Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 54


__ADS_3

Setelah dari panti Irene bergegas ke Olive Galery. Ia melangkahkan kakinya panjang menuju ruangan Olivia. Dimana Olivia telah menunggu kedatangannya.


Pelan Irene memutar handel pintu setelah dipersilahkan masuk. Tampak Olivia sedang duduk di belakang meja kerjanya sambil memeriksa beberapa laporan. Di depannya ada sebuah kertas kosong dan pensil. Mungkin Olivia akan membuat rancangan baru.


"Irene ... Mari, silahkan duduk Ren." Perhatian Olivia teralihkan dengan kedatangan Irene.


Sembari mengulas senyum manisnya, Irene pun mengambil duduk di depan Olivia.


"Mohon maaf sebelumnya, kalau boleh saya tau, ada apa ya Bu Olive meminta saya datang?" Tanya Irene canggung.


"Mungkin Shelly sudah pernah mengatakan ini sama kamu. Saya ingin menawari kamu menjadi model katalog untuk fashion couple saya. Sebenarnya, dengan kamu menandatangani kontrak saja, saya tidak perlu lagi meminta persetujuan kamu. Tapi bagi saya, kamu berbeda. Rencananya saya akan memakai kamu dan Axelle sebagai couple nya. Tapi kalau kamu menolak juga tidak apa-apa." Ujar Olivia panjang lebar.


Irene tampak berpikir sejenak. Tetapi sejurus kemudian, ia menganggukkan kepalanya.


"Iya, Bu. Saya mau." Ujarnya mantap.


"Oh ya?"


Irene kembali mengangguk mantap. "Iya. Saya menerima tawaran Bu Olive."


"Waaah ... Makasih banyak ya Ren. Oh ya, saya punya sesuatu untuk kamu. Tunggu sebentar ya ..." Olivia menekan tombol telepon paralel di meja kerjanya.


"Tolong bawa ke ruangan ku ya Ran ..." Titahnya melalui sambungan telepon paralel.


Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya datang dengan beberapa paper bag di tangannya. Paper bag itu diletakkannya di meja, di depan Olivia.


"Makasih ya Ran." Olivia mengulum senyumnya.


"Sama-sama Liv." Sahut wanita itu.


"Oh ya Ran, kenalkan, ini Irene." Olivia memperkenalkan Irene pada wanita paruh baya itu, yang tidak lain adalah Ranti.


Ranti pun mengalihkan pandangannya pada Irene sembari tersenyum manis. Tangannya pun perlahan terulur.


Sontak Irene berdiri dan menyambut uluran tangan Ranti sembari menyunggingkan senyum manisnya.


"Irene." Ucap Irene sopan.


"Ranti." Ucap Ranti singkat.


"Irene ini adalah istrinya Axelle. Yang pernah aku cerita kemarin sama kamu. Gimana, cantik kan?" Tanya Olivia pada Ranti.


Ranti pun menganggukkan kepalanya. "Iya, dia cantik. Lalu, suaminya kemana? Tidak ikut?" Pertanyaan yang tak seharusnya Ranti lontarkan untuk Irene. Akan tetapi, entah kenapa ia begitu ingin menanyakan tentang Axelle.


"Tidak, saya datang sendiri. Axelle sedang istirahat di rumah. Dia baru saja menyelesaikan syuting. Jadi dia kelelahan."


"Oooh ... Begitu ya."


"Maaf Bu Olive, jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, boleh saya pulang sekarang?" Pamit Irene santun.


"Oh, boleh, boleh Ren. Dan jangan lupa bawa pulang ini. Anggap saja ini hanya hadiah kecil dari saya." Olivia menggeser beberapa paper bag itu ke depan Irene.


"Tapi, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Irene tampak canggung menerima hadiah sebanyak itu dari Olivia. Tetapi bagi Olivia, hadiah itu tidaklah seberapa.


"Saya akan sangat kecewa jika kamu menolak pemberian saya loh Ren." Olivia memasang tampang kecewanya. Hingga Irene pun tak enak hati menolaknya.

__ADS_1


"Makasih banyak Bu Olive. Saya tidak tau bagaimana harus membalas kebaikan Bu Olive."


