
Perlahan tapi pasti, Seva menguasai wilayah Darkness. Sekarang wilayah perbatasan yang sudah di kuasai, tentu saja Seva akan lebih menggencarkan serangannya lagi nantinya, mengingat Drake pemimpin Darkness tidak akan mungkin diam saja mendengar wilayahnya di ambil oleh Seva.
Rex yang di suruh Risu untuk datang bersama bawahannya membantu berjaga di wilayah perbatasan, pria itu menelan ludah ketika sampai di sana.
"Ini bukan mimpi kan, Risu?" tanya Rex tidak percaya.
Risu tersenyum penuh arti. "Aku tahu apa yang ada didalam pikiranmu, kita sekarang memiliki pemimpin yang kuat, bersiaplah untuk melihat setiap gebrakannya."
Rex hanya mengangguk lirih, pria itu benar-benar sangat menyesal karena telah berani membentak Seva ketika pertama kali bertemu, sekarang ia tahu kenapa sosok tersebut menguasai Venom dan Hercules.
Kabar tentang wilayah perbatasan Darkness yang di kuasai Sky, jelas menjadi topik hangat di Kota Original, semua orang mempertanyakan apakah kekuasaan Darkness akan segera berakhir saat kelompok Mafia Sky terbentuk.
...***...
Dikediaman Drake, pria itu sedang marah besar mendengar jika wilayah perbatasan sudah di kuasai Sky.
"Brengsek! Sebenarnya siapa orang ini, berani sekali mengusik wilayahku?!" geramnya marah.
Wanita yang sedang bersama Drake ketakutan, ia tidak berani berbicara sama sekali, karena tahu kali ini pria itu sedang sangat emosi.
"Sudah cukup! Aku tidak ingin menunggu lagi, orang-orang bodoh itu memang tidak bisa di andalkan!" seru Drake yang bergegas mengenakan pakaiannya, berniat untuk menemui Seva secara langsung.
Wanita yang bersama dengan Drake panik, ia bergegas mengambil ponselnya, menghubungi semua petinggi Darkness kalau bos besarnya akan pergi ke markas musuh.
Sontak saja hal tersebut membuat para petinggi Darkness terkejut, mereka semua bergegas untuk menghentikan bosnya itu.
Drake menaiki mobilnya sendiri, sopir yang biasa mengantarnya saja sampai tidak digubris sama sekali ketika akan menyetir untuknya.
Bawahan Drake dengan terpaksa mengikuti bosnya itu untuk menyerang wilayah musuh secara langsung.
...***...
Sementara itu ditempat Seva berada, pria itu sedang bersantai bersama dengan dua orang wanitanya yang sedang saling menatap sinis.
__ADS_1
Seva menghela napas melihat dua wanita itu yang sepertinya tidak menyukai satu sama lain. "Jika kalian terus seperti ini, lebih baik aku pergi tidak tinggal dengan kalian berdua," ucapnya tiba-tiba.
"Kok gitu? Kamu tidak bilang ke aku dulu kalau ****** ini akan menjadi pelacur mu," Luci buka suara.
"Hei, jangan mentang-mentang jadi yang pertama kamu bisa bicara seenaknya yah! Begini-begini aku mantan pemimpin Mafia!" hardik Helen tidak mau kalah.
"Memangnya aku takut, kau itu sudah hampir menjadi mayat, Seva saja terlalu baik denganmu, kalau aku jadi dia sudah aku masukkan kau ke rumah bordil!" balas Luci tidak mau kalah.
"Kau...."
"Apa!" Luci tidak takut sama sekali dengan Helen.
"Diam!" bentak Seva ke kedua wanitanya.
Sontak saja Luci dan Helen tersentak kaget karena suara Seva begitu menggelegar ditelinga mereka berdua.
Kedua wanita itu menoleh ke arah Seva secara bersamaan terlihat wajah pria itu menggelap sambil menatap tajam keduanya.
"Dengar baik-baik, aku tidak suka mendengar keributan di dekatku! Kalau kalian ingin tetap ada di sampingku, lebih baik nikmati saja hidup kalian, atau kalian ingin aku membuang kalian berdua dari sini dengan bentuk tubuh tidak bernyawa?" ucap Seva dingin.
Luci yang awalnya percaya kalau Seva sudah mencintainya, ternyata ia salah besar, karena dari sorot mata prianya itu tidak nampak sama sekali memihak satupun dari mereka.
