Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 83


__ADS_3

"Daddy?"


"Papah?"


Gina dan Clarissa tersentak kaget melihat Hadi sudah berdiri di seberang, menatap mereka dingin. Keduanya bangun dari duduknya dengan gugup. Cemas kalau Hadi mendengar obrolannya.


"Pah ..." Gina begegas menghampiri Hadi yang terlihat rapi.


"Papah mau ke mana sudah rapi begini?" Demi menutupi kegugupannya, Gina berlagak memperbaiki setelan Hadi.


"Ada urusan sebentar. Oh ya ..." Hadi menatap tajam Gina dan Clarissa bergantian. Hingga membuat Gina semakin salah tingkah dan gugup seketika.


"Ada apa Pah?" Gina mengusap-usap lembut lengan Hadi.


"Jika kalian tidak keberatan, mungkin lusa nanti aku akan mengadakan acara khusus untuk Nadine. Kalian boleh ikut hadir. Itupun jika kalian mau."


"Oh, tentu. Tentu saja kami tidak keberatan. Kami akan hadir di acara itu. Iya kan Cla?" Gina mengalihkan pandangannya pada Clarissa yang justru memasang raut tak senang.


Dengan kerlingan matanya, sambil mengedip-ngedipkan matanya, Gina meminta agar Clarissa menyetujui permintaan Hadi.


"Iya. Daddy tidak usah khawatir. Aku dan Mommy pasti akan hadir di acara itu." Ujar Clarissa dengan sangat terpaksa. Kendati hati menahan sakit dan geram.


"Kalau begitu Daddy ucapkan terima kasih banyak atas pengertian kalian. Oh ya, Daddy pergi dulu. Daddy harus menyiapkan segala sesuatunya untuk acara itu. Rencananya Daddy akan menggelarnya secara besar-besaran."


"Okey, Daddy. Terserah Daddy." Clarissa memaksakan senyumnya.


Sama hal nya dengan Gina. Wajahnya tersenyum manis, tetapi hati menahan geram dan kebencian yang menggunung.


"Daddy pergi dulu."


"Hati-hati Pah." Seru Gina begitu Hadi berlalu dari hadapannya.


Begitu Hadi menghilang dari pandangan, Clrissa menggeram kesal. Wajahnya merah padam menahan amarah yang kian membakar hati. Dadanya bahkan terasa sesak lantaran amarah yang tak mampu ia tumpahkan begitu saja.


Andai saja Nadine ada di hadapannya saat ini, mungkin saja ia akan mencekiknya hingga tak mampu bernapas lagi. Sungguh ia dibuat kesal setengah mati dengan kehadiran Nadine.


"I hate you Daddy. I hate you!" Pekik Clarissa geram. Bunyi gemerutuk giginya terdengar jelas. Ia tak mampu lagi membendung amarahnya. Kini yang menjadi prioritasnya adalah Nadine. Bagaimana caranya agar ia bisa menyingkirkan Nadine dari kehidupannya dan ayahnya.


"Sabar sayang." Gina menghampiri Clarissa. Mengusap-usap lembut punggungnya. Sekedar untuk meredakan amarahnya yang semakin berkobar.


"Aku benci semua ini. Aku benci Daddy, aku benci Axelle, aku benci gadis kampungan itu, aku benci semuanya. Dan sekarang ada Nadine. Aku benar-benar membencinya." Clarissa kembali memekik geram.


"Sabar sayang. Mommy akan selalu ada untuk mu. Mommy akan melakukan segalanya untuk mu. Kamu tenang saja." Gina mencoba menghibur putrinya. Meski ia sendiri lebih geram dari Clarissa.


Bukan hanya Nadine, bahkan Gina ingin sekali menyingkirkan Olivia dari hidupnya dan Hadi.


"Aku harus menyingkirkannya. Aku harus menyingkirkan Nadine."


"Kamu tenang saja. Untuk hal itu, serahkan saja pada Mommy. Mommy sudah punya rencana untuk nya."


"Memangnya apa yang akan Mommy lakukan?"


"Lihat saja nanti apa yang akan Mommy lakukan padanya. Mommy bisa pastikan, Nadine akan lenyap dari dunia ini untuk selama-lamanya."


Seringai penuh kebencian terbit di wajahnya. Segala rencana buruk melintas di benaknya.


Sementara itu, Hadi yang mereka pikir sudah pergi, nyatanya masih berdiam diri di dalam mobilnya. Yang sengaja ia parkir sedikit menjauh dari rumahnya.


Di dalam mobil itu, Hadi mendengarkan percakapan Gina dan Clarissa melalui earphone yang terpasang di telinganya.


Rupanya, tanpa sepengetahuan Gina, Hadi memasang alat penyadap di bawah sofa pribadi Gina. Tempatnya berleha-leha jika sedang berada di rumah.


Hadi tersenyum puas setelah mendengarkan percakapan Gina dan Clarissa.


