Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 45


__ADS_3

Irene menuruni anak tangga perlahan. Lagi-lagi ia tak mendapati Axelle disampingnya saat ia terbangun di pagi hari. Sementara mentari pagi kian meninggi.


Aroma khas makanan yang menyeruak terendus oleh indera penciumannya pun membuat perutnya keroncongan tiba-tiba. Di meja makan telah tertata rapi tiga porsi spaghetti dan susu hangat.


Ia menyapukan pandangannya, mencari keberadaan Axelle. Namun pria itu belum menampakkan batang hidungnya.


"Waaah ... Kelihatannya enak nih. Ini siapa yang masak ya? Zaky?" Gumam Irene sambil tersenyum-senyum sendiri memandangi spaghetti yang tersedia.


"Bukan. Tapi aku yang masak." Suara berat Axelle menyahuti. Bersamaan dengan tangannya yang melingkari pinggang Irene. Axelle menopang dagunya di pundak Irene. Merangkul Irene mesra dari belakang.


"Oh ya?" Irene seakan tak percaya Axelle yang membuatnya.


"Hm."


Irene pun terkekeh. "Masa sih? Aku tidak yakin kamu bisa masak."


"Memangnya hanya Zaky yang bisa? Aku juga bisa lah."


"Boleh aku coba?"


"Tentu saja boleh. Aku masak ini kan buat kamu." Axelle melepas rangkulannya. Lalu menarik satu kursi dan mendudukkan Irene di sana.


"Nih. Silahkan di coba." Axelle mengambil satu porsi. Ia letakkan spaghetti itu di depan Irene. Tak lupa ia mengambil sendok dan garpu dan menaruhnya di depan Irene.


Irene pun dengan tak sabar mulai mencicipi spaghetti buatan Axelle. Senyum di wajahnya terukir saat sesuap spaghetti masuk ke mulut, menyentuh lidahnya.


"Gimana? Enak?" Tanya Axelle penasaran akan tanggapan Irene.


"Hm ... Enak. Sangat enak." Puji Irene dengan wajah sumringah.


"Tuh kan? Aku bilang juga apa? Kalau cuma masak makanan seperti ini, kecil. Aku juga bisa." Axelle dengan bangganya memuji dirinya sendiri. Kemudian mengambil duduk di sebelah Irene dan mulai menyantap porsinya.


"Terus itu buat siapa? Boni?" Tanya Irene menunjuk satu porsi lagi di depannya.


Axelle menganggukkan kepalanya, sambil mulai menyuapi mulutnya.


"Bos ... Tagihannya udah eike bayarin. Di ganti ya duit eike nanti. Dua kali lipat." Ujar Boni tiba-tiba datang dari arah depan. Lalu mengambil duduk di depan Axelle dan Irene. Ia pun mulai menyantap spaghetti nya.


"Tagihan? Tagihan apa?" Tanya Irene ingin tahu maksud ucapan Boni. Sambil menatap Boni dan Axelle bergantian.


Di sebelahnya, Axelle tampak salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang entah kapan mulai terasa gatal. Berkali-kali Axelle melirik Boni, hingga mendelik. Namun Boni tak memahami kode yang diberikan Axelle.


"Apaan sih Bos? Kok melotot begitu?" Boni semakin mengerutkan dahi saat Axelle memelototinya. Memintanya untuk merahasiakan sesuatu.


Irene pun semakin penasaran dengan gelagat Axelle dan Boni. Seperti ada sesuatu yang mencurigakan. Tapi apa itu?


"Kalian kenapa sih?" Tanya Irene sekali lagi. "Tagihan apa yang kalian bicarakan?"


"Spaghetti." Jawab Boni tanpa ragu. Bahkan tak peduli dengan ekspresi Axelle yang menahan kesal setengah mati.


"Bukannya Axelle yang masak spaghetti ini?"


"Beli lah Ren. Dari resto langganan Pak Zaky. Bos Axe mana bisa masak. Masak air saja sampe hangus air nya." Ucap Boni polos. Tanpa merasa berdosa. Lalu cekikikan seakan tengah mengejek Axelle.


Akhirnya, kebohongan Axelle terbongkar juga. Irene pun menghentikan sarapannya. Lalu menoleh, menatap tajam Axelle yang tampak salah tingkah.

__ADS_1


"Ke_kenapa melihatku seperti itu?" Axelle bahkan tergagap saking salah tingkah lantaran ketahuan bohong nya.


"Kamu memang susah di percaya. Aku jadi malas sarapan." Irene kesal. Lalu bergegas ke kamarnya.


Brakkk


Terdengar suara dentam pintu yang dibanting keras. Sontak, Axelle pun bangun dari duduknya, lalu melangkah panjang, menyusul Irene ke kamarnya.


Di kamarnya, Irene tengah bersiap untuk mandi. Diambilnya handuk dari lemari. Lalu melangkah ke kamar mandi. Namun ia dikejutkan oleh Axelle yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Dan tanpa basa-basi langsung memeluknya dari belakang.


"Kenapa sarapannya tidak dihabiskan? Hm?" Tanya Axelle sembari menopang dagunya di pundak Irene.


"Aku sudah tidak berselera."


"Apa karena bukan aku yang memasak?"


"Bukan. Tapi karena kamu berbohong. Bagaimana aku bisa percaya padamu, untuk hal-hal kecil saja kamu berbohong. Aku jadi ragu, apa kamu bisa memenuhi janjimu."


"Sorry ..." Sambil memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi Irene.


"Aku hanya ingin membuatmu terkesan padaku. Maafkan aku ya?" Kembali mengecup pipi Irene berulang kali.