Helen juga merasakan intimidasi yang kuat dari Seva, wanita itu benar-benar baru melihat sosok pria yang seperti Seva. Sangat kejam walaupun dengan seorang wanita.
Seva menghela napas. "Mulailah saling menerima satu sama lain, bukankah kalian ingin kehidupan damai?" tanya Seva dengan lembut.
Luci dan Helen saling menatap, mereka merasa heran dengan Seva. Pasalnya pria itu tadi sangat kasar, sekarang berubah menjadi lembut lagi.
Mereka berdua merasa kalau Seva memiliki kepribadian ganda, karena sikapnya bisa berubah-ubah begitu saja.
"Seva, kamu tidak marah dengan kami, kan?" tanya Luci memastikan.
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak marah dengan kalian, aku hanya tidak suka jika kalian berdua terus memperdebatkan sesuatu yang tidak masuk akal," jawabnya datar.
__ADS_1
Helen tersenyum simpul. "Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi, sayang," ucapnya lembut sambil bergelayut manja pada Seva.
Luci tentu saja tidak mau kalah, ia juga langsung melakukan hal yang sama, karena tidak ingin posisinya tergantikan oleh Helen.
Ketika mereka sedang mulai bermesraan. Arlot dengan tergesa-gesa masuk kedalam ruang santai.
Pria itu merasa momennya sangat buruk, karena sedang melihat Seva yang sedang bercumbu mesra dengan kedua wanitanya.
Arlot menghela napas, ia bertekuk lutut kemudian buka suara. "Tuan, didepan ada Drake pemimpin Darkness yang ingin bertemu dengan anda!"
Seva yang sedang bermesraan dengan kedua wanitanya itu langsung menghentikan aktifitasnya lalu menatap Arlot. "Apa tadi kamu bilang?"
"Drake datang kemari tuan, kami sedang menahannya di luar, ia datang bersama semua petinggi Darkness, jika anda tidak cepat keluar kemungkinan kita semua bisa dihabisi," jawabnya tidak berdaya.
Seva beranjak dari duduknya. "Kita temui dia sekarang!" perintahnya percaya diri.
Helen mencekal lengan Seva. "Hati-hati, fisik Drake sangat kuat, bahkan senjata tajam sulit menembusnya," ucap Helen mengingatkan.
Seva mengangguk mengerti. "Terima kasih atas informasinya," jawabnya lalu segera pergi menemui Drake.
Seva berjalan didepan, sementara Arlot mengekorinya dari belakang. Pria tersebut terlihat sangat khawatir karena Drake secara langsung yang datang bukan bawahannya.
Luci terlihat khawatir dengan Seva, ia buka suara. "Helen, apa Drake sekuat itu?"
Helen mengangguk. "Benar, kamu kenapa begitu khawatir? Bukankah kamu harusnya senang, dengan begini Kota Original bisa di kuasai Seva sepenuhnya?" tanyanya heran.
Luci menghela napas. "Helen, ada banyak hal yang kamu tidak ketahui tentang Seva, pria itu sebenarnya baru menemuiku jati dirinya setelah sekian lama terpuruk menjadi pesuruh Gangster Ghost, walaupun dia sangat kuat, aku khawatir Seva akan kalah kali ini, mengingat lawannya pemimpin Mafia yang sudah berkecimpung puluhan tahun di dunia gelap," jawabnya tidak berdaya.
"Apa maksudmu Luci? Kamu tidak sedang bercanda, kan?" tanya Helen terkejut.
Luci menggelengkan kepalanya, karena kenyataannya memang seperti itu. Melihat wajah serius Luci, tentu saja Helen jadi ikut Khawatir.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk melihat pertarungan Seva dan Drake secara langsung, agar mereka melihat sendiri siapa yang bisa memenangkan perebutan gelar penguasa tersebut.
__ADS_1
Kedua wanita itu dengan tergesa-gesa keluar dari Mansion, mau bagaimanapun mereka benar-benar khawatir dengan Seva, mengingat pria itu sudah menjadi sosok yang berharga di mata mereka.
Ketika mereka keluar dari Mansion, terlihat Seva yang sedang berhadapan langsung dengan Drake, mereka berdua saling bertatap muka mengabaikan orang-orang di sekitarnya.