"Dadang, kita jalan." Titah Hadi sembari melepas earphone dari telinganya.

__ADS_1


"Baik Tuan."


Detik berikutnya, Dadang mulai menjalankan mobilnya.


.


.


Sejak Axelle memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia akting, kini Zaky tidak memiliki jadwal yang terlalu padat seperti biasanya. Ia tidak lagi memiliki kesibukan yang mengharuskannya keluar rumah setiap saat. Hanya Axelle satu-satunya artis yang tersisa yang berada di bawah asuhannya.


Axelle kini telah bertemu dengan ibundanya tercinta. Bahkan kini ia telah memiliki kehidupannya sendiri. Untuk itulah, Zaky berencana akan kembali ke tengah-tengah keluarganya. Meneruskan kepemimpinan sang ayah di perusahaan keluarga. Mungkin itulah yang terbaik untuknya saat ini dan kedepannya nanti.


Zaky baru saja menghempaskan tubuhnya di sofa. Hendak menikmati secangkir kopi buatannya. Saat tiba-tiba bel pintu berbunyi.


Zaky meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu beranjak menuju pintu. Sebelum membuka pintu, terlebih dahulu ia melihat layar monitor.


Di depan pintu apartemennya saat ini tengah berdiri seorang wanita berambut panjang. Itu yang tampil di layar monitor. Akan tetapi ia tak tau siapa. Sebab wanita itu berdiri membelakangi.


Tak ingin dibuat penasaran, Zaky pun bergegas membuka pintu itu.


Saat pintu terbuka, yang pertamakali tampak adalah punggung seorang wanita. Zaky menyapukan pandangannya dari ujung kaki hingga ke ujung rambut wanita itu. Dengan dahi mengerut. Serta rasa penasaran akan tamunya hari ini.


"Kamu siapa?" Tanya Zaky.


Sontak wanita itu memutar tubuhnya menghadap Zaky. Detik itu juga Zaky tertegun menatap wanita di hadapannya.


"Vania?" Gumam Zaky tak percaya.


Wanita yang bernama Vania mengulas senyum manisnya. Sudah lama mereka tidak saling bertemu, Vania kini terlihat lebih cantik dan anggun.


"Hai ... Maaf, apa kedatangan ku mengganggu?" Tanya Vania bernada lembut.


"Ti_tidak. Tidak sama sekali." Zaky sampai gugup, lantaran tak menyangka Vania akan datang menemuinya. Mantan kekasih yang pergi meninggalkannya setahun yang lalu.


"Boleh aku masuk?"


"Si_silahkan." Sembari menyingkir, memberi jalan untuk Vania masuk.


Tanpa ragu Vania pun masuk. Zaky mengekor di belakangnya.


"Silahkan duduk." Ujar Zaky sambil menunjuk sofa.


Vania pun mengambil duduk di sofa. Sembari pandangannya mengedar, memindai seisi ruangan. Senyum di wajahnya pun terbit saat menyadari ruangan itu masih terlihat sama. Tidak ada yang berubah sejak kepergiannya.


"Tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama." Ujar Vania.


"Aku tidak punya waktu untuk mengubah interiornya. Aku terlalu sibuk belakangan ini."


"Aku berharap, tidak akan ada yang berubah. Begitu juga dengan kamu."


Zaky mengernyit. Lantas mengambil duduk di samping Vania. "Maksud kamu?"


"Sama seperti aku. Aku pun berharap hal yang sama padamu." Vania kembali mengulum senyum.


"Aku masih belum mengerti maksud kamu." Sebetulnya, Zaky sudah bisa menebak maksud ucapan Vania. Hanya saja ia tak ingin mengambil kesimpulan yang salah.


Vania tidak berbeda jauh dengan Clarissa. Mereka adalah wanita yang sama-sama agresif. Tidak malu mengutarakan perasaannya lebih dulu. Akan tetapi, berbeda dengan Clarissa. Vania bukan wanita angkuh. Vania masih memiliki kelembutan sebagai seorang wanita. Dan Vania masih bisa menghargai orang lain.


Hanya saja, Zaky tidak tahu menahu alasan Vania meninggalkannya setahun lalu. Dan kini Vania kembali pun, Zaky tidak tahu apa alasan yang mendorongnya.


"Aku kembali karena kamu." Ujar Vania to the poin.


Zaky menoleh. Menatap intens sepasang bola mata Vania.


"Jujur, aku masih mencintaimu. Aku kembali karena aku sangat merindukanmu." Ungkap Vania tanpa ragu lagi.

__ADS_1


Zaky semakin tertegun menatap mantan kekasihnya itu. Jika ditanya, jujur, Zaky pun merindukan Vania. Masih ada secuil perasaan untuknya. Akan tetapi, alasan Vania pergi meninggalkannya masih menjadi tanda tanya besar baginya hingga detik ini.


