
Seva benar-benar geram pada orang yang melemparkan granat. Namun, saat ia akan mengejar teringat dengan bawahannya yang masih berperang.
Pria itu mengepalkan tangannya lalu kembali ke medan perang untuk membantu Arlot dan yang lainnya.
Gyuri juga sudah sampai di sana, pria itu ikut melawan para bawahan Martin dengan kecepatan dan tinju besinya.
Drrtt
Drttt
Suara sahut-sahutan senapan sergap masih terdengar dari berbagai arah. Seva fokus mencari pemimpin kelompok penyerang tersebut.
"Tuan, arah jam dua!" teriak Gyuri yang sedang menghajar beberapa orang.
Seva seketika menoleh ke arah Jam dua, terlihat seseorang yang sedang membawa senapan mesin menembaki bawahannya.
"Brengsek!" geram Seva melesat ke arah orang tersebut dengan sangat cepat.
Swuzz
Pral
Brug
Orang pembawa senapan mesin tumbang seketika saat Seva menebas lehernya hingga terputus.
Boomm
Seva terpelanting ketika sebuah granat meledak didekatnya, pria itu berlumuran darah. Akan tetapi tubuhnya yang memiliki kemampuan regenerasi langsung menutup luka-luka tersebut.
"Cih!" Seva meludahkan darah yang keluar dari mulutnya, ia bergegas berdiri kembali lalu melesat ke arah orang-orang yang masih tidak mau menyerah.
Slas
Slas
__ADS_1
Gerakan Seva yang teramat cepat tidak dapat dilihat orang-orang Martin, pasalnya mereka tidak memiliki kemampuan bertarung jarak dekat.
Argh!
Argh!
Jeritan demi jeritan sebelum kematian terdengar bersamaan dengan suara bunyi tembakan yang terus bersahut-sahutan.
Seva merasa ada yang aneh, serangan musuh seolah tidak ada habisnya sama sekali, padahal sudah banyak sekali ia membunuh mereka.
Gyuri mendekat ke arah Seva. "Tuan, sepertinya mereka bukanlah bawahan Martin," ucapnya yakin.
"Lalu siapa mereka? Bukankah di sini hanya ada Martin yang memiliki basis kelompok besar?" tanyanya sambil bertarung.
"Saya juga tidak tahu tuan," jawab Gyuri singkat.
Seva menghela napas, ia kembali menyerang mereka semua dengan sangat cepat, hingga akhirnya serangan itu perlahan reda. Karena sudah banyak sekali orang-orang yang terbunuh.
Seva melihat orang-orang yang tersisa melarikan diri, pria itu menyuruh bawahannya untuk membiarkan mereka, pasalnya ia tahu kalau mereka sudah kelelahan setelah seharian melawan kelompok pasukan tersebut.
Seva menganggukkan kepalanya. "Kamu benar, kita perlu kekuatan tambahan, tampaknya bukan cuma aku yang menginginkan Southland."
"Alangkah baiknya kita cepat menaklukan Martin kalau seperti ini tuan," Gyuri berkata.
"Besok, aku akan pergi ke Markas pusat bersama dengan Roni, kalian tetap waspada di sini, takutnya ada serangan lagi," perintahnya tegas.
"Baik tuan," jawab Arlot dan Gyuri bersamaan.
Mereka kembali ke markas, tempat tersebut terlihat seperti kapal pecah akibat terkena tembakan demi tembakan, ada beberapa mayat juga yang bergeletakan didalam.
Seva menyuruh Arlot untuk membersihkan tempat tersebut, ia lalu naik ke atas. Sesampainya di atas Seva mengernyitkan dahi ketika melihat Helen dan ketiga wanita yang ada di sana semuanya dalam keadaan terikat dengan mulut dilakban.
"Emm ... emm ..." tampak Helen dan Luci seperti mau bicara, mereka memelototi Seva.
Seva mendekati mereka untuk menyelamatkan mereka semua. Namun, tiba-tiba terdengar suara tembakan hingga menembus kepala Seva.
__ADS_1
Dor!
Brug!
Seva tersungkur di lantai, ke empat wanita tersebut seketika menitihkan air mata sambil berusaha berteriak.
"Hahaha ... kamu ini sangat bodoh Seva Adelray, terlalu percaya dengan orang sekitarmu bukanlah hal yang baik untuk seorang pemimpin mafia," ucap Bartender yang ternyata seorang mata-mata.
Sosok pria paruh baya itu mendekat ke empat wanita Seva. Pria itu tersenyum. "Aku sudah muak mendengar ******* kalian berdua setiap bajingan ini ada di sini, ucapkan selamat tinggal pada dunia ini ******!"
Pria paruh baya itu menyeringai sambil menodongkan senjatanya ke arah Luci terlebih dahulu.
Luci menutup matanya sambil berlinangan air mata, wanita itu terus berdoa dalam hati agar Seva baik-baik saja. Ia sangat yakin kalau Seva tidak bisa di bunuh begitu saja.
Pral
Buk
Mata Bartender membelalak saat tangannya terpotong jatuh ke lantai bersama dengan pistolnya.
Argh!
Teriak pria itu setelah melihat tangannya jatuh bersimbah darah. Ia langsung memegangi tangannya yang terputus.
Luci seketika membuka matanya saat mendengar teriakan Bartender. Wanita melihat Seva yang kembali berdiri dihadapan mereka dengan memegang pedangnya.
"Ba-Bagaimana mungkin?" tanya Bartender tidak percaya.
Seva menghela napas. "Kamu pikir bisa membunuhku dengan cara seperti itu?"
Seva mengeluarkan sebuah peluru dari genggamannya lalu menjatuhkannya di lantai.
Bartender menggelengkan kepalanya tidak percaya, jelas-jelas ia melihat kalau Seva sudah terkena tembakannya tepat di kepala.
Helen yang sedari tadi memperhatikan hal tersebut juga merasa ada yang aneh dengan Seva. Karena ia juga melihat sendiri kalau tadi kepala Seva berlubang, tapi sekarang lubang itu sudah hilang seketika.
__ADS_1