
Seva membunuh pemimpin Kelompok Mafia Venom terasa begitu mudah, padahal jika ia masihlah hanya sebatas manusia biasa tanpa Sistem tentu gerakannya akan mudah terbaca, apa lagi sosok yang dibunuhnya itu sudah bergelut dengan dunia gelap begitu lama. Namun, semua itu tidak berarti sama sekali untuk Seva.
Sementara itu ditempat kelompok Silas, mereka jelas-jelas kebingungan ketika pemimpin kelompok Venom muncul.
Mereka memastikannya kepada Luci, akan tetapi Luci mengatakan kalau itu hanyalah orang yang menyamar saja.
"Sial, apa mereka tahu kalau kita sedang mengincar pemimpinnya?" gumam Silas.
"Bos, terus kita harus bagaimana?" tanya bawahan Silas yang mendengar gumaman bosnya tersebut.
"Kita amankan Velix dulu seperti rencana awal, jika memungkinkan kita tangkap juga kelompok Venom," jawabnya yakin.
"Baik Bos!" jawab bawahannya lugas.
Mereka kembali mengawasi transaksi penjualan senjata kepada Velix, terlihat pemimpin Gangster Ghost tersebut sangat bersemangat ketika melihat pemimpin kelompok Venom.
"Selamat datang tuan Ven, senang bisa bertemu dengan anda lagi," sapa Velix ramah.
"Tidak usah banyak basa-basi, mana uangnya!" hardik tangan kanan pemimpin Venom, sehingga membuat Seva sedikit terkejut.
"Maaf tuan, bawa kesini uangnya!" perintah Velix ke anak buahnya.
Uang itu diperlihatkan ke kelompok Venom, tangan kanan Pemimpin mengangguk, senjata yang mereka bawa juga di perlihatkan.
Tiba-tiba ada seorang pengawal yang membisikkan sesuatu ke pemimpin kelompok Venom.
Dor!
Argh!
Velix langsung ambruk di tanah ketika kakinya ditembak pemimpin Venom. "Berani sekali kau membohongiku, bawa uangnya cepat, Kita sudah di kepung!" seru sosok tersebut yang langsung pergi dari sana.
Tangan kanannya terkejut, ia baru menyadari kalau ternyata banyak polisi yang telah mengepung tempat tersebut.
"Lindungi tuan Ven!" seru tangan kanannya.
"Bedebah kau Velix!" seru tangan kanan Ven.
Silas tercengang karena rencananya terbongkar, kelompok Venom dengan cepat lari ke kapal melindungi pemimpin mereka.
Bawahan Velix panik, mereka mulai melindungi bos mereka dengan mempertaruhkan nyawa.
__ADS_1
Dor!
Dor!
Perang senjata tidak terelakan, suara peluru bersahut-sahutan satu sama lain, Velix yang terluka diseret anak buahnya untuk bersembunyi.
"Sial, kenapa ada yang tahu transaksi ini!" gerutu Velix sambil menahan sakit luka tembaknya.
"Bos, kita harus bagaimana? Mereka terlalu banyak!" seru bawahan Velix yang mencoba melawan.
Sementara itu di kapal kelompok Venom, mereka juga di serang bawahan Silas, hanya saja mereka menggunakan senapan sergap, sehingga bawahan Silas sulit mendekat.
Drrrt!
Drrrt!
Suara senapan sergap menggema menembaki bawahan Silas tanpa jeda, mereka saling melindungi satu sama lain.
"Cepat jalankan kapalnya!" teriak tangan kanan Ven setelah semua bawahannya sudah naik ke kapal.
Mereka terus menembak hingga kapal menjauh dari pelabuhan, tidak ada yang tertangkap satupun dari kelompok Venom.
"Brengsek! Mereka berhasil lolos semuanya!" seru Silas marah ketika mendengar laporan dari bawahannya yang menyerang kelompok Venom.
Jelas saja perbedaan kekuatan antara kelompok Velix dan Venom terlalu jelas, karena Velix hanyalah Gangster sementara kelompok Venom Mafia kelas atas, bawahan mereka tentu sudah terbiasa menghadapi masalah seperti itu.
Silas mencoba menghubungi Luci, akan tetapi tidak ada koneksi sama sekali. Sehingga membuatnya sangat geram dan yakin kalau Luci lah yang membocorkan rencananya.