Zaky tersenyum miring menanggapi ungkapan hati Vania. "Jangan bercanda. Bukankah kamu sendiri yang pergi meninggalkanku?"


"Kamu ingin tau kenapa aku keluar dari manajemen mu dan pergi meninggalkan mu?"


"Karena pria lain bukan?"


Vania menggeleng. "Bukan."


"Lalu?"


"Karena orang tuaku mau menjodohkan aku dengan orang yang tidak aku cintai. Aku pergi ke kota lain sebagai bentuk protes untuk orang tuaku, agar mereka membatalkan perjodohan itu. Dan akhirnya, apa yang aku lakukan itu berhasil. Rencana perjodohannya batal."


Zaky terkekeh mendengar alasan Vania yang terdengar sedikit kekanak-kanakan. "Alasan seperti itu sangat klise. Kamu bertingkah seperti anak kemarin sore."


"Bukan hanya itu. Sebenarnya, ada satu alasan lagi."


Zaky terdiam. Dipandanginya lagi Vania yang kini semakin merapatkan diri. Hingga lengan keduanya bersentuhan.


"Apa alasannya?" Tanya Zaky lirih menahan napas. Lantaran Vania mulai mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak diantara mereka.


"Aku tau apa yang kamu lakukan dengan Clarissa malam itu. Aku sakit hati. Itulah kenapa aku memilih menjauh darimu." Bisik Vania di telinga Zaky.


Zaky pun terhenyak. Kenapa baru sekarang Vania mengatakannya. Ternyata Vania juga melihat kejadian malam itu. Saat ia bermesraan dengan Clarissa dalam keadaan mabuk. Akan tetapi, Vania tidak tau kenapa ia sampai mabuk malam itu.


"Tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa memahaminya. Aku sudah melupakan kejadian itu. Karena ..." Vania menghela napas sejenak.


"Karena aku mencintaimu." Ujar Vania mantap.


Zaky pun terpaku menatap Vania. Ia tak menyangka Vania begitu tulus mencintainya. Bahkan melupakan kesalahan yang pernah ia lakukan malam itu bersama Clarissa.


"Maafkan aku. Saat itu aku mabuk. Aku begitu frustasi karena kamu pergi meninggalkanku." Ucap Zaky lirih.


"Tapi sekarang aku sudah kembali kan? Bisakah kita ..." Vania kembali mengikis jarak. Semakin merapat.


"Tapi aku sudah bersalah padamu. Aku_"


Belum sempat Zaky menyelesaikan kalimatnya, Vania telah lebih dulu membungkam bibirnya. Vania menyerangnya buas. Lantas naik ke pangkuan Zaky. Vania semakin rakus menyerang Zaky. Zaky pun tak berdiam diri. Ia membalas setiap serangan Vania dengan sama rakusnya. Seakan keduanya tengah dilanda dahaga, haus yang teramat.


Keduanya semakin menggebu, menumpahkan kerinduan dan perasaan yang telah lama terpendam. Zaky membiarkan Vania yang memimpin permainan. Sebab Vania tak menyukai Zaky mengambil alih disaat ia sedang ingin.


Hingga akhirnya keduanya pun terengah-engah saat mencapai puncaknya. Masih dengan posisi Vania berada diatas pangkuan Zaky, Vania kembali menyesap bibir Zaky dengan lembut.


"Makasih. Kamu masih mau menerimaku." Ucap Zaky begitu Vania menyudahi ciumannya.


Vania lalu turun dari pangkuan Zaky. Membenahi pakaiannya yang berantakan. Dan kembali duduk di samping Zaky.


"Oh ya, aku sempat merekam Clarissa saat aku datang kemari untuk menemui mu." Ujar Vania sembari mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Merekam Clarissa?" Zaky membenarkan pakaiannya yang berantakan. Menautkan kembali kancing kemejanya yang terbuka.


Vania memperlihatkan video Clarissa yang ia rekam menggunakan ponselnya.


Saat itu Vania datang hendak menemui Zaky. Di basemen apartemen, Vania melihat Clarissa yang turun dari mobil dalam keadaan panik. Bahkan ketakutan.


Vania hendak menghampirinya, namun langkahnya terhenti sebab Clarissa meracau tak tentu. Hingga Vania memutuskan bersembunyi dibalik mobil lain yang terparkir. Dan mulai merekam Clarissa.


"Aku baru saja menabrak gadis kampungan itu. Apa dia mati? A_aku ... Aku sudah membunuhnya. Gadis kampungan itu pasti sudah mati. Aku sendiri yang menabraknya." Racau Clarissa tak tentu. Detik berikutnya, Clarissa kembali ke mobil dan memacu mobilnya keluar basemen apartemen.


Zaky pun sangat terkejut melihat video itu.


"Siapa gadis kampungan itu?" Tanya Vania penasaran.


"Tolong kirim video ini ke handphone ku. Sekarang."

__ADS_1


TBC


__ADS_2