
Ke esokan harinya. Helen sudah sedikit sembuh dari lebam-lebamnya, tapi tangannya masih menggunakan gip.
Tomas datang menjemput bosnya tersebut ke Mansion Ven secara langsung, pria itu benar-benar ketakutan ketika pergi ke sana, karena itulah ia membawa beberapa bawahannya.
"Kamu yakin akan ikut dengan mereka sayang?" tanya Luci lembut.
"Ya, sudah saatnya aku bergerak, agar rencanaku bisa berjalan dengan lancar, kamu tunggulah di sini dulu, setelah menguasai kelompok Hercules, aku akan menunjukkan wajahku pada dunia," jawabnya mantap.
Luci menghela napas. "Ya sudah kalau itu mau kamu, hati-hatilah di sana," jawab wanita itu sambil mengecup bibir Seva dengan mesra.
Seva tersenyum simpul, ia kemudian memakai topengnya dan kuat dari kamar, terlihat Helen dan Arlot sudah menunggunya di luar.
"Arlot, jaga Luci baik-baik, jangan sampai dia kenapa-napa!" perintahnya tegas.
"Tentu saja tuan!" jawab Arlot lugas.
Mereka pun keluar dari Mansion, Arlot mengantar tuan barunya itu sampai kedepan Mansion, sebelum ia kembali masuk kedalam menjaga Luci.
Ketika mobil sudah jalan, Seva membuka topengnya. Ia duduk dibelakang bersama dengan Helen.
"Apa kamu yakin berani melawan Drake, pria itu sangat kejam, bahkan aku saja tidak berani melawannya," celetuk Helen tiba-tiba.
"Jangan samakan aku denganmu, kita berbeda," jawab Seva enteng.
Helen menghela napas. "Sebenarnya apa tujuanmu tidak membunuhku, padahal apa yang kamu katakan kemarin benar, jika membunuhku akan mudah mengambil kekuasan ku?" tanyanya memastikan.
"Tidak ada alasan pasti sebenarnya, aku hanya tidak bisa membunuhmu saja," jawabnya enteng.
Helen mengerutkan keningnya. "Lantas apa gunanya foto itu?!" tanyanya geram dengan wajah memerah.
Seva menatap Helen. "Kalau itu memang untuk mengendalikan kamu, seperti yang aku bilang kemarin."
"Cih, bisa saja aku tidak perduli bukan?" tanya Helen kesal.
Seva memegang dagu Helen, ia mendekatkan wajahnya ke wanita itu kemudian tersenyum. "Aku tahu kalau kamu wanita yang sangat perduli dengan reputasi, jangan beranggapan aku bodoh," ucapnya sambil melepaskan dagu Helen.
"Ba-Bagaimana kau bisa tahu itu?" tanya Helen penasaran.
Seva tersenyum penuh arti. "Karena kau masih Virgin," jawabnya enteng.
Seketika wajah Helen langsung merah merona, ia benar-benar malu karena rahasianya diketahui oleh Seva, wanita itu segera membuang mukanya.
__ADS_1
Tomas yang menyetir mendengar pernyataan itu menjadi gelisah, ia tidak pernah tahu sebelumnya kalau bosnya masihlah sangat polos soal keintiman.
Seva tidak banyak berbicara lagi, ia tidak mau menggoda Helen yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
[ Tuan, anda hari ini belum mengocok Dadu, apakah anda akan mengocoknya?]
Layar hologram Sistem muncul memberikan pemberitahuan ke Seva. Pria itu menyuruh Sistem mengocok Dadu, sambil berharap agar tidak Zonk lagi kali ini.
Dadu di kocok dalam layar Hologram, setelah beberapa saat Dadu tersebut berhenti.
[ Selamat, anda mendapatkan kemampuan Fisik Kuat! ]
[ Status]
Nama : Seva Adelray
Umur : 24 tahun
Tinggi: 176 cm
Berat : 66 Kg
Saldo : 9.999.000 dolar.
Seva kali ini tidak merasakan rasa sakit yang berlebihan, karena pada dasarnya tubuhnya sudah kuat, hanya saja ada peningkatan fisik saja yang membuatnya bertambah prima.
