System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Bawahan Kuat Baru


__ADS_3

Peluru tersebut melesat sangat cepat ke arah Seva. Namun, di mata Seva peluru itu sangat lambat.


Seva menahan peluru itu menggunakan pedangnya, gerakan dia biasa saja, akan tetapi terlihat sangat cepat jika dari mata orang lain.


Trang


Peluru itu mengenai pedang Seva dan jatuh ke lantai. Sontak saja Roni terkejut, tapi ia tidak diam begitu saja langsung mengincar Seva kembali.


Roni tercengang ketika Seva tiba-tiba menghilang dari tempatnya.


"Brengsek, kemana perginya orang tadi!" gerutu Roni mencari Seva dari berbagai arah.


Argh!


Argh!


Tiba-tiba terdengar jeritan para bawahannya, pria itu langsung menoleh, matanya membelalak lebar saat melihat para bawahannya tiba-tiba tersayat oleh sesuatu dan tewas seketika.


Kejadian tersebut terus berlanjut, hingga bawahnnya yang berjumlah dua puluh orang itu semuanya tewas oleh Seva.


Roni tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia tahu kalau dirinya juga sedang dalam bahaya, karena pergerakan lawannya sangatlah cepat.


"Bergabunglah denganku, maka akan ku ampuni kamu," ucap Seva yang tiba-tiba ada dibelakang Roni.


Reflek Roni langsung m noleh ke belakang, terlihat pria yang memegang pedang sedang tersenyum ke arahnya.


Pedangnya berlumuran darah, akan tetapi tidak ada darah yang menempel di pakaian Seva sedikit pun.


Roni menodongkan senjata ke arah Seva. "Jangan bercanda! Aku tidak mungkin mau menjadi bawahanmu!"


Seva hanya menghela napas, ia memasukkan pedangnya dalam penyimpanan dimensi sengaja didepan mata Roni langsung, membuat pria tersebut terkejut karena tiba-tiba pedang itu menghilang ditelan sesuatu.


Dor!


Roni menembak kepala Seva tepat mengenai mata kirinya, tapi Seva tidak tumbang begitu saja.


"Percuma saja, kamu tidak akan bisa membunuhku," ucap Seva dengan peluru yang keluar dari matanya, lalu matanya kembali beregenerasi.


Roni jelas saja terkejut dengan apa yang di lihatnya. "Ba-Bagaimana mungkin?" gumamnya tidak percaya.

__ADS_1


Roni menelan ludah, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, karena ia baru kali ini melihat orang yang tidak bisa di bunuh, apa lagi bisa beregenerasi.


Seva sengaja memperlihatkan itu semua kepada Roni, agar pria itu tahu kekuatannya dan percaya padanya untuk menjadi bawahannya.


Dor!


Dor!


Roni menembaki Seva beberapa kali, akan tetapi kali ini Seva tidak menerima tembakan tersebut, ia menghindari serangan itu dengan sangat cepat.


Tangan Seva meraih kepala Roni dan langsung mendorongnya ke tanah dengan sangat keras.


Brug


Argh!


Roni tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba Seva sudah mencekal kepalanya, membuat pria tersebut terkejut dan menjerit kesakitan.


Seva jongkok didepannya. "Aku beri kamu satu kesempatan lagi untuk menjawab, mau ikut denganku, atau mau ku bunuh kau di sini?" tanyanya sambil tersenyum.


Melihat senyum Seva, ia menelan ludah, hatinya bergejolak, rasa takutnya mengalahkan segalanya.


"A-pa tu-tujuan kamu sebenarnya?" tanya Roni gugup karena ketakutan.


"Sederhana, aku hanya ingin membunuh Martis dan menjadi penguasa South Land yang baru," jawabnya santai.


Roni terkesiap dengan perkataan Seva, walaupun ia sudah menjadi tangan kanan Martis sangat lama, tapi ia baru melihat sosok Mafia seperti Seva yang memiliki kemampuan di atas manusia biasa.


"Oh iya, aku baru memperlihatkan kemampuan regenerasi ku ke kamu, jika kamu mau menjadi bawahanku, jagalah rahasia ini," lanjutnya lagi sambil tersenyum simpul.


Roni semakin terkejut mendengar kemampuan regenerasi, mengingat ia pernah mendengar kemampuan tersebut tapi hanya di televisi ataupun cerita fiksi.


