System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Tindakan Tidak Terduga


__ADS_3

Luci tampak bersemangat ketika melihat berbagai pakaian bagus yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Naluri wanitanya langsung timbul, ia memilih berbagai pakaian di sebuah toko.


Arlot dan Seva menghela napas, mereka berdua lebih memilih menunggu ditempat yang sudah di sediakan.


"Tuan, sebenarnya kenapa anda melarikan diri dari kota Vox?" tanya Arlot sopan.


"Tidak ada alasan kusus, hanya saja tempat itu menjadi kenangan buruk ku," jawabnya santai.


"Kenangan buruk? Orang sekuat anda memiliki kenangan buruk di tempat para Gangster rendahan itu?" tanya Arlot lagi tidak percaya.


Seva menghela napas, ia menyenderkan tubuhnya kemudian buka suara. "Banyak hal yang ingin aku lakukan, tapi jika di sana terus aku tidak akan berkembang, karena aku berniat merubah tatanan dunia bawah."


Arlot terkesiap dengan perkataan Seva. "Tuan, apa maksud anda dengan merubah tatanan dunia gelap?"


Seva menatap Arlot sambil tersenyum simpul. "Aku berencana menjadi penguasa dunia gelap di seluruh Dunia dan merubah pandangan mereka agar tidak menindas kaum lemah!"


Arlot tercengang dengan pernyataan Seva, pria itu menatap lekat-lekat wajah Seva, tidak ada keraguan sama sekali dari sorot matanya.


Mungkin jika yang mengatakan itu bukan Seva Arlot tidak akan percaya. Namun, mengingat perkelahiannya kemarin ketika Seva menguasai beberapa teknik seni Beladiri Kuno, pria itu sangat yakin kalau Seva masih memiliki kekuatan tersembunyi.


"Seva, aku sudah selesai, mana Black Card kamu," Arlot mau bertanya lagi, akan tetapi Luci datang sambil menengadahkan tangannya.


"Pakai punyaku saja Nona," Arlot memberikan Black Card miliknya.


"Tidak, aku tidak mau dibelanjakan oleh kamu!" tolak Luci ketus.


"Eh...." Arlot bingung dengan tolakan Luci, padahal niatnya ingin berbuat baik kepada tuannya.


Seva tersenyum sambil mengeluarkan Black Card nya lalu memberikannya kepada Luci sambil menepuk bahu Arlot.


Lagi-lagi bawahan baru Seva itu terkejut, karena tuannya juga memiliki Black Card yang artinya pria dihadapannya itu bukanlah pria miskin.


Pikiran Arlot langsung kemana-mana, memiiki kekayaan, bisa menggunakan teknik seni beladiri kuno, jelas itu semua menambah nilai lebih pandangan Arlot ke Seva.


Siapa sebenarnya pria di hadapanku ini? Kenapa semakin aku mengenalnya, semakin banyak juga keanehan yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya? Astaga... jangan-jangan beliau sebenarnya dari organisasi tersembunyi?!


Dalam hati Arlot benar-benar menduga jauh, pria itu sampai menelan ludah ketika pikirannya sampai pada satu kesimpulan kalau Seva itu dari organisasi tersembunyi, pasalnya ia memiliki dua kriteria yang seharusnya di miliki organisasi tersebut.


"Kamu tahu, dia wanita pertama yang benar-benar mengakui aku, padahal dia melihat aku bukanlah siapa-siapa, karena itulah aku membawanya kemari," celetuk Seva tiba-tiba.

__ADS_1


Arlot seketika wajahnya memucat ketika Seva berbicara seperti itu, ia salah paham mengira kalau pria di hadapannya tersebut sengaja menyembunyikan identitasnya agar wanita tidak ada yang suka padanya dan akhirnya datanglah Luci yang menyukainya tanpa identitas asli.


"Tuan, apakah Nona Luci sangat berharga untuk anda?" tanya Arlot dengan suara sedikit bergetar.


"Entahlah, yang pasti dia wanita pertama yang bisa membuatku luluh," jawabnya semakin membuat Arlot ambigu.


Arlot tanpa sengaja terkena sugesti perkataan dari Seva, karena pemikirannya yang terlalu berlebihan, semakin Seva berbicara jauh semakin jauh juga pemikiran pria tersebut.


