System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Mulai Berbisnis


__ADS_3

Saat Seva sedang tertegun kecewa karena tidak dapat mendapatkan hadiah uang, tiba-tiba saja tubuhnya serasa di robek-robek.


"Eh... Arghh!" Seva berteriak histeris didalam kamar mandi.


Sel dalam tubuhnya berubah sedemikian rupa agar kemampuan regenerasi dalam tubuhnya berfungsi. Walaupun Seva sudah memiliki kemampuan regenerasi, akan tetapi itu semua hanya bentuk perlindungan sistem kepada inangnya.


Sekarang yang Seva dapatkan benar-benar kemampuan regenerasi untuk tubuhnya sendiri bukan perlindungan dari sistem dan juga regenerasi tersebut mampu memperbaiki seluruh tubuh Seva jika tubuhnya tidak hancur sepenuhnya.


Argh!


Seva masih berteriak-teriak histeris, karena perubahan sel-sel dalam tubuhnya sangatlah menyakitkan.


Luci yang sedang ada didalam kamar tentu saja mendengarnya, wanita itu bergegas ke kamar mandi.


"Sayang kamu kenapa? Buka pintunya!" teriak Luci sambil menggedor pintu kamar mandi.


Argh!


Seva kembali berteriak lagi, Luci semakin khawatir dengan Seva. Wanita itu berusaha untuk mendobrak pintu kamar mandi.


Perlahan tapi pasti evolusi Sel Seva berhasil, pria itu mulai tidak berteriak lagi, ia merasakan kalau rasa sakit itu sudah menghilang.


"Setiap dapat kemampuan selalu saja begini," gerutunya sambil beranjak dari lantai dengan napas yang masih tersengal-sengal.


[ Kemampuan Regenerasi berhasil terpasang!]


[ Status]


Nama : Seva Adelray


Umur : 24 tahun


Tinggi: 176 cm


Berat : 66 Kg


Kemampuan : menggunakan senjata Api berbagai jenis / Beladiri Kuno / Fisik Kuat / Ahli Medis / Regenerasi/


Saldo : 9.999.000 dolar.


Bruak

__ADS_1


Duak


"Aduh!" Seva terjungkal ke belakang ketika pintu yang di dobrak Luci mengenai kepalanya.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Luci menghampiri Seva dengan cemas.


"Tidak apa-apa gimana, ini kepalaku benjol," jawabnya sambil mengusap-usap kepalanya.


"Eh...." Luci sadar itu karena dirinya yang mendobrak pintu.


Luci tersenyum getir, ternyata Seva tidak apa-apa, padahal tadi ia sudah sangat khawatir karena prianya itu berteriak-teriak histeris.


"Maaf, aku tadi mendengar kamu berteriak jadi aku dobrak pintunya, kamu kenapa sih tadi berteriak-teriak?" tanya Luci memastikan.


Seva tersentak dengan pertanyaan Luci, ia menghela napas tidak berdaya. "Sebenarnya... uang aku gak ada seratus juta dolar."


"Astaga! Kamu berteriak histeris hanya karena memikirkan itu?" tanya wanita itu tidak percaya.


"Ckk, mau gimana lagi, aku bingung mau cari uang dimana," jawabnya sambil berdecak kesal.


Luci menghela napas. "Sayang, uang kamu sebagai pemimpin seluruh Mafia di kota Original sangatlah banyak, kamu hanya tinggal minta ke Arlot atau Helen, mereka yang memegang keuangan kamu sekarang," jawabnya menenangkan.


"Eh... benarkah?" tanya Pria itu polos sambil mendongak menatap Luci.


Luci beranjak dari sana dan pergi keluar kamar mandi meninggalkan Seva yang tertegun seperti orang bodoh saja.


Wanita itu menutup kamar mandi, agar Seva cepat membersihkan dirinya, setelah drama tidak jelas barusan.


...***...


Seva sudah membersihkan diri, ia turun ke bawah bersama dengan Luci setelah mengenakan pakaian.


"Maaf membuat kalian lama menunggu," ucap Seva saat sampai di ruang tamu.


Pak tua Hans dan seorang pria paruh baya yang bersamanya langsung berdiri dan membungkuk hormat kepada Seva.


"Salam tuan Adelray, kami tidak keberatan menunggu lama juga," jawab Pak tua Hans sopan


Seva tersenyum. "Silahkan duduk kembali," ucapnya sambil duduk di samping Helen, di ikuti Luci yang duduk disebelahnya.


