
Arlot menepati janjinya, pria itu tidak memberitahukan ke siapapun identitas tuan barunya. Karena Seva juga menginginkan hal tersebut, ia tetap menggunakan nama Ven agar tidak ada yang membuat masalah dengannya di kota Original.
ke esokan harinya....
Luci baru keluar dari kamar mandi setelah ia membersihkan diri. Wanita itu memakai pakaian seadanya karena memang di sana tidak ada pakaian wanita.
"Seva, apa rencana kita selanjutnya?" tanya wanita itu sambil mengenakan pakaiannya.
Seva yang baru bangun dari tidurnya dan masih duduk di ranjang, ia menjawab. "Untuk sementara waktu kita pahami saja kota ini terlebih dahulu, aku juga butuh informasi dari Arlot agar tidak buta dengan kota ini."
Luci mengangguk setuju, karena menurutnya itu juga salah satu cara untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.
Seva beranjak dari duduknya, ia pergi ke kamar mandi sebelum pergi keluar menemui Arlot.
...***...
Seva dan Luci keluar dari kamar menggunakan topeng seperti biasanya, agar tidak ada yang mencurigainya sama sekali.
Mereka berdua ketempat Arlot berada, terlihat bawahannya itu sedang mengatur orang-orangnya yang akan melakukan transaksi.
"Tuan!" sapa Arlot dengan sopan ketika melihat Seva dan Luci.
"Aku mau bicara denganmu," ucap Seva.
Arlot mengangguk mengerti, ia membawa Seva ke ruang pertemuan, dimana tidak ada bawahan kelompok Venom yang berani masuk ke sana.
Bawahan Seva itu mempersilahkan Seva duduk di kursi pemimpin, sementara Luci duduk di sebelahnya dan Arlot tetap berdiri.
"Kenapa kamu berdiri? Duduklah!" perintah Seva sambil melepaskan topengnya.
Arlot bingung, karena biasanya ia tidak diperbolehkan duduk oleh Ven, tapi sekarang Seva dengan baiknya menyuruh ia duduk. Namun, ia dengan sopan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Arlot, ceritakan padaku semua tentang Kota ini dan siapa saja yang harus di waspadai," ucap Seva setelah bawahannya itu duduk.
Arlot mengangguk. "Tuan, di kota Original terdapat banyak kelompok Mafia, akan tetapi hanya ada tiga kelompok yang sangat di segani. Pertama Darkness, yang di pimpin Drake, wilayahnya separuh dari kota ini, kita tidak boleh bertransaksi di wilayahnya jika tidak mendapatkan ijin darinya.
"Kedua Venom, kelompok kita yang notabenya menguasai seperempat wilayah kota Original, peraturannya sama saja dengan Darkness dan yang ketiga Hercules yang di pimpin Helen, mereka sering membuat masalah dengan kita, karena Helen tidak pernah mengakui kalau Ven itu seorang Mafia, mengingat dia yang cacat," ungkap Arlot.
__ADS_1
"Tunggu dulu, jadi kita bermusuhan dengan kelompok Hercules?" tanya Seva memastikan.
"Tidak juga tuan, hanya saja Helen selalu saja mengolok-olok Ven dan anda bisa tahu sendiri kalau kami tentu tidak terima jika pemimpin kami di olok-olok, karena itulah di perbatasan wilayah kita sering terjadi bentrokan karena hal sepele," jawab Arlot tidak berdaya.
Seva mengangguk mengerti, pada dasarnya seorang bawahan pasti akan memuja pemimpinnya entah itu pemimpin mereka baik atupun buruk.
"Siapa saja yang tahu wajah Ven di sini?" tanya Seva melanjutkan.
"Hanya saya dan Helen saja tuan, Drake juga tidak pernah melihat wajah Ven, karena ia tidak perduli sama sekali dengannya," jawab Arlot lagi.
Seva tersenyum penuh arti, ia memiliki ide untuk menaklukkan kelompok Hercules yang notabenya kekuatan mereka kemungkinan setara.
Luci yang melihat Seva tersenyum, ia mengernyitkan dahi. Wanita itu semakin yakin kalau Seva semakin berubah setelah keluar dari kelompok Gangster Ghost.
