Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 88


__ADS_3

Dua orang perawat sibuk mendorong brankar dengan langkah cepat menuju ruang operasi. Hadi dan Olivia mengikuti langkah perawat  itu sampai di depan ruang operasi.


Lampu pertanda operasi sedang berlangsung masih menyala terang. Hadi dan Olivia menunggu dengan cemas.


Akibat dikuasai amarah, Gina kalap dan lupa diri. Hingga ia berniat menembak Hadi di tempat saat itu. Clarissa yang menyadarinya, refleks langsung berlari ke arah Hadi. Dan menjadi tameng atas keganasan sebuah timah panas yang ditembakkan Gina.


Alhasil, Clarissa jatuh tak berdaya bersimbah darah. Gina menyesal, hampir saja dia menjadi gila melihat putrinya tak berdaya. Petugas kepolisian langsung menahannya dan membawanya, beserta komplotannya ke kantor polisi.


Sementara di depan ruang operasi rumah sakit terdekat, Hadi dan Olivia dilanda kecemasan yang sangat. Terlebih Hadi.


Meski Clarissa bukan putri kandungnya, ia tetap menyayangi Clarissa. Walau terkadang ia tak menampakkannya di depan Clarissa. Ia hanya terlanjur kecewa sedari awal, lantaran Gina yang membohonginya dan menutupi kebenaran darinya hingga bertahun-tahun lamanya.


Setelah beberapa jam menunggu, operasi pun telah selesai. Dokter yang menangani operasi keluar dari ruangan itu. Hadi langsung menghampiri.


"Dokter, bagaimana keadaan putri saya Dokter?" Tanya Hadi cemas luar biasa.


"Putri Bapak selamat. Masa kritisnya sudah lewat. Putri Bapak akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Silahkan besuk dia setelah dipindahkan nanti." Jawab dokter.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit dokter kemudian berlalu.


"Gimana keadaan Clarissa Di?" Tanya Olivia menghampiri Hadi dengan wajah cemas.


"Kata dokter, masa kritisnya sudah lewat. Dia akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Doakan agar dia cepat siuman ya?"


Olivia mengangguk. " Iya. Aku akan berdoa untuknya."


"Makasih Liv. Aku tau, ini sulit bagimu. Jika aku boleh meminta, tolong maafkan Clarissa. Clarissa menabrak Nadine karena dia cemburu. Kamu pasti tau kan, sebelumnya Clarissa pernah berhubungan dengan Axelle."


"Itu sudah berlalu. Aku sudah memaafkannya. Lagipula, putri kita sekarang baik-baik saja kan?"


"Makasih Liv."


Olivia mengulas senyumnya. Hadi membawa satu tangannya mengusap lembut lengan Olivia.


"Sekali lagi makasih Liv. Kamu masih sama seperti dulu. Murah hati dan pemaaf."


"Kamu bisa saja. Meski begitu, Clarissa juga putrimu. Dia yang mengisi hari-harimu bertahun-tahun lamanya. Dan lihat, apa yang dia lakukan untukmu. Dia rela berkorban nyawa untukmu. Walaupun dia tau, kamu bukan ayah kandungnya. Dia menyayangimu. Karena baginya, kamu adalah ayah terbaiknya."


Hadi tersentuh mendengar kebesaran hati Olivia. Diraihnya jemari Olivia ke dalam genggamannya. Lantas mengecup lembut punggung jemari lentik itu. Olivia pun tersipu malu jadinya.


"Jangan seperti ini. Aku malu dilihat orang." Ucap Olivia menarik tangannya dari genggaman Hadi.


"Kita ini kan suami istri. Kenapa harus malu?"


"Ya jelas malu. Yang pertama, ini di tempat umum. Yang kedua, malu sama usia kita. Yang ketiga, kita ini cuma mantan suami istri."


"Sebentar lagi kan bakal jadi pasangan suami istri. Dan itu sudah pasti."


Olivia menepuk halus lengan Hadi, saking malunya. Hadi hanya bisa tersenyum-senyum melihat tingkah malu-malu kucing mantan istrinya itu.


.


.


Di kamar VIP itu, Clarissa terbaring lemah di atas tempat tidur. Beruntung Clarissa cepat dilarikan ke rumah sakit, hingga Clarissa tidak kehilangan terlalu banyak darah.

__ADS_1


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Clarissa siuman. Hadi masih setia menemani Clarissa. Sedangkan Olivia, Hadi memintanya pulang untuk beristirahat di rumah.