"Tapi bukan begini caranya."


"Aku kan sudah minta maaf. Dimaafin dong. Melihat kamu ngambek seperti ini, membuatku jadi tak tahan lagi." Axelle mulai membenamkan wajahnya di ceruk leher Irene. Hembusan hangat napasnya membuat Irene jadi merinding. Hingga Irene pun berusaha menghindarinya. Berusaha melepaskan diri dari rangkulan Axelle.


"Axelle, lepaskan. Aku mau mandi." Elak Irene demi menghindari kelakuan nakal Axelle. Ia tahu, jika tak dihindari, Axelle akan semakin berbuat lebih.


"Habiskan dulu sarapan mu. Setelah itu mandi."


"Aku sudah tidak lapar lagi."


"Aku tidak mau. Sekarang kamu keluar, aku mau mandi."


Masih dengan keadaan memeluk Irene, Axelle masih saja nakal menggoda Irene.


"Ayolah ... Aku masih punya waktu satu jam sebelum berangkat ke lokasi. Kita mandi sama-sama, ya?"


"Aku tidak mau."


"Please ... Satu jam, Ren. Aku rasa itu cukup untuk kita berdua__"


"Tidak! Aku tidak mau!" Tegas Irene lalu melepaskan diri dari rangkulan Axelle.


"Kamu keluar sekarang juga. Aku mau mandi. Aku mau ke panti hari ini. Setelah itu, aku mau jalan-jalan ke mall." Irene mendorong tubuh Axelle hingga mendekati pintu.


"Aku tidak mengijinkan mu kemana-mana hari ini. Paham?" Axelle kini menatap tajam Irene. Namun Irene tak menghiraukan.


"Memangnya kenapa?"


"Jangan banyak tanya. Pokoknya tidak boleh."


"Ikh, kamu kelewatan." Irene merengut sebal. Menampakkan wajah cemberutnya kesal.


"Kalau begitu, kamu ikut bersamaku ke lokasi."

__ADS_1


"Aku tidak mau."


"Ikut aku, atau akan aku buat tiga ronde dalam satu jam." Axelle kembali mendekat. Irene pun jadi ngeri dibuatnya. Apa-apaan si Axelle, tiga ronde dalam satu jam. Apa dia sudah gila?


"Iya, iya, baiklah. Aku ikut bersamamu." Irene pasrah. Tak bisa berbuat apa-apa. Jika Axelle bersikeras, Irene tak kan bisa melawan keinginannya. Dan hanya bisa menurut saja.


Axelle pun tersenyum puas. Lalu beranjak keluar dari kamar Irene.


.


.


Mungkin, ini pertamakali nya bagi Irene bertandang ke lokasi syuting Axelle. Tanpa Axelle memperkenalkan pun, para kru film sudah mengenal siapa Irene. Saat Axelle bersiap untuk pengambilan adegan, Irene dengan setia menunggunya di tempat Axelle biasanya beristirahat. Dengan ditemani Boni.


Pengambilan adegan pertama telah selesai dilakukan. Kini sutradara bersiap untuk pengambilan adegan berikutnya.


"Pemeran wanitanya sudah datang?" Tanya sutradara pada kru yang bertugas.


"Belum, Bang." Jawab salah seorang kru.


"Waduh, gimana ini. Bagaiman syutingnya selesai jika para pemainnya sering datang terlambat." Keluh sutradara kesal.


"Axelle." Panggil sutradara.


Axelle menoleh. MUA yang sedang memperbaiki riasannya pun berhenti sejenak.


"Ada apa Bang?"


"Bersiap untuk adegan berikutnya. Kali ini adegannya romantis. Lakukan dengan baik ya?"


"Pasti, Bang."


"Adegannya ciuman."


"Apa?" Axelle tersentak. Lalu melayangkan pandangannya pada Irene yang tengah menyapukan pandangannya ke sekeliling lokasi.


Bagaimana ini?


Jika Irene melihatnya, apa Irene tidak akan marah? Terlebih lagi, pemeran wanitanya adalah Clarissa. Axelle harus berbuat apa sekarang? Antara menjaga perasaan Irene dan menjaga profesionalisme kerja, manakah yang harus ia pilih?


"Apa adegannya tidak bisa di skip saja, Bang?" Tanya Axelle, mencoba membuat penawaran. Siapa tahu saja sutradara menyetujuinya.


"Tidak bisa. Mana dapat feel nya kalau di skip segala. Ayolah, kamu kan sangat profesional, masa untuk adegan begini saja harus di skip. Bahkan untuk adegan ranjang saja kamu berani melakukannya. Kenapa sekarang tidak bisa?"


"Bukan begitu Bang. Masalahnya ..."


"Karena ada isteri kamu ya?"


Axelle menelan saliva nya susah payah. Laku kembali memandangi Irene di seberang.


"Hanya masalah itu, kamu diskusikan saja dengan isteri kamu. Minta persetujuannya dulu. Buat dia mengerti, kalau ini hanya akting." Usul sutradara.


"Akan aku coba dulu." Sembari membuang napasnya panjang.


"I am sorry, aku datang terlambat. Soalnya jalanan nya macet parah." Tiba-tiba Clarissa datang. Membuat Axelle semakin bersusah payah menelan saliva. Terlebih lagi, di seberang Irene kini melayangkan pandangan ke arahnya.

__ADS_1


Dari yang tampak, Irene mengerutkan dahinya. Kala pandangannya terhenti pada sosok Clarissa. Di saat bersamaan, Clarissa pun melayangkan pandangannya pada Irene yang tengah duduk di seberang. Seringai tipis pun terbit di wajahnya seketika.


TBC


__ADS_2