"Tidak perlu Ren. Saya justru senang sekali kamu mau menerima pemberian dari saya. Percaya tidak percaya, saya malah merasa hadiah itu kurang."


"Bu Olive bisa saja Bu. Kalau begitu saya permisi sekarang, Bu." Pamit Irene kemudian mengambil paper bag itu untuk ia bawa pulang.


"Biar saya bantu membawanya. Ini kebanyakan, kamu pasti kerepotan membawanya kan?" Tawar Ranti sembari mengambil beberapa paper bag dari tangan Irene.


"Tidak juga, Bu. Saya bisa kok bawa ini sendiri." Tolak Irene halus, sebab tak ingin merepotkan Ranti.


"Tidak apa-apa, Nak. Kamu kan tamu spesialnya Olivia. Saya senang bisa ikut membantu."


"Astaga, Bu. Benar tidak apa-apa? Maaf kalau saya merepotkan."


"Iya, tidak apa-apa. Liv, aku antar Irene ke depan dulu ya?"


"Makasih loh Ran sudah mau membantu Irene." Ucap Olivia.


Ranti menyunggingkan senyumnya. Bersama-sama mereka keluar dari ruangan Olivia.


.


Saat di depan Galery, Irene hendak mengambil paper bag dari tangan Ranti. Namun Ranti menolak. Sebab, ingin sekali ia bertanya tentang Axelle. Namun lidahnya terasa berat untuk berkata.


"Maaf Bu, sampai disini saja. Saya akan memesan taksi. Berikan saja tas itu ke saya." Pinta Irene santun.


"Kamu pesan taksi saja dulu. Tas ini biar saya pegang sampai taksinya datang." Tolak Ranti halus tak ingin Irene mengambil paper bag itu dari tangannya. Sebab ada hal yang sangat ingin ia tanyakan pada Irene. Akan tetapi, entah kenapa lidahnya masih saja terasa kelu.


Irene pun merogoh ponsel dari tas kecilnya dan hendak memesan taksi. Namun, belum sempat ia memesan taksi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Dari mobil itu, turun sesosok pria yang sangat dikenalnya.


Pria itu memasang senyum manisnya sembari melepas kacamata hitam yang membingkai wajahnya.


"Axelle?" Seru Irene tak percaya Axelle datang menjemputnya.


"Kenapa? Kaget?" Sembari menghampiri Irene. Lalu merangkul pinggang Irene dan mengecup lembut pipi Irene.


"Axelle ..." Irene menolak perlakuan manis Axelle yang tak pandang situasi.


"Kenapa? Kamu mulai menolakku lagi?" Axelle tampak kecewa.


"Bukan begitu. Ini di tempat umum. Tidak enak ada yang melihat. Tuh ..." Irene melirik Ranti yang tengah menatap mereka tanpa berkedip.


Oh bukan. Tapi tengah menatap Axelle tanpa berkedip. Bahkan wajah Ranti mendadak pucat. Tangannya pun gemetaran. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya.


"Bu Ranti, kenalkan, ini Axelle. Su ... Su ..." Irene ingin memperkenalkan Axelle sebagai suaminya. Namun entah kenapa rasanya berat. Mengingat status mereka hanyalah sandiwara.


"Saya Axelle, suaminya Irene." Cepat Axelle menyambung kalimat Irene sambil mengulurkan tangannya.


Namun Ranti malah menatap Axelle tanpa berkedip.


"Bu Ranti, tolong berikan tas nya ke saya." Pinta Irene. Lalu pelan ia mengambil paper bag itu dari tangan Ranti. Sementara Ranti masih menatap Axelle.


Axelle menyunggingkan senyumnya menatap Ranti. Tangannya masih terulur. Namun Ranti belum menyadarinya. Sampai akhirnya Axelle menarik kembali uluran tangannya.


"Ren, kita pulang sekarang?" Tawar Axelle sembari beralih menatap Irene.

__ADS_1


"Boleh. Bu Ranti ..." Irene menyapa lembut Ranti yang masih mematung menatap Axelle. Bahkan matanya tampak mulai berkaca-kaca.


