
Hari pun berlalu. Untuk jadwal pemotretan katalog Olive Brand dengan tema Sweet Couple terjadwal hari ini.
Dan kini, di ruang pemotretan Olive Galery tampak para kru tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk pemotretan.
"Axelle dan Irene sudah kamu hubungi Shell?" Tanya Olivia.
"Sudah Bu Olive. Saya sudah menghubungi Irene." Jawab Shelly.
"Pakaian yang harus mereka kenakan sudah siap?"
"Sudah. Bu Ranti yang bertanggung jawab di bagian itu."
"Oh iya, saya hampir lupa. Ya sudah, saya tinggal dulu sebentar ya?" Olivia pun beranjak meninggalkan ruang pemotretan.
Sementara di depan Olive Galery, Axelle dan Irene baru saja tiba. Bersama Zaky dan Boni. Mereka berjalan beriringan menuju ruang pemotretan. Begitu sampai, Shelly langsung mengajak Axelle dan Irene untuk berganti pakaian.
Di ruang ganti, telah menunggu Ranti. Dialah yabg akan mempersiapkan penampilan mereka. Melihat Axelle dan Irene datang, seketika Ranti menjadi gugup. Ia terlihat salah sangat grogi saat menghampiri Axelle.
"Siang Bu Ranti ..." Sapa Irene sembari tersenyum.
"Siang Nak Irene. Oh ya, sebentar, saya ambilkan pakaian yang harus kalian kenakan." Bergegas Ranti mengambil pakaian yang akan dikenakan Axelle dan Irene untuk pemotretan.
Pakaian itu ia serahkan kepada pemiliknya masing-masing. Saat memberikan pakaian itu pada Axelle, Ranti tampak gugup. Bahkan tangannya pun gemetaran. Tatapannya tak lepas sedikitpun dari Axelle.
Axelle menyapukan pandangannya, mencari tempat untuk ia bisa mengganti pakaiannya. Sebab, di ruangan itu hanya ia seorang laki-laki.
"Di_disana kamar gantinya." Ujar Ranti gugup sembari menunjuk bilik kecil di sudut ruangan.
Axelle pun mengikuti arah pandang Ranti. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju bilik itu, saat Ranti tiba-tiba menghentikannya.
"A_Axelle ..." Panggil Ranti gugup.
Axelle menoleh. Memandangi Ranti yang tampak gugup. Bahkan mendadak rona wajah wanita paruh baya itu memucat. Entah apa sebabnya.
"Ada apa?" Tanya Axelle datar.
"Bi_biar saya bantu membawa pakaiannya." Tawar Ranti mulai mengulurkan tangannya hendak meraih pakaian itu dari tangan Axelle.
"Tidak perlu. Aku bisa membawanya sendiri. Lagipula ini tidak terlalu berat." Tolak Axelle.
Ranti hanya bisa menelan salivanya dalam-dalam kala menatap wajah Axelle dalam jarak yang begitu dekat. Entah apa sebabnya, matanya kini tampak mulai berkaca-kaca.
"Bu ... Anda baik-baik saja kan?" Tanya Axelle yang merasa aneh dengan sikap Ranti.
Ranti hanya bisa mengangguk. Tak mampu ia berkata, lantaran sesak di dada yang mulai terasa menghimpit. Ada perasaan bahagia, haru, sedih, bahkan rasa bersalah mendera di saat yang bersamaan.
__ADS_1
Akhirnya Axelle pun kembali melangkahkan kakinya menuju bilik kecil di sudut ruangan, dengan pakaian ganti yang menggantung di tangannya.
"Nak Irene, mari saya bantu bersiap-siap." Tawar Ranti.
Irene tersenyum sebagai tanda menerima bantuan Ranti. Bersama mereka menuju bilik kecil yang bersebelahan dengan bilik yang dimasuki Axelle.
Tak berapa lama Irene telah selesai mengganti pakaiannya. Di depan meja rias, telah bersiap seorang Make up Artist yang baru saja tiba, untuk mendandani Irene dan Axelle.
"Mari Nak Irene. Nak Irene harus di make up dulu. Tapi ..." Ujar Ranti. Pandangan matanya terhenti pada satu benda yang menggantung di leher jenjang Irene.
Irene tengah mengenakan sebuah mini dress dengan lengan cukup terbuka. Hingga sedikit menampakkan bagian dadanya.
"Ada apa Bu?" Tanya Irene ingin tahu.
"Maaf sebelumnya. Itu, kalung kamu harus di lepas dulu. Karena kami sudah menyiapkan kalung untuk pemotretan. Yang serasi dengan dress ini." Ucap Ranti.
"Oh ... Iya, boleh." Sembari mulai melepas kalungnya.
"Sini, biar saya bantu." Ranti pun membantu Irene melepas kalungnya.
"Kalungnya biar saya yang simpan. Akan saya kembalikan saat pemotretannya selesai nanti, ya?" Ujar Ranti sembari mengulum senyum. Lalu menyimpan kalung Irene di saku bajunya.
Irene pun mengangguk sembari tersenyum. Kemudian ia mengambil duduk di depan cermin rias untuk di dandani seorang MUA.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Ujar Axelle sedikit angkuh. Sembari mulai menjauhi Ranti.
Namun Ranti, sebab dorongan hati, kembali ia menghampiri Axelle. Masih berniat membantu Axelle.
"Sini Nak, biar saya bantu." Tawar Ranti sekali lagi hendak meraih kerah kemeja Axelle. Akan tetapi Axelle kembali memberikan penolakan.
