System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Menerima Kekalahan


__ADS_3

Wanita yang memulai pertikaian tidak berani mendekat saat melihat sang Ayah lehernya sedang di todong Katana oleh Seva.


Ayahnya tampak sangat ketakutan, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin mengucur deras di dahinya.


Semua orang yang melihat hal tersebut saja sampai menelan ludah, pasalnya sekelas Munzar Larkin yang merupakan orang nomor satu di kota tersebut hanya bisa pasrah dihadapan Seva.


"Tu-Tuan, saya bisa memberikan apa pun untuk anda, uang, atau wilayah di kota ini, saya akan bernegosiasi dengan tuan Martis," ucapnya gugup.


Argh!


Pria tua itu meringis kesakitan saat bilah pedang Seva sedikit menggores lehernya hingga darah segar keluar dari sela-sela pedang yang masuk dalam kulit.


"Ayah!" teriak Elsa Larkin sambil menghampiri Ayahnya.


Seva menoleh ke arah wanita tersebut, keningnya terlihat diperban akibat ia lempar dengan Vas bunga.


Terlihat mata Elsa berkaca-kaca, wanita itu kemudian langsung bersimpuh di kaki Seva sambil menangis terisak.


"Tuan, maafkan saya, tolong lepaskan Ayah saya," ucapnya dengan suara getir.


Munzar tidak berani berbicara sepatah katapun, mengingat pedang yang dipegang Seva masih menyentuh lehernya, ia takut jika bergerak sedikit saja kepalanya akan terlepas dari tempatnya.


"Kenapa aku harus memaafkan orang sepertimu?" tanya Seva dingin.


Elsa terkesiap dengan perkataan Seva, pasalnya ia juga tidak memiliki alasan agar bisa di maafkan oleh pria yang telah dia provokasi.


Elsa melihat Ayahnya, terlihat darah segar sudah mulai menetes banyak dari lehernya, wanita itu menggertakkan giginya.


"Tuan, saya akan melakukan apa pun untuk anda, asalkan lepaskan Ayah saya," ucapnya sendu.


Munzar terkejut dengan pernyataan anaknya, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga hanya bisa menatap sedih sang anak.

__ADS_1


"Apa memangnya yang bisa kamu lakukan untukku?" tanya Seva lagi.


Elsa menelan ludah. "Sa-Saya bisa melakukan apa pun untuk anda!"


Seva menyeringai, ia melepaskan pedangnya dari leher Munzar, pria tua itu langsung menutupi luka saya di lehernya menggunakan tangan.


"Sepertinya kamu cocok jadi wanita penghibur bawahanmu," goda Seva.


Seketika Elsa langsung mendongak, wanita itu terkejut dengan pernyataan Seva. Begitupun dengan Munzar, tentu saja ia tidak mau putrinya menjadi wanita penghibur.


Brug


"Tuan, tolong jangan lakukan itu, saya akan melakukan apa pun sebagai gantinya, saya rela menjadi bawahan anda!" Munzar berkata dengan sangat yakin.


"Kenapa aku harus percaya denganmu pria tua? Sementara aku bisa membawa wanita ****** ini sekarang juga," jawab Seva santai.


"Tu-Tuan, saya bersumpah tidak akan mengkhianati anda, saya akan memegang kata-kata saya!" ucapnya penuh dengan penekanan.


Tampak keduanya tidak berani menatap Seva, pria itu mengangkat dagu Elsa, terlihat wajah cantiknya sangat sayu, karena ketakutan.


"Kamu cukup cantik sayangnya sikap kamu tidak selaras dengan wajahmu, jika kamu terus seperti ini aku yakin suatu saat nanti akan ada orang yang nekad menyakitimu," ucapnya sambil melepaskan pegangannya pada dagu si wanita lalu beranjak berdiri.


"Untung saja kalian bertemu denganku yang masih memiliki hati nurani, nanti malam kamu kirimkan beberapa mobil box ke Markas bawahan Martis di kota ini, aku yakin kamu tahu tempatnya, aku tunggu jika berani melawanku kalian akan ku bunuh!" lanjutnya penuh dengan penekanan.


"Ba-Baik tuan!" jawab Munzar lugas.


Seva tidak berbicara lagi, ia meninggalkan tempat itu begitu saja, menghampiri pelayan membayar pesanannya lalu pergi dari sana dengan mobilnya.


Semua orang hanya bisa menatap kepergian Seva dengan diam, tidak ada yang berani berbicara sebelum mobil Seva meninggalkan tempat tersebut.


"Gila, tuan Larkin saja tidak bisa apa-apa!"

__ADS_1


"Siapa sebenarnya orang itu?!"


"Apakah dia salah satu orang kuat juga?"


Tentu saja orang-orang saling bertukar pendapat satu sama lain, pasalnya baru kali ini mereka melihat keluarga Larkin tunduk dihadapan orang lain, apa lagi itu di wilayahnya sendiri.


Munzar yang mendengar orang-orang berbisik tentangnya, ia langsung membawa anaknya pergi dari sana meninggalkan mayat pengawalnya yang berserakan di sana.


Pria paruh baya tersebut membawa Elsa masuk kedalam mobil, teman-teman Elsa hanya bisa menundukkan kepala tidak berani menegurnya.


"Lim, kamu kirim Tim pembersih ke kafe Star dan siapkan sepuluh mobil Box sekarang!" Munzar langsung menghubungi asistennya ketika sudah didalam mobil, ia langsung menutup telepon sebelum asistennya menjawab.


Ini pertama kalinya buat Munzar merasakan takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria tua itu benar-benar tidak percaya ada orang yang lebih kejam daripada Martis.


Elsa tidak berbicara sepatah katapun, ia merasa bersalah karena melibatkan sang Ayah dengan masalah besar.


"Elsa, lain kali lihat siapa yang kamu lawan dulu," tegurnya pada sang anak sambil menghela napas tidak berdaya.


"Maaf Ayah, aku tidak tahu kalau orang itu benar-benar sangat kuat," jawabnya lirih.


Munzar menghela napas lagi. "Siapa sebenarnya pria ini, kenapa dia tiba-tiba muncul di Kota Mile?" gumamnya lirih.


Elsa tahu kalau Ayahnya pasti sulit menerima kenyataan yang terjadi, pada dasarnya tidak ada yang berani mengusiknya selama ini. Namun, sekarang muncul seorang pria yang entah dari mana datangnya dengan kekuatan luar biasa.


Munzar berpikir dalam hati, melihat kekuatan Seva, ia sangat yakin kalau pria tersebut memiliki kekuatan yang tidak bisa digambarkan oleh orang biasa sepertinya.


Sementara itu ditempat Seva berada, pria tersebut sedang mengendarai mobilnya tanpa arah, ia masih belum mau pulang ke markas, ingin menghabiskan waktunya melihat-lihat kota Mile.


Pria itu melihat sebuah keramaian di depan gerbang Universitas, ia tertarik dengan hal tersebut lalu menghentikan mobilnya di bahu jalan.


Seva menghampiri keramaian tersebut, menerobos orang-orang yang sedang menonton, saat ia berhasil ada didepan matanya membelalak lebar tatkala melihat seorang gadis yang sedang ditelanjangi di sana.

__ADS_1


__ADS_2