Ranti tak menyahuti Irene. Ia masih diam terpaku di tempatnya.


"Bu Ranti ... Ibu baik-baik saja kan?" Tanya Irene merasa cemas melihat keadaan Ranti yang mendadak pucat pasi.


"Bu ... Bu Ranti ..." Irene menepuk lembut pundak Ranti. Ranti pun terhenyak.


"Eh, i_iya. A_ada apa Nak Irene?" Bahkan Ranti tergagap.


"Maaf, kami permisi dulu. Bu Ranti silahkan kembali ke dalam. Makasih sudah membantu saya membawakan tas nya."


"I_iya, sama-sama."


"Ayo." Ajak Axelle. Lalu di ambilnya paper bag itu dari tangan Irene dan menaruhnya ke dalam mobil.


Keduanya pun naik ke mobil. Sekilas Axelle melayangkan pandangannya ke luar jendela mobil, memandangi Ranti sesaat, sebelum akhirnya  mobil mulai melaju meninggalkan pelataran Olive Galery.


Sementara Ranti masih berdiri di tempatnya sambil memandangi mobil Axelle yang mulai menjauh. Sampai akhirnya menghilang dari pandangannya.


"Kamu sudah dewasa dan sudah menikah sekarang. Ternyata kamu tumbuh menjadi pria yang tampan dan mandiri." Gumam Ranti lirih hampir tak terdengar. Disertai bulir-bulir air bening yang berjatuhan dari pelupuk matanya.


.


.


"Makasih loh Ren jam tangannya." Ujar Boni sembari memusatkan konsentrasinya pada jalanan yang tampak ramai. Sesekali ia melirik spion, melihat Axelle dan Irene yang duduk di jok tengah.


"Jam tangan?" Irene mengerutkan dahinya. Lalu menoleh menatap Axelle. Axelle malah terlihat salah tingkah.


"Iya, jam tangannya bagus sekali Ren. Merek luar negeri lagi. Eike sempat searching di google, jam tangan merek ini tuh harganya bisa sampe puluhan juta. Kamu serius Ren memberikan jam tangan ini buat eike? Tidak menyesal nanti kan Ren?"


Irene kebingungan. Ditatapnya lagi Axelle yang makin terlihat salah tingkah.


"Kapan aku kasih jam tangan itu ke kamu?" Irene penasaran juga dibuatnya. Jangan-jangan ...


"Tadi pagi, pas eike menjemput Bos Axe. Sebenarnya Bos Axe sih yang memberikan ini ke eike. Katanya dari kamu. Kata Bos Axe kamu tidak suka jam tangan ini."


"Oooh ... Begitu ya ..." Tidak salah lagi dugaan Irene. Rupanya jam tangan mewah itu adalah bingkisan yang diberikan Zaky untuknya. Memang ia berniat memberikannya pada Boni. Akan tetapi ia tak menyangka ternyata bingkisannya adalah barang mewah. Dan Axelle memberikannya pada Boni begitu saja tanpa meminta ijinnya terlebih dahulu.


Irene menatap kesal Axelle. Sungguh ia tak menyangka Axelle bisa begitu gampangnya mengambil barang orang. Apalagi itu adalah barang mewah. Yang kata Boni harganya mencapai puluhan juta. Kalau begini jadinya, ia malah jadi tak enak hati pada Zaky nanti.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Axelle berusaha menghindari tatapan tajam Irene.


"Kenapa tidak bertanya dulu padaku. Gimana kalau Zaky nanti tersinggung karena aku tidak menghargai pemberiannya." Kesal Irene setengah mati.


"Suami mana tidak akan marah jika istrinya menerima hadiah dari pria lain." Axelle pun mulai kesal.


"Suami?"


"Iya. Suami. Aku suami mu."


Irene pun terdiam. Namun hati mulai gelisah. Seandainya saja itu adalah kenyataan. Bahwa Axelle benar-benar suaminya yang sah.


"Kenapa?" Lirih Axelle bertanya. Sebab Irene mulai menampakkan raut wajah yang berbeda.

__ADS_1


TBC


__ADS_2