"Aku bilang tidak perlu. Aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu dibantu oleh ibunya. Paham?" Tolak Axelle angkuh sekali lagi. Sambil menatap tajam Ranti.
Nada suara Axelle yang cukup tinggi, sontak membuat Irene memalingkan wajahnya ke belakang. Memandangi Axelle yang tampak emosi.
Tampak Ranti menundukkan wajahnya sedih, sekaligus kecewa akan perlakuan kasar Axelle. Namun ia pun tak sanggup membalas perlakuan Axelle.
Kasihan melihat Ranti diperlakukan kasar, sekaligus tak suka Axelle bersikap seperti itu. Irene pun mencoba menghampirinya.
"Axelle ..." Panggil Irene sembari meraih pundak Axelle. Mengelusnya lembut. Lalu dibantunya Axelle merapikan kerah kemejanya.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Irene lembut.
"Aku hanya tidak suka ada orang lain yang berusaha menyentuhku."
"Bu Ranti bukan mau menyentuhmu. Dia hanya ingin membantumu merapikan kerah bajumu. Itu saja, tidak lebih. Lagipula, ini sudah menjadi tugasnya." Terang Irene lembut agar amarah Axelle mereda.
__ADS_1
"Tetap saja, aku tidak suka." Tegas Axelle. Kemudian melirik Ranti yang masih tertunduk kecewa.
Entah mengapa, setiap kali melihat wanita berusia paruh baya, seakan ada rasa sakit yang menyentil hatinya. Ada rasa yang berbaur di sana. Rasa rindu, amarah, kecewa, hingga membuatnya tak bisa menahan sedih dihatinya. Membuatnya teringat akan sosok yang tak pernah ada untuknya, sejak kecil.
Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, selain menerimanya dengan lapang dada. Mungkin memang sudah takdirnya tumbuh tanpa sosok seorang ibu yang mendampingi dan menemani di setiap langkahnya.
"Axelle ... Aku kecewa sama kamu." Ucap Irene kemudian. Seraya menampakkan raut kekecewaannya terhadap sikap Axelle yang terkesan tak menghormati orang tua.
Axelle menatap tajam Irene dengan kernyitan di dahinya.
"Kecewa kenapa Ren?" Kini Axelle yang dibuat bingung atas sikap Irene. Terlebih lagi saat Irene mulai menjauhinya. Bahkan saat ia hendak menyentuh wajah Irene, Irene justru menepisnya.
"Kamu mau kemana? Jelaskan dulu apa maksud kamu?" Axelle mencekal lengan Irene. Lalu memegangi pundak Irene. Dan menatapnya lekat.
"Axelle, aku tidak suka melihat sikap kamu yang kasar seperti itu. Apalagi terhadap orang tua." Ujar Irene berterus terang.
"Dia bukan orang tuaku. Jadi untuk apa kamu marah?"
Di seberang Ranti mendengar jelas ucapan Axelle yang terasa bagai menembus jantungnya. Kalimat yang terlontar begitu saja dari mulut Axelle, sungguh membuatnya kecewa, sekaligus merasa sedih. Sebab, tidak ada yang patut dipersalahkan atas sikap Axelle seperti itu, selain dirinya sendiri. Sebab satu kesalahan terbesar yang pernah dilakukannya dulu. Hingga menimbulkan kebencian di hati Axelle.
"Axelle, tetap saja, Bu Ranti itu adalah orang tua. Dia tidak seusia denganmu, hingga kamu pantas memperlakukannya seperti itu. Lagipula, apa kesalahannya. Dia hanya ingin membantumu. Dan itu sudah menjadi tugasnya. Dia bekerja untuk Bu Olive. Jadi tolong jangan bersikap kasar seperti itu. Hargailah dia." Terang Irene panjang lebar dengan kesalnya.
"Oke, oke. Sekarang, katakan aku harus bagaimana. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu senang. Hm?"
"Minta maaf. SE - KA - RANG - JU - GA!." Tegas Irene dengan nada penuh penekanan.
"What? Minta maaf? Pada wanita itu?"
Irene mengangguk.
Axelle terkekeh. "Ayolah sayang. Jangan bercanda. Ini tidak lucu, tau."
"Ya sudah. Kalau begitu, mulai sekarang, jangan dekat-dekat aku lagi. Aku tidak suka dengan pria angkuh seperti kamu. Mendingan juga Zaky. Yang sopan, ramah, lembut, tam__"
"Oke, oke, oke. Akan aku lakukan." Sela Axelle cepat dengan nada meninggi.
Irene pun menghentikan ocehannya.
"Akan aku lakukan apa mau mu. Oke? Dan stop sebut-sebut nama Zaky lagi. Aku tidak suka. Aku sungguh tidak suka. Paham?"
Irene tersenyum senang. Lalu melirik Ranti yang kini memandanginya dengan senyum tipis terukir di wajahnya. Ada rasa bahagia di hati Ranti, melihat keakraban Irene dan Axelle. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Dan sangat cocok sebagai pasangan suami istri.
Dalam hatinya Ranti sangat bersyukur, Axelle mendapatkan pasangan seperti Irene. Yang bisa mengingatkannya disaat dia berbuat salah. Dalam hatinya juga ia tak berhenti berdoa dan memohon agar hubungan Axelle dan Irene langgeng. Serta berbahagia untuk selamanya.
TBC
__ADS_1