"Bedebah kau wanita ******!" teriak Silas kesal karena Luci berani membuatnya seperti orang bodoh.
...***...
Sementara itu di kapal Kelompok Venom, tangan kanan Ven memberikan koper yang berisi uang milik Velix.
"Tuan, kami berhasil mengamankan uangnya," ucapnya seraya menyerahkan koper tersebut.
"Simpanlah, aku mau istirahat! Kau ikut denganku!" pemimpin kelompok Venom menunjuk seorang bawahan.
Bawahan tersebut dengan patuh mengikut sosok pemimpinnya itu. Tangan kanan Ven merasa ada yang aneh dengan pemimpinnya, karena sebelumnya ia tidak pernah mengajak seorang pun masuk kedalam kamarnya, termasuk ia sendiri. Namun, tangan kanan Ven membiarkannya, ia pikir bosnya itu hanya akan memberikan perintah kepada bawahannya itu.
Di kamar pemimpin kelompok Venom, Seva membuka penyamarannya, begitu juga dengan Luci.
__ADS_1
"Sejak kapan kau pandai menyamar Seva?" tanya Luci penasaran.
"Sst... jangan keras-keras, lebih baik kamu diam saja agar tidak ada yang mendengar kita sampai ke daratan," tegur Seva lirih.
Luci mengangguk mengerti, ia bertanya sambil berbisik. "kamu kemana kan mayat pemimpin mereka?" tanya Lusi memastikan.
Seva tersenyum. "Sudah aku buang ke laut," jawabnya enteng.
Luci terkejut, bagaimana bisa pria itu menyeret orang tanpa ketahuan oleh kelompok Venom.
Seva tahu kalau Luci penasaran, ia kemudian menunjuk jendela yang mengarah ke laut langsung, saat itu pula Luci menepuk jidatnya sambil tersenyum simpul.
"Kamu ini benar-benar paling pandai kalau soal mempertahankan diri," puji Luci.
"Tidak juga, buktinya keperjakaanku direnggut olehmu," goda Seva.
"Eh... ih... apaan sih, aku juga sama saja," jawabnya manja.
Seva tersenyum, ia merangkul Luci dan mengecupnya bibirnya. Malam itu mereka tidur bersama walau tidak ada adegan ranjang di sana, demi menjaga penyamaran keduanya.
Setelah pagi, mereka sampai di Kota Original, dimana tempat para Mafia kelas atas berada. Luci sengaja keluar dari kamar Seva lebih awal, agar tidak di curigai yang lain.
Kota Original berada di pulau kecil tengah-tengah laut, di sana tidak ada namanya polisi ataupun Militer, yang ada hanya para Mafia dan bawahannya.
Seva yang sudah mengenakan penyamarannya kembali, turun dari kapal, sudah ada beberapa mobil yang menjemput mereka untuk membawa tuannya kembali ke kediamannya.
Tindakan Seva yang menyuruh pengawal semalam ikut dengannya jelas membuat tangan kanannya semakin curiga. Namun, Karena para bawahan kelompok Venom semuanya mengenakan topeng yang hampir sama sebab itulah mereka tidak tahu kalau Luci sedang menyamar.
Hanya tangan kanan Ven saja yang mencurigai hal tersebut, walaupun ia belum berani membongkarnya, karena takut salah mengira.
Seva dan Luci dibawa ke sebuah mansion besar yang ada di kota Original. Mansion tersebut layaknya sebuah Istana, penjagaannya juga terlihat sangat ketat.
Seva terkagum-kagum melihat Mansion tersebut, ia merasa beruntung karena bisa memimpin mereka semua tanpa perlu pertempuran darah sama sekali.
Tangan kanan Ven membawa Seva ke kamar tuannya, Luci juga terus ikut dengannya, sehingga ia sangat yakin kalau orang yang dibawanya itu bukanlah bosnya.
Tangan Kanan Ven langsung menodongkan senjatanya ketika sampai didepan pintu kamar bosnya.
"Siapa kalian berdua! Berani sekali mau menipuku!" hardiknya sambil menodongkan senjatanya ke kepala Seva.
Seva dan Luci mengangkat tangannya, mereka berdua kemudian berbalik menatap tangan Kanan Ven yang tampak sangat marah terhadapnya.
__ADS_1