berusaha menerima Axelle sebagai saudaranya.


Di saat ia beranjak dewasa, dan memahami arti pengkhianatan bagi seorang wanita, ia tetap berusaha menerima Axelle sepenuh hati. Meski ia mulai memahami seperti apa perasaan ibunya saat dikhianati. Itu sebabnya Axelle tinggal sendirian. Sebab kehadiran Axelle di tengah-tengah keluarganya ibarat luka yang tak pernah kering. Rasa sakit akan pengkhianatan itu akan senantiasa membuka luka lama. Sungguh ia tak ingin melihat ibunya terluka.


Namun ia pun tak ingin membuat Axelle merasa tersisih dari keluarga yang tak menginginkannya. Hingga ia memutuskan menemani Axelle tinggal di kota ini. Meski sebenarnya ia adalah calon pimpinan sebuah perusahaan besar untuk menggantikan posisi ayahnya kelak. Ia rela meninggalkan itu demi menemani Axelle. Agar Axelle tidak merasa kesepian.


"Sudahlah. Lain kali saja kita bicara. Aku harus mengantar Irene pulang. Irene mungkin sedang tidak enak badan saat ini. Tadi dia merasa pusing. Hampir saja dia jatuh. Kerja yang baik ya." Ucap Zaky sambil menepuk pundak Axelle. Kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Axelle yang masih berdiri mematung.


Axelle menggeleng pelan, tanpa disadarinya, bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Cerai? Tidak, aku tidak mau." Gumamnya lirih.


.


.


Di tempat parkir, Irene masih berdiri. Menyapukan pandangannya ke sekeliling. Bingung entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Pemandangan saat Axelle dan Clarissa berciuman masih saja membayanginya. Bersamaan dengan rasa sakit yang kian menusuk kalbu. Ia lantas menghapus air mata yang masih saja berderai tanpa ia mampu membendungnya.


"Ren, ayo kita pulang." Ajak Zaky.


Buru-buru Irene kembali menghapus air matanya. Menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan kemudian. Sekedar meluruhkan rasa sakit yang kian menghimpit di dada. Ia memegangi dadanya, mencoba menormalkan kembali detak jantung yang kian berpacu lantaran amarah yang tak mampu ia tumpahkan. Dan berakhir laksana ribuan bebatuan yang menghantam. Semakin menyesakkan dada.


Irene hanya mampu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ajakan Zaky.


"Ayo, di sebelah sini." Zaky melangkah lebih dulu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh. Disusul oleh Irene kemudian.


Namun belum sempat Irene membuka pintu mobil, suara lantang seseorang kembali terdengar.


"Irene, tunggu." Seru Axelle dengan nada meninggi sembari melangkah menghampiri Irene.


Irene menurunkan kembali tangannya yang sudah bersiap membuka pintu mobil. Ia menundukkan wajahnya, seakan enggan menatap Axelle.


"Aku minta maaf." Ucap Axelle singkat.


Kini Irene mengangkat wajahnya. Menatap dingin Axelle. Kalimat itu seakan membenarkan apa yang telah terjadi beberapa saat lalu. Axelle bukan hanya sekedar berakting. Tapi mencurahkan perasaannya untuk Clarissa. Jadi benar, bahwa Axelle masih mencintai Clarissa.


Lantas apakah ucapan Irene sepenuhnya benar? Axelle hanya menjadikannya pelampiasan semata?


Irene butuh jawabannya. Sebab hubungan mereka sudah terlalu melangkah jauh.


"Tolong maafkan aku." Ucap Axelle sekali lagi.


Tidak salah lagi!


Air mata itu kembali berderai membasahi pipi. Irene tak mampu lagi membendungnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2