Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 72


__ADS_3

Di ruang rawat itu, Axelle masih setia menemani Irene yang tak kunjung sadarkan diri. Diciuminya lembut punggung jemari Irene dalam genggamannya. Disertai buliran air bening yang lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


Hatinya sungguh hancur melihat Irene dalam keadaan seperti itu. Terlebih lagi, dengan kepergian calon bayi yang bahkan belum sempat terlahir ke dunia. Hatinya semakin hancur.


Ia hanya bisa menyesali kesalahannya meninggalkan Irene sendirian di rumah. Hingga kejadian naas itu pun menimpa Irene. Seharusnya ia memaksa Irene ikut bersamanya saat itu, jika saja ia tahu hal ini akan terjadi.


"Maafkan aku Ren. Akulah penyebab kamu jadi seperti ini." Lirih Axelle bergumam ditengah pilu yang mendera hati. Sembari mempererat genggamannya.


Axelle mengusap wajahnya. Menghapus air mata yang terlanjur membasahi pipinya. Sebisa mungkin ia menahan isak tangisnya. Ia berusaha tegar meski hatinya remuk sebab telah kehilangan calon buah hati.


Ceklek


Terdengar suara pintu terbuka. Axelle tak menghiraukan. Ia semakin tenggelam dalam dukanya. Sembari terus mengecup punggung jemari Irene.


"Axelle." Panggil Zaky lirih diikuti usapan lembut di punggungnya.


Axelle tak menoleh. Ia terus menatap wajah Irene yang tampak pucat pasi. Tak ada lagi rona di wajah itu.


"Kamu harus tabah. Ini mungkin adalah ujian untuk kalian. Aku yakin, kalian pasti bisa melalui ini." Ucap Zaky mencoba memberi kekuatan pada Axelle.


"Ini semua salahku. Seharusnya aku selalu berada di sisinya." Sesal Axelle tiada henti.


Ditengah pilunya hati, tiba-tiba jemari Irene dalam genggaman Axelle bergerak. Axelle pun tersentak.


"Irene?" Axelle mengusap wajah Irene. Hatinya cemas menanti Irene membuka matanya. Ia yakin Irene sudah siuman. 


Perlahan, kelopak mata Irene mulai membuka. Mata itu mengerjap berkali-kali. Menyesuaikan pandangan dengan cahaya dalam ruangan itu.


"Ren. Sayang, kamu sudah sadar?" Axelle tampak senang melihat Irene akhirnya siuman setelah beberapa jam lamanya ia menunggu. Bahkan kini hari sudah malam.


Bu Norma, Ranti dan Boni sudah pamit pulang sejak tadi. Hanya Zaky yang memilih bertahan. Dengan alasan ingin menemani Axelle menunggui Irene. Namun Ranti berjanji akan datang kembali menjenguk Irene. Menantu tercintanya.


Irene memalingkan wajahnya perlahan. Matanya nanar memandangi Axelle yang berada di sampingnya. Menggenggam jemarinya erat, dan mengusap lembut wajahnya. Sementara Zaky berdiri di belakang Axelle.


"Aku di mana sekarang?" Tanya Irene bingung. Sebab ruangan bernuansa putih itu tampak asing di pandangan.


"Kamu ada di rumah sakit."


"Rumah sakit? Memangnya aku kenapa?"


"Kamu kecelakaan Ren."


Irene ternganga tak percaya. "Kecelakaan? Lalu bayiku ... Bayiku gimana? Bayiku baik-baik saja kan?"


Axelle tak menyahuti pertanyaan Irene yang satu ini. Axelle malah memalingkan wajahnya. Mencoba menghalau air mata yang hampir saja tumpah ruah.


"Axelle. Bayi kita baik-baik saja kan?" Tanya Irene sekali lagi.


Namun Axelle masih diam seribu bahasa. Irene pun menggulirkan pandangannya pada Zaky. Berharap Zaky mau menjawab pertanyaannya.


"Bayiku baik-baik saja kan?" Tanya Irene menatap Zaky.