Pria itu tersenyum-senyum sendiri, Helen yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke Seva merasa aneh dengan pria yang duduk disebelahnya tersebut.
...***...
Mereka sampai di mansion milik Helen. Seva turun tanpa mengenakan topengnya sama sekali, ketika baru saja ia turun, semua bawahan Helen menodongkan senjata ke arahnya.
Tomas ternyata sudah merencanakan itu semua, ia pikir dengan membunuh Seva maka tidak akan ada masalah lagi.
Helen terkejut dengan tindakan para bawahannya tersebut, akan tetapi wanita itu membiarkannya, ia ingin melihat sekuat apa Seva menghadapi puluhan bawahannya yang menodongkan senjata padanya.
"Hahaha... kau tidak bisa lari dari kami bedebah, matilah kau dengan tenang!" seru Tomas sambil tertawa senang.
"Helen, apa kamu yang merencanakan ini?!" tanya Seva dingin.
Helen menggendikkan bahunya sambil berjalan masuk kedalam Mansion dengan santai. "Aku tunggu kamu dikamar, kalau kamu bisa lolos dari kematian, aku akan melakukan apa pun," ucap wanita itu tanpa merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
Wajah Seva langsung menggelap, pria itu benar-benar sangat marah karena merasa sudah dipermainkan oleh kelompok Mafia Hercules.
Swuzz
Bang
Dor!
Dor
Tanpa ampun Seva mengambil senjata salah satu dari mereka dan membunuh mereka semua dengan begitu cepat, hanya butuh beberapa menit saja untuk Seva mengalahkan mereka semua.
Teriakan sebelum kematian menggema didepan Mansion tersebut, darah berceceran akibat Seva membunuh puluhan bawahan Helen dengan brutal.
Hanya tersisa Tomas saja yang sedang tertegun dengan wajah memucat. Seva menoleh ke arah Tomas dan langsung menembak kepalanya hingga ia tewas seketika.
Seva membuang senjatanya, dengan kecepatannya ia mengejar Helen yang baru masuk kedalam kamarnya, pria itu sudah geram dengan Helen yang masih saja bertingkah sok kuat.
Helen terkejut ketika Seva tiba-tiba saja berada dalam kamar, terlihat pria itu yang sedang duduk di ranjangnya dengan tatapan tajam.
"Sekarang apa yang bisa kamu berikan lagi untukku, agar aku tidak membunuhmu?!" tanya Seva dingin.
Helen menelan ludah, ia benar-benar sangat ketakutan dengan pria yang sedang bersamanya satu kamar tersebut.
Racun mematikan saja tidak cukup untuk membunuhnya, puluhan anak buahnya saja tidak sanggup untuk menaklukkannya.
Helen mencoba untuk tetap tenang, ia mendekati Seva dengan senyum semanis mungkin, ia kemudian berjongkok dihadapan Seva.
"Aku akan melayani mu dan menjadi budak napsu mu, bagaimana?" tanya wanita itu sambil mengusap-usap celana Seva.
"Kamu yakin?" tanya Seva sambil menyeringai.
Helen dengan percaya diri mengangguk, ia pikir dengan menawarkan hal tersebut maka Seva akan luluh. Wanita tidak tahu saja kalau pria di depannya itu seperti binatang buas jika di ranjang.
Benar saja Seva tidak perduli kalau Helen masih terluka, demi melanjutkan napsunya yang tertahan kemarin karena Luci tidak bisa memuaskannya. Pria itu seolah kesetanan, ia tidak perduli Helen menangis dan memohon.
Seva benar-benar membuat Helen merasakan rasa sakit yang luar biasa, ia menghajarnya habis-habisan, sampai-sampai wanita itu sempat pingsan, karena itu pertama kalinya buat dia dan sudah di perlakukan sangat kasar oleh Seva.
Ketika tengah malam Helen terbangun kembali, Seva masih saja menggagahinya, wanita itu benar-benar sudah tidak berdaya lagi, ia hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang dideritanya itu.
Hingga akhirnya Seva mencapai puncak setelah ke esokan harinya. Helen sudah seperti Zombie, darah kering berceceran di sprei, wanita itu tidak sanggup berbicara, karena seluruh tubuhnya terasa sakit, melebihi rasa sakit patah tulang tangannya.
__ADS_1