System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Penghianat


__ADS_3

Sejumlah orang masuk kedalam ruangan tersebut dengan senjata lengkap, mereka melihat Helen dan Luci yang terkapar di lantai.


"Cih, cuma para wanita," ucap salah satu dari mereka saat melihat Helen dan Luci yang bersandar di dinding.


Kedua wanita itu menatap dingin pria tersebut, mereka ingin membunuh orang-orang itu. Namun, keduanya tidak bisa bergerak karena terluka cukup parah efek terkena ledakan.


"Selamat tinggal Baby," ucap pria tersebut sambil menodongkan senjatanya ke arah Luci.


"Luci!" teriak Helen saat pria itu akan menembak Luci.


Swuzz


Slas


Pral


Pral


Tiba-tiba pria tersebut berhenti bergerak, tubuhnya berubah menjadi beberapa potongan dan jatuh ke lantai.


Bukan hanya pria tersebut, rekan-rekannya juga mengalami hal yang sama, mereka semua langsung tewas seketika saat Seva datang menebas mereka semua dengan Katananya.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Seva menghampiri Luci terlebih dahulu.


Pria itu memapah Luci ke sofa yang ada didalam sana, baru ia juga membawa Helen.


"Sistem beli obat langka!" perintahnya dalam hati.


Layar hologram muncul di hadapan Seva yang hanya bisa di lihat olehnya, terlihat berbagai nama obat langka yang tidak ada di dunia sekaran.


[Toko Sistem :


Berbagai Obat Langka :


Pil Penyembuhan (1 juta dolar Original/ butir)


Pil Regenerasi ( 10 juta dolar Original/ butir)


Pil Napsu ( 2 juta dolar Original/ butir)


Seva mengernyitkan dahi saat melihat ada pil Napsu di sana, rasanya ia ingin mengumpat kasar pada Sistem.


"Beli dua pil Regenerasi," ucapnya dalam hati.


[Baik tuan!]

__ADS_1


Dua Pil regenerasi langsung muncul di genggaman Seva yang pura-pura merogoh jas yang ia kenakan.


"Minumlah ini," ucapnya kepada Helen dan Luci yang diberikan satu buah pil Regenerasi masing-masing.


"Apa ini Seva?" tanya Luci sambil menahan sakit.


"Sudah minum saja dulu," jawabnya seraya berdiri.


"Aku akan membereskan di luar, kalian tetap di sini!" perintah Seva yang tiba-tiba menghilang dari hadapan keduanya.


Kedua wanita itu saling menatap lalu langsung menelan pil pemberian Seva.


Hanya dalam hitungan detik saja luka mereka langsung beregenerasi, darah berhenti mengalir setelah semua luka mereka menutup.


Sontak saja kedua wanita itu terkejut. Karena belum ada obat yang di dunia modern yang efeknya bisa seperti itu.


"Obat apa yang sebenarnya diberikan Seva kepada kita?" tanya Helen bingung.


"Entahlah, ini sangat mujarab," jawab Luci yang juga bingung.


Wajar saja jika keduanya bingung, pasalnya tidak ada obat yang bisa menyembuhkan luka secara instan seperti pil pemberian Seva.


Sementara keduanya masih di landa kebingungan. Seva sudah bergerak ke lantai atas, menghabisi para bawahan Martis yang ada di sana.


Di atas gedung tersebut sudah tidak ada musuh lagi, mereka semua sudah dibunuh oleh Seva tanpa tersisa satu orang pun.


"Sistem, beli dua Basoka!" perintah Seva langsung.


[Baik tuan!]


Sistem mengeluarkan dua buah Basoka sekaligus yang muncul tepat di samping Seva.


Seva langsung meraih dua Basoka itu secara langsung, menaruhnya di kedua bahu lalu menembakkannya.


Swuzz


Swuzz


Booommm ... Boommm ....


Terdengar suara ledakan yang sangat besar, saat kedua peluru Basoka menghantam bawahan Martis.


Mereka yang terkena serangan itu langsung tewas seketika, bahkan tubuh mereka hancur berkeping-keping.


Tidak sampai di situ saja, Seva terus mengisi ulang Basoka dan menembakkannya beberapa kali, membuat semua bawahan Martis tercerai berai.

__ADS_1


Arlot melihat ke atas, ia menyunggingkan senyum karena yakin itu Seva. "Semuanya maju!" perintahnya tegas.


Levi dan yang lainnya juga bergegas maju, mereka semua tanpa ragu maju kedepan melihat bawahan Martis yang tercerai berai.


Kondisi berbalik seketika, bawahan Seva yang tadinya tertekan, mereka sekarang mengendalikan situasi.


Melihat para bawahannya yang sudah mulai bergerak. Seva menghentikan serangannya, agar tidak melukai mereka.


Pria itu menghela napas. "Hampir saja aku terlambat, tapi kenapa mereka bisa tahu kalau markas di kuasai orang lain? Sial, apakah ada penyusup?"


Seva mengepalkan tangannya, ia sangat yakin ada penyusup di antara bawahannya, mengingat seharusnya tidak ada yang tahu kalau markas tersebut sudah di kuasai olehnya.


Seva memusatkan pandangannya, ia mencari bawahan yang kiranya mencurigakan.


Terlihat para bawahan yang tidak berhianat tetap melakukan serangan dan membunuh para bawahan Martis. Namun, Seva melihat salah satu orang yang tampak santai.


"Jadi kau penyusup itu?" gumamnya saat melihat orang tersebut.


Seva dengan cepat menghilang dari sana, menghampiri orang yang di duga sebagai penyusup.


Hanya dalam sekejap mata Seva sudah berada dihadapan orang yang di curigainya.


"Tu-Tuan Adelray," orang itu tampak terkejut melihat Seva.


"Aku melihatmu begitu santai Levi, apakah kamu tidak khawatir bawahanmu tewas semua?" tanya Seva sambil mengarahkan pedangnya ke dada Levi.


"A-Apa maksud tuan, saya hanya sedang memberikan komando," jawabnya gugup.


Pral


Argh!


Telinga Levi di tebas oleh Seva, membuat pria itu meraung kesakitan sambil memegangi telinganya tang berlumuran darah.


"Apa kamu pikir bisa membohongiku Levi?" tanya Seva dingin.


"Tu-Tuan, saya tidak tahu apa maksud anda," jawabnya ketakutan.


"Apa perlu aku memotong bagian tubuhmu satu persatu agar mau mengaku?" tanya Seva dingin.


Levi menelan ludah, ia benar-benar ketakutan di hadapan Seva. Pria paruh baya itu tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Tiba-Tiba sebuah granat dilemparkan ke arah mereka berdua dan meledak.


Boommm

__ADS_1


Tubuh Levi hancur berkeping-keping, sementara Seva terhempas ke belakang. Pria itu menoleh ke arah orang yang melemparkan granat. Akan tetapi pria tersebut sudah melarikan diri.


__ADS_2