"Hooh... kebetulan sekali kita bertemu di sini, Arlot!" terdengar suara seorang wanita menegur Arlot.


Reflek Arlot dan Seva menoleh ke belakang, seketika Arlot membelalakkan mata lebar ketika melihat wanita tersebut.


"Helen! Kenapa kau ada disini!?" hardiknya sambil berdiri.


"Cih, kenapa memangnya? Apa kau tidak terima?" tantang wanita itu sambil menyeringai.


Arlot mengepalkan tangannya, tampak pria itu tidak berani melawan Helen, entah karena apa yang pasti Seva melihat bawahannya itu tampak menahan diri.


Helen melihat pria yang tadi duduk dengan Arlot, dia tersenyum simpul melihat wajah tampan dan tubuh kekar Seva.


"Hei tampan... goda aku dong," ucap Helen ke Seva sambil menaik turunkan alisnya.


"Siapa dia Arlot?" tanya Seva datar.


Arlot tersenyum getir, padahal ia tidak ingin Seva bertemu dengan Helen, tapi siapa yang menyangka kalau wanita itu akan muncul di sana.


Arlot berbisik ke Seva. "Tuan, dia pemimpin Mafia Hercules, jangan buat masalah dengan wanita licik itu."


"Apa! Jadi dia wanita?!" Seva berteriak kaget.


Arlot menghela napas berat, sudah sulit jika sampai Helen semakin tertarik dengan Seva, apa lagi reaksi tuannya itu sangat berlebihan.


Helen mengerutkan keningnya ketika Seva berteriak, ia melihat tingkah Arlot juga tampak menghormati pria tersebut.


"Helen, lebih baik kamu jangan ganggu kami, pergilah dari sini," ucap Arlot dingin.


"Cih, cecunguk seperti mu berani sekali memerintah Nona Helen!" hardik tangan kanan Helen.


"Tomas, lebih baik kau diam saja!" Arlot balas menghardik tangan kanan Helen.

__ADS_1


"Berani k...."


Tomas seketika terdiam ketika tiba-tiba Seva mencekik lehernya. Pergerakan pria itu tidak terlihat sama sekali.


Helen terkejut dengan gerakan Seva, karena ia juga tidak melihat sama sekali bagaimana Seva bergerak, sementara Arlot menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia yakin masalah tersebut akan semakin melebar.


"Ini wilayah kami, sudah sewajarnya kami bebas mengusir siapapun yang bertingkah sok kuat!" ucap Seva dengan suara dingin.


Tomas mencoba melepaskan Seva, akan tetapi cengkraman tangan pria itu semakin kuat saja.


Helen tersenyum simpul, ia merangkul Seva dari belakang. "Maafkan bawahanku tuan, maukah anda melepaskannya, kami janji akan pergi dari sini," ucapnya lembut ditelinga Seva.


"Menyingkir lah dari priaku ******!" tiba-tiba terdengar suara Luci yang membentak Helen.


Semuanya menoleh ke Luci, wanita itu tampak kesal sambil membawa banyak barang belanjaan di tangannya.


Swuzz


Helen bergerak sangat cepat akan menampar Luci. Namun, Seva menyadarinya, ia mel pasukan Tomas dan menangkap tangan Helen dan mencengkramnya dengan erat.


"Berani kau menyentuhnya, ku bunuh!" hardiknya dengan suara dingin.


Helen merasa tangannya sangat sakit, akan tetapi wanita itu mencoba untuk tetap tenang. Ia tahu kalau pria dihadapannya itu bukanlah orang sembarangan.


"Sayang sekali, padahal aku akan menjadikan kamu sebagai priaku, apakah kamu tidak mau satu ranjang deng...."


Swuzz


Duak


Argh!


Helen terkesiap, wanita itu meraung kesakitan ketika Seva membantingnya ke lantai tanpa aba-aba sama sekali.


Tangan Helen patah karena Seva tidak berniat untuk main-main sama sekali, baginya yang mengusik dirinya maka orang tersebut harus diberikan pelajaran.


Arlot melebarkan rahangnya, begitu juga dengan Tomas, karena tuannya dihajar begitu saja oleh Seva tanpa memandang ia wanita sama sekali.


Sementara Luci tersenyum simpul, menurutnya tindakan Seva sangatlah jantan, karena menghajar wanita yang menyakitinya dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2