
Seva memperhatikan mereka bertiga yang terus menatapnya, ia tahu kalau ketiga orang tersebut tidak percaya dengannya.
"Kenapa? Apa kalian bingung kenapa Levi mau tunduk kepada orang yang usianya masih muda?" tanya Seva langsung tanpa basa-basi.
"Cih, Levi apa kau gila mengajak kami untuk percaya dengan pemuda yang belum punya pengalaman sepertinya?!" celetuk salah satu dari mereka.
Slas
Pral
Argh!
Telinga pria yang bicara barusan terpotong oleh katana Seva, gerakannya yang begitu cepat membuat mereka terkejut.
"Upss... maaf meleset, tadi aku berniat mengincar lehermu," ucapnya santai.
Seketika pria yang tadi berbicara menelan ludah sambil memegangi telinganya, dua orang lainnya terlihat bingung dengan apa yang terjadi, pasalnya mereka tidak melihat sama sekali Seva mengambil pedangnya.
Keduanya menatap Levi, tapi pria paruh baya tersebut hanya menyeringai, membuat mereka menelan ludah.
"Jadi, kalian mau mati di sini atau...?" Seva menatap mereka dengan tajam.
"Maaf tuan, kami sempat meragukan anda, tolong maafkan kami," ucap salah satu dari mereka.
Pria yang telinganya terpotong hanya bisa menahan rasa sakitnya, ia mau menangis tapi sudah tua, sehingga mencoba untuk menahannya.
"Kau obati dulu lukamu itu, lain kali jangan asal bicara, masih untuk aku menghargai Levi yang sudah memanggil kalian kemari," tegur Seva dingin.
"Dimengerti tuan, maafkan saya," jawabnya ketakutan.
__ADS_1
Pria itupun meninggalkan tempat tersebut untuk di obati, para bawahan yang di ajaknya jelas saja khawatir, akan tetapi pria itu mengatakan kalau itu adalah hukuman dari bos besarnya, membuat para bawahan begidik ngeri.
Setelah pria itu kembali lagi dengan telinga yang sudah diperban, Seva mulai membuat rencana dengan mereka.
"Nanti malam bawahanmu dari Original akan ada yang datang kemari, kita akan mulai menyerang markas musuh selanjutnya besok, kalian persenjatai semua bawahan yang akan ikut," perintah Seva santai.
"Tuan, Levi sebelumnya juga sudah mengatakan tentang rencana anda, tapi Kota Long sangat ramai dengan warga sipilnya, ditambah mereka juga biasanya tidak akan berkumpul di markas semua, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya memastikan.
"Walaupun mereka semua tidak di markas, tapi nyatanya mereka akan kembali ke sana bukan? Kita hanya tinggal kuasai tempat tersebut, tangkap mereka yang baru pulang, kalau mereka melawan bunuh langsung tapi jika bisa ajak mereka bergabung," jawabnya santai.
"Bukankah itu terlalu beresiko tuan?" tanya orang yang telinganya hilang.
"Tidak, kalau mereka tidak ditempatkan diluar markas, kita akan menggembleng mereka didalam markas terlebih dahulu agar tidak ada sedikitpun niat mereka untuk berhianat," jawabnya yakin.
Ketiga orang itu mengangguk-angguk mengerti, mereka pikir rencana Seva sangat bagus, bukan hanya mengalahkan musuh tapi membuat musuh berpihak juga sangat baik untuk menambah kekuatan.
Sementara itu Seva kembali ke atas untuk melihat Silvia dan Sintia sedang apa di lantai atas.
Pria itu mengernyitkan dahi ketika melihat keduanya sedang menonton film bersama, tampak mereka berdua sangat akrab tidak memerhatikan dirinya datang.
Seva membiarkan mereka berdua, ia duduk di sofa membalas pesan dari Arlot, mengirimkan lokasinya kepada pria itu.
Setelah berbalas pesan dengan Arlot, ia mengantuk hingga terlelap di sofa.
...***...
Malam harinya Seva masih tertidur pulas di sofa tidak ada yang berani membangunkannya sama sekali, sampai-sampai Arlot dan yang lainnya sudah datang saja ia belum terbangun.
Seva baru bangun ketika ada yang menggeser kepalanya, pria itu mengerjapkan matanya, ia mengernyitkan dahi ketika melihat Luci yang sedang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Astaga, sampai di mimpi saja kamu masih mengikuti ku Luci?" tanya Seva yang mengira dia bermimpi.
"Mimpi apanya? Ini aku nyata ih..." Luci menggembungkan pipinya manja.
Seva bergegas beranjak dari berbaring, ia mengucek matanya, benar saja itu bukan mimpi, pria itu tersenyum getir karena ternyata Luci ikut datang ketempat tersebut.
"Kamu tidak bermimpi sayang," dari belakang Helen merangkulnya.
Seva terkejut, ia reflek menoleh dan ternyata Helen juga ikut. "Kamu juga ikut?"
"Kenapa? Apa kami mengganggu acara kalian?" Helen menatap sinis Sintia dan Silvia yang sedang berdiri sambil menundukkan kepala.
Seva tahu apa maksud Helen, ia menghela napas. "Semuanya tidak seperti yang kalian pikirkan, mereka hanya tinggal di sini, membantu merawat tempat ini."
"Aku tahu, merawat kamu juga, bukan?" tanya Luci sambil merangkul Seva.
Seva tidak bisa berkata-kata lagi, percuma saja ia beralasan apa, karena mereka berdua akan tetap mencecarnya, jadi lebih baik mengalihkan topik pembicaraan.
Pria itu melihat Sintia dan Silvia yang tampak ketakutan, ia menyuruh mereka berdua untuk duduk, agar berkenalan dengan Helen dan Luci, mengingat mereka kemungkinan akan tinggal bersama di sana.
"Sintia, Silvia, mereka kedua wanitaku yang merepotkan, mungkin mereka juga akan merepotkan kalian," ucap Seva tidak berdaya.
"