__ADS_1


Sama hal nya dengan Axelle. Zaky pun bungkam seribu bahasa. Tak tega rasanya ia memberitahu Irene kenyataan akan kandungannya yang terenggut akibat kecelakaan itu.


Irene pun semakin penasaran dibuatnya. Dengan bungkamnya Zaky dan Axelle, menimbulkan kecurigaannya.


"Kenapa kalian diam saja? Kenapa kalian tidak mau menjawab pertanyaan ku?" Tanya Irene dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Nalurinya sebagai seorang ibu, mulai merasakan pertanda buruk akan bungkamnya Zaky dan Axelle. Perlahan rasa sakit itu mulai terasa. Nalurinya seakan berkata, hal buruk telah terjadi.


"Tolong jawab pertanyaan ku." Pinta Irene.


"Sayang ... Kata dokter kamu harus banyak istirahat. Jangan memikirkan hal apapun dulu. Kondisimu harus benar-benar pulih." Ucap Axelle demi mengalihkan perhatian Irene.


Namun perasaannya tak bisa ia abaikan begitu saja. Irene sangat yakin, sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Aku hanya minta kalian menjawab pertanyaan ku. Apa susahnya, tinggal di jawab saja." Ucap Irene yang mulai merasa kecewa. Tanpa sadar, air mata itu pun mulai luruh dari sudut matanya.


"Maaf Ren. Untuk hal itu sebaiknya kamu tanyakan pada dokter saja. Dokter yang lebih tau." Ujar Zaky. Ia hanya merasa tak berhak memberitahu Irene perihal kandungannya.


Irene mencoba bangun untuk duduk. Namun raganya tak berdaya. Hingga ia kembali terbaring.


"Sayang, jangan bangun dulu. Kamu harus banyak istirahat." Ujar Axelle cemas. Ia lantas bangun dari bangku dan berpindah duduk di tepian tempat tidur. Kemudian ia membungkuk. Mengecup lembut kening Irene. Cukup lama. Sampai air matanya luruh begitu saja tanpa mampu lagi ia membendungnya.


Isak tangis Axelle pun mulai terdengar. Diikuti tubuhnya yang perlahan terguncang lantaran tangis yang tertahan. Axelle lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Irene. Menumpahkan tangisnya yang terdengar pilu.


"Maafkan aku yang tak bisa menjagamu." Ucap Axelle lirih di sela isak tangisnya.


Tanpa perlu Axelle mengatakannya pun Irene sudah bisa memahaminya. Nalurinya begitu kuat. Dan kini isak tangis Irene pun terdengar.


"Maafkan aku tidak bisa menjaga kalian berdua. Ini semua salahku." Ratap pilu Axelle sekali lagi.


Sembari terisak dalam tangisnya, Irene pun mengangkat kedua tangannya. Memeluk Axelle yang memeluknya. Keduanya pun saling menumpahkan tangis dalam pelukan yang semakin erat.


Isak tangis pilu Axelle dan Irene menggema memenuhi ruangan bernuansa putih itu. Zaky yang menyaksikan pemandangan yang menyayat hati itu pun turut menitikkan air mata. Hatinya pun sungguh sedih melihat adik dan wanita yang pernah singgah dihatinya dalam keadaan hancur.


Entah siapa yang patut dipersalahkan. Semua terjadi begitu cepat. Baru saja mereka merasakan kebahagiaan, kini semuanya sirna dalam sekejap.


"Ini bukan salah kamu Axelle. Tapi aku yang salah. Aku yang tidak bisa menjaga diriku dengan baik." Ucap Irene lirih dalam pelukannya.


Axelle mengangkat wajahnya dari ceruk leher Irene. Lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di setiap lekuk wajahnya.


"Meski Tuhan mengambilnya dari kita, tapi aku yakin dia pasti bahagia di alam sana. Karena dia tahu, ibunya sangat menyayanginya. Tidak ada ibu yang lebih baik dari mu." Ucap Axelle menatap lekat bola mata Irene dalam jarak yang begitu dekat.