"Clarissa ..." Panggil Hadi pelan.


Perlahan Clarissa membuka matanya. Ia mengerjap, menyesuaikan pandangan dengan pencahayaan dalam ruangan. Lalu menoleh perlahan. Menatap nanar Hadi yang duduk di sisi tempat tidur.


"Daddy ..." Panggil Clarissa lirih, hampir tak terdengar. Lantaran kondisi tubuhnya yang masih lemah.


"Syukurlah kamu sudah sadar. Daddy sangat mencemaskan kamu. Daddy bahkan sampai tidak bisa tidur karena memikirkan kamu." Ujar Hadi.


"Daddy ... Aku ada dimana?" Nada suara Clarissa terdengar lemah tak bertenaga. Membuat Hadi miris melihat keadaan putrinya itu.


"Kamu ada di rumah sakit. Kamu terkena tembakan. Dan kamu baru saja di operasi. Jadi kamu jangan banyak bergerak dulu. Kamu butuh banyak istirahat untuk pemulihan kondisi kamu."


"Mommy mana Dad?"


"Mommy ... Mommy kamu ..." Hadi tak tega mengatakan pada Clarissa tentang ibunya yang kini ditahan di kantor polisi. Dan tak lama lagi akan mendekam di penjara.


"Dad ... Mommy mana? Mommy tau aku di rumah sakit kan?"


"Clarissa, Mommy kamu ..." Hadi masih saja tak tega mengatakannya.


"Dad ... Aku tau apa yang terjadi. Mommy pasti saat ini sedang ditahan polisi. Tapi, apa boleh aku bertemu Mommy sebentar saja?" Pinta Clarissa lemah.


"Clarissa. Daddy minta maaf sama kamu. Daddy_"


"Daddy tidak perlu minta maaf. Aku ini putri Daddy. Aku rela kehilangan nyawaku demi Daddy. Karena bagiku, Daddy adalah ayahku." Clarissa mulai menitikkan air matanya. Mengingat kebersamaannya selama bertahun-tahun lamanya bersama Hadi. Yang sudah memberinya sosok seorang ayah. Meski Hadi tau, ia bukanlah putri kandungnya.


"Aku yang seharusnya minta maaf sama Daddy. Selama ini aku mungkin kurang berterima kasih. Daddy sudah menyayangiku dan menerimaku sebagai putri Daddy. Terimakasih karena Daddy sudah menjadi ayah yang baik untukku. Terimakasih karena Daddy sudah merawat dan membesarkan ku." Tambahnya, dengan rintikan air mata yang semakin deras.


"Jangan bicara seperti itu Clarissa. Kamu adalah putri Daddy. Kamu putri kesayangan Daddy." Ujar Hadi tak bisa menahan pilu dan haru disaat bersamaan melanda hati.


"Sudah, jangan bicara seperti itu lagi. Seperti apa pun kamu, kamu adalah putri Daddy." Hadi pun tak bisa membendung air matanya.


"Mommy ... Aku mau bertemu Mommy." Pinta Clarissa sekali lagi. Seakan ini adalah kesempatan terakhirnya untuk melihat ibunya.


Hadi tak bisa menolak permintaan Clarissa. Hadi akhirnya menghubungi pihak kepolisian dan meminta ijin agar mau mempertemukan Gina dengan Clarissa. Pihak kepolisian menyetujui.


Tak berapa lama, Gina datang dengan pengawalan ketat dua orang petugas kepolisian. Gina masuk ke ruang rawat Clarissa. Sedangkan petugas, menunggunya di depan pintu.


Melihat keadaan Clarissa terbaring lemah tak berdaya, Gina langsung menghambur memeluk putrinya. Dengan tangis pilu yang terdengar.


Sungguh Gina menyesal, sebab ia telah menjadi penyebab Clarissa seperti ini. Hampir saja putrinya meregang nyawa ditangannya sendiri. Jika itu terjadi, sungguh ia adalah seorang ibu yang sangat berdosa. Ia tak lebih dari seorang ibu yang jahat karena telah menyakiti putrinya sendiri.


"Maafkan Mommy sayang. Maafkan Mommy ..." Pinta Gina dalam isak tangisnya.


"Mom ... Aku minta maaf belum bisa jadi putri yang baik untuk Mommy." Ucap Clarissa lirih.