"Arlot, kau bisa belikan Luci pakaian? Di sini tidak ada pakaian wanita," keluh Seva.
"Tuan, kalau mau kita pergi keluar saja, lagi pula tidak ada yang tahu tentang anda di sini," usul Arlot.
"Loh, bukannya itu akan bahaya?" tanya Seva menyelidik.
"Ide bagus itu Seva, aku juga pengen belanja," rengek Luci manja.
Seva menghela napas. "Kamu ini yah, ya sudah kamu siapkan semuanya Arlot!" perintahnya langsung.
"Baik tuan!" Arlot langsung menyiapkan mobil.
...***...
Seva dan Luci naik mobil masih menggunakan topeng, setelah masuk kedalam mobil mereka membuka topengnya.
Arlot yang menyetir untuk mereka berdua membawanya ke pusat perbelanjaan Wilayah Mafia Venom.
Tidak ada pengawalan sama sekali, karena Seva meminta ke Arlot agar mereka pergi bertiga saja.
Mobil pun jalan meninggalkan Mansion Ven, dengan Seva dan Luci yang terlihat cukup senang bisa hidup di Kota yang penuh kebebasan tersebut.
Sepanjang perjalanan mereka terkagum-kagum dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi dan suasana kota juga begitu ramai.
__ADS_1
Walaupun kota Original terkenal dengan sarang mafia, tapi warga yang tinggal di sana juga terlihat biasa, mereka melakukan aktifitas seperti orang-orang pada umumnya.
[ Tuan, anda hari ini belum mengocok Dadu, apakah anda akan mengocoknya?]
Sistem tiba-tiba memberikan pemberitahuan dengan layar hologram yang seperti biasanya muncul dihadapan Seva.
Seva mengiyakan dalam hati, seketika gambar layar berubah menjadi Dadu yang di lemparkan kemudian berhenti.
[ Zonk! Maaf anda kurang beruntung! ]
"Hah!" Seva berteriak sambil melebarkan rahangnya, tentu saja ia terkejut karena Sistem bisa Zonk juga.
Luci seketika langsung bertanya. "Kamu kenapa, Seva?"
Arlot juga menoleh ke belakang, karena penasaran kenapa tuan barunya tiba-tiba berteriak.
"Eh... aku tidak apa-apa, tadi melihat gedung tinggi itu aku jadi kaget," jawabnya sambil nyengir kuda.
"Is... apaan sih kamu, bikin malu saja!" hardik Luci berbisik.
"Hehehe... ya maaf," jawab Seva tidak berdaya.
Luci menghela napas tidak berdaya, mau bagaimanapun ia tahu kalau Seva memang belum pernah pergi kemanapun jadi wajar saja kalau pria yang sekarang sudah menjadi pujaan hatinya itu pasti terpana ketika melihat sesuatu yang baru di lihatnya.
Luci pikir seperti itu, padahal sosok Seva yang sekarang kurang lebih tidak akan kaget atau pun takut dengan apa pun, karena mentalnya sudah berevolusi.
Seva mengepalkan tangannya. "Sistem brengsek! Aku kira bisa terus mendapatkan hadiah setiap hari, eh taunya ada acara Zonk segala!" gerutunya dalam hati.
Wajar saja kalau Seva menggerutu, karena sumber kekuatannya berasal dari Sistem, jika ia tidak memberinya hadiah tentu harapannya sedikit sirna.
Mobil mereka pun sampai di pusat perbelanjaan wilayah Mafia Venom yang dekat dengan perbatasan Mafia Hercules.
Luci dengan semangat turun dari mobil, di ikuti Seva dan Arlot. Mereka bertiga langsung masuk kedalam pusat perbelanjaan tersebut.
Orang-orang yang mengenal Arlot, mereka semua menyapa dengan sopan, karena mau bagaimanapun pria tersebut merupakan orang nomor dua di wilayah Mafia Venom.
Seva dan Luci tersenyum getir, mereka yang menjadi pemimpin malah tidak dikenali sama sekali dan malah Arlot yang di puja-puji. Namun, Seva tidak merasa iri sama sekali, dengan begitu ia bisa bertindak leluasa.
__ADS_1