Irene membawa jemarinya mendekap wajah Axelle. Lalu menghapus air mata di wajah itu.


"Kamu adalah suami dan ayah yang terbaik di dunia. Kamu tahu itu kan?"


Axelle mengulum senyumnya. Lalu mengangguk pelan.


"Axelle, aku sangat mencintaimu." Ucap Irene sepenuh hati.


Axelle kembali menitikkan air mata. Diusapnya lembut sebelah pipi Irene. Dibenahinya selang oksigen yang masih terpasang di hidung Irene.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu." Balas Axelle lirih penuh haru. Diusapnya lembut sebelah wajah Irene. Sembari mengulas senyum manisnya di tengah pilu yang mendera hati.


Di tengah suasana haru yang menyelimuti, tiba-tiba Olivia dan Hadi datang menghampiri. Keduanya menatap lembut Irene.


Menyadari kedatangan Olivia dan Hadi, Axelle pun beranjak dari tepian tempat tidur. Lalu duduk kembali di bangku kecil di sisi tempat tidur. Tangannya masih menggenggam jemari Irene. Dan sebelah tangannya lagi, mengusap lembut puncak kepala Irene.


"Ren ... Bu Olive dan Pak Hadi datang menjenguk mu." Ujar Axelle pelan.


Irene pun mengulas senyumnya memandangi Olivia dan Hadi bergantian.


"Makasih Bu Olive sudah datang menjenguk saya. Maaf jika saya terlalu merepotkan." Ucap Irene lembut.


Olivia pun tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Begitu pun dengan Hadi.


"Ren ... Ada sesuatu yang harus kamu tahu." Ujar Axelle.


Irene menatap Axelle, menelisik raut wajah Axelle yang mendadak serius. Membuatnya penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Axelle.


"Kamu sudah mengenal Bu Olive kan?" Tanya Axelle memulai.


Irene tertawa kecil sambil mengangguk pelan. "Pertanyaan kamu aneh. Tentu saja aku kenal Bu Olive. Dia kan atasan aku."


Axelle menggeleng. Lalu melirik sejenak ke arah Olivia dan Hadi yang tampak bersabar menunggu Axelle menyelesaikan penyampaiannya.


"Yang berdiri di hadapan kamu saat ini adalah ... Pak Hadi dan Bu Olivia. Mereka berdua ini adalah ... Adalah ..." Axelle menghela napas sejenak. Sebelum akhirnya menyelesaikan kalimatnya dengan perasaan campur aduk.


"Mereka ini adalah ayah dan ibu kamu. Mereka ini adalah orang tua kandung kamu."


Seketika Irene terdiam. Membisu seribu bahasa. Menatap lekat Axelle. Mencoba menemukan kesungguhan dalam ucapan Axelle.


Axelle pandai berakting. Mungkin saat ini Axelle sedang berakting. Dan berniat mengerjainya. Itu yang terlintas dalam benaknya.


"Jangan bercanda Axelle. Aku tau, kamu suka sekali mengerjai ku. Kamu sedang bercanda kan?" Irene masih belum mempercayainya begitu saja.


Axelle kembali menggeleng. "Aku serius. Mereka ini orang tua kandung kamu."


Irene kembali terdiam. Mematung seketika. Menatap lekat bola mata Axelle. Ucapan Axelle terasa seperti mimpi baginya.


Orang tua kandung?


Benarkah?


Jika ia memiliki orang tua kandung, lantas kenapa ia malah hidup di panti asuhan sejak kecil?


"Tidak Axelle. Aku ini seorang anak yatim piatu." Ujar Irene dalam kekecewaannya.


Mendengar ucapan Irene, seketika itu juga pecahlah tangis Olivia. Namun Irene tak memalingkan wajahnya. Tatapannya masih tertuju pada Axelle. Entah kenapa kekecewaan itu tanpa sadar menumbuhkan benci di hatinya. Padahal sebelumnya ia sudah bertekad tidak akan membenci kedua orang tuanya.


Apakah sedalam itu rasa kecewa di hati Irene?


TBC

__ADS_1


__ADS_2