Gina melepas pelukannya. Isak tangisnya masih terdengar memenuhi ruangan itu. Lantaran penyesalan yang teramat dalam. Sementara Hadi menyaksikan.


"Tidak. Tidak sayang. Kamu selalu jadi putri terbaik Mommy. Kamu yang terbaik di dunia ini. Mommy minta maaf sudah mengecewakan kamu. Mommy belum bisa jadi Mommy yang terbaik untuk kamu. Maafkan Mommy ..." Raung Gina dalam tangisnya.


"Mom ... Jangan menangis seperti itu. Mommy jadi terlihat seperti anak kecil." Meski dalam keadaan lemah tak berdaya, Clarissa mencoba berkelakar. Untuk menutupi lara di hatinya.


Ia tahu, setelah ini ibunya akan menghabiskan hari-harinya di penjara. Sebab bukti yang ada, membuat ibunya tak bisa mengelak lagi.

__ADS_1


"Mom ... Jika aku pergi jauh nanti, jaga diri Mommy baik-baik ya?" Permintaan Clarissa yang terlontar begitu saja dari mulutnya. Entah kenapa, ia merasa seolah akan meninggalkan ibunya seorang diri.


"Kamu ini bicara apa? Kamu tidak akan pergi kemana-mana. Kamu akan tetap disini bersama Mommy. Menemani Mommy."


"Rasanya aku sudah tidak kuat lagi. Daddy ..." Clarissa menggulirkan pandangan pada Hadi.


Hadi semakin mendekat. Diraihnya jemari Clarissa kedalam genggamannya. Menatapnya penuh kasih dengan mata sembab.


"Aku mau bertemu Irene dan Axelle." Pinta Clarissa.


"Aku mau minta maaf pada mereka berdua. Aku sudah menyebabkan mereka kehilangan calon bayinya." Tambahnya.


Hadi mengangguk cepat. "Baik. Daddy akan meminta mereka datang kemari.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, Hadi segera menghubungi Irene dan Axelle.


.


.


Ceklek


Bunyi decitan pintu terbuka. Dari pintu itu, Axelle dan Irene melangkah lebar memasuki ruangan. Bergegas menghampiri Clarissa yang terbaring lemah.


"Clarissa ..." Panggil Irene menghampiri.


Clarissa menatap sendu. Entah mengapa, hati Irene justru pilu melihat Clarissa dalam keadaan seperti itu. Axelle dan Irene masih belum mengetahui apa yang terjadi.


"Ren ... Aku minta maaf sama kamu. Axelle ... Aku juga minta maaf sama kamu. Gara-gara aku kalian kehilangan calon buah hati kalian." Ucap Clarissa tulus.


"Kami sudah memaafkan kamu Clarissa. Mungkin memang, kami belum ditakdirkan untuk jadi seorang ayah dan ibu. Kami tidak menyalahkan kamu atas kejadian itu." Ujar Irene tulus.


Clarissa memaksa tersenyum meski lemah. Sementara Gina, masih menangis tersedu-sedu.


"Axelle ..."


Axelle mendekat. Clarissa mengulurkan tangan kanannya. Axelle pun meraihnya kedalam genggaman saat mendapat ijin dari Irene.


"Terima kasih sudah menjadi teman dalam hidupku selma tiga tahun. Maaf jika aku tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu. Irene lah yang bisa memberikan semua yang terbaik untukmu. Tolong jagalah dia baik-baik. Dia adalah adikku. Meski kami tidak sedarah." Ucap Clarissa teramat lirih.


Axelle mengangguk pelan, sembari mengulum senyum.


"Iya. Aku akan menjaganya dengan baik."


"Ren ..." Clarissa mengulurkan tangan kirinya.


Irene pun meraihnya. Clarissa lantas menyatukan jemari Axelle dan Irene sembari berkata ...


"Kalian memang pantas bahagia ..." Suara Clarissa makin melemah. Diikuti kelopak matanya yang perlahan mulai menutup. Hingga akhirnya, mata itu tertutup sempurna. Bersamaan dengan wajahnya yang berpaling perlahan.


"Clarissa ..." Panggil Irene saat Clarissa tak lagi berkata-kata.


Sontak Gina dan Hadi, bahkan Axelle panik.


"Clarissa ..." Pekik Gina sembari menggoyang tubuh Clarissa yang sudah tak berdaya. Bahkan mungkin tak bernyawa.

__ADS_1


"Clarissa ..." Gina semakin histeris.


TBC


__ADS_2