Pak tua Hans dan anaknya mengangguk, mereka berdua duduk, tampak wajah tegang dari keduanya, karena mereka seorang pebisnis murni, jelas saja takut usaha mereka di cabut dari kota Original.

__ADS_1


"Aku dengar kalian salah satu pebisnis yang cukup kompeten di kota ini...."


"Tuan Adelray, kami akan memberikan apa pun pada anda, tapi tolong jangan cabut ijin usaha kami, kami janji akan memberikan keuntungan besar untuk anda," Pak tua Hans yang mengira kalau Seva akan mencabut usahanya, ia langsung memotong ucapannya agar bisa bernegosiasi dengan pemimpin baru Kota Original.


"Benar tuan, kami berdua mewakili keluarga Hans berjanji akan memberikan keuntungan lebih besar dari pemberian kami sebelumnya kepada pemimpin Kota Original," timpal Raimon Hans, anak pertama Pak tua Hans.


Sean menoleh menatap kedua wanitanya, mereka berdua menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, pasalnya karena status Seva pemimpin kelompok Mafia, jadi jelas saja seorang pebisnis seperti keluarga Hans akan ketakutan.


Seva menghela napas. "Berapa memangnya kalian memberikan keuntungan terhadap Drake?" tanya Seva memastikan.


"Kami memberikan 20% keuntungan bersih kami, tapi untuk anda kami akan memberikan 40% keuntungan bersih kami, tolong jangan cabut ijin usaha kami tuan Adelray," ucapnya sambil menundukkan kepala.


"Pak tua Hans, sepertinya anda salah paham dengannya, Beliau memanggil kalian kemari bukan akan meminta keuntungan pada kalian, benarkan sayang?" Helen buka suara.


Pak tua Hans dan anaknya saling menatap, mereka berdua tidak tahu apa maksud dari perkataan Helen.


Seva tersenyum simpul. "Pak tua Hans, aku senang kalian menawarkan aku keuntungan yang begitu besar, tapi aku tidak memerlukan itu, yang aku inginkan kalian bantu perusahaan ku agar bisa berkembang, jika kalian bisa melakukannya, kalian tidak perlu memberikanku uang seperti itu, bagaimana?"


"Tuan Adelray, anda serius?" tanya Pak tua Hans tidak percaya.


"Aku tidak pernah bercanda jika menyangkut bisnis, hari ini perusahaan ku sudah mulai berdiri, jika kalian bisa mengembangkannya, bukan hanya kalian tidak akan membayarkan keuntungan kalian seperti pemimpin sebelumnya, tapi aku pastikan perusahaan tersebut akan di kelola keluarga kalian, aku hanya akan duduk di belakang layar saja," jawab Seva yakin.


"Kami mau tuan, saya akan melakukannya!" jawab Pak tua Hans tanpa berpikir panjang.


"Bagus, mulai sekarang kita mulai bekerjasama," ucap Seva sambil mengulurkan tangannya.


Pak tua Hans menyambut uluran tangan Seva dengan senang hati, dengan begitu kini Seva memiliki Partner sekaligus penopang perusahaannya, ia tidak perlu berpikir banyak hal untuk memajukan perusahaan tersebut.


Semua itu sebenarnya sudah di rencanakan oleh Luci, karena Seva yang belum tahu mengenai perihal masalah bisnis, ia mengajari Seva mengatakan hal tersebut ketika akan turun menemui Pak tua Hans.


Setelah berbincang-bincang sebentar membahas masalah perusahaan Seva yang akan dibawa kemana nantinya, Pak tuan Hans dan anaknya pamit undur diri. Seva mengantarnya sampai didepan Mansion untuk membuat mereka semakin percaya dengannya.


"Akhirnya mereka pulang juga," Seva bernapas lega setelah Pak tua Hans dan anaknya pulang.


"Hihihi... Bagaimana rasanya memulai berbisnis?" tanya Luci sambil terkikik geli.


"Yah, walaupun aku masih bingung, tapi setidaknya sekarang jalan yang akan aku tempuh memiliki titik terang," jawabnya santai.


"Jangan ragu untuk bertanya dengan kami, karena kami berdua akan selalu ada buat kamu," ucap Helen sambil tersenyum.


Seva mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih, sepertinya kalian berdua memang wanita yang tepat untuk menemani hidupku," ucapnya sambil merangkul pinggang kedua wanita tersebut.

__ADS_1


Luci dan Helen tersenyum simpul, mereka berdua juga merasa senang karena bisa berguna untuk Seva, setidaknya ada harapan bisa terus bersama pria itu.


__ADS_2