Perlahan pria itu beranjak dari terlentang, ia langsung bertekuk lutut dihadapan Seva. "Tuan, saya mau menjadi bawahan anda, asalkan saya diberikan kesempatan untuk membunuh Martis dengan tanganku sendiri," ucapnya penuh dengan tekad.


Seva tersenyum simpul, ia beranjak dari jongkoknya. "Oke, aku akan menyerahkannya ke kamu jika dia sudah sekarat," jawabnya santai.


"Terima kasih tuan!" ucapnya lugas.


Seva mengajak Roni ke markas, Levi dan yang lainnya menodongkan senjata ke arah Roni, karena mau bagaimanapun beberapa saat yang lalu, pria itu musuh mereka semua.

__ADS_1


"Turunkan senjata kalian, mulai hari ini dia rekan kita!" perintah Seva tegas.


Seketika semua bawahan Seva menurunkan senjatanya, mereka semua tentu bertanya-tanya kenapa Seva menerima musuh kedalam pasukannya.


"Tuan, kenapa dia harus di rekrut?" tanya Levi mewakili pertanyaan bawahan dan rekan-rekannya.


"Karena di antara kalian tidak ada yang bisa aku andalkan, melawannya seorang saja kalau tidak aku kalian semua akan tewas," jawabnya santai sambil berjalan ke atas.


"Namanya Roni, dia mulai sekarang akan memimpin kalian semua!" lanjutnya masih berjalan ke atas.


Levi dan yang lainnya tersenyum getir, karena bos besarnya tidak memiliki hati sama sekali.


Roni hanya tersenyum mendengar pernyataan Seva. "Mohon kerjasamanya mulai sekarang," ucapnya sambil menyeringai, lalu mengikuti Seva ke atas.


Levi dan yang lainnya hanya bisa mengangguk, walaupun mereka sebenarnya tidak terima, akan tetapi mereka juga sadar kalau kemampuannya hanya sebatas gangster rendahan, jika dibandingkan dengan Roni tentu sangat jauh, karena sosok tersebut sudah sangat berpengalaman di dunia Mafia.


Mau tidak mau Levi dan yang lainnya harus menerima kenyataan tersebut, lagi pula itu semua demi menambah kekuatan bos mereka.


...***...


Sementara itu ditempat Martis berada setelah malam hari, pria itu tidak mendapatkan laporan apa-apa dari Roni, membuatnya sangat gusar.


"Bre ..." Martis akan membanting ponselnya, tapi tiba-tiba ponsel tersebut berdering, sehingga ia mengurungkan niatnya dan melihat siapa yang menelepon, saat melihat nama Roni pria itu tersenyum penuh arti.


"Halo ... bagaimana? Apa semuanya beres?" tanya Martis dengan percaya diri setelah mengangkat telepon tersebut.


"Semuanya aman tuan, mereka hanyalah pemberontak kecil, saya akan berada di sini beberapa saat untuk mengkoordinir bawahan jika ada serangan lagi," ucap Roni dari seberang telepon.


"Bagus, kamu atur semuanya," jawab Martis seraya menutup telepon.


Martis terlihat sangat senang, karena ia pikir Roni sudah menghabisi para pemberontak tersebut, pria itu sudah tidak cemas lagi.


Sementara itu ditempat Roni berada, ia sedang menutup teleponnya. "Semuanya aman tuan, Martis pasti percaya denganku," ucapnya lembut pada Seva.


Seva tersenyum. "Bagus, kamu temani aku minum," jawabnya sambil menyuruh Roni duduk.


Roni menganggukkan kepala, ia duduk di hadapan Seva, para wanita penghibur menuangkan gelas demi gelas alkohol untuk keduanya.


Wanita penghibur yang melayani Seva dari siang hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena pria itu tidak mabuk juga, padahal sudah sangat banyak dia minum, jika orang biasa pasti sudah tumbang dari awal.

__ADS_1


Tubuh ketahanan racun Seva memang bisa menyerap alkohol yang masuk kedalam tubuhnya, tapi jika Seva mau, dia juga bisa menonaktifkannya dengan menyuruh Sistem, tapi Seva tidak melakukan hal tersebut, karena ia sebenarnya tidak suka mabuk sama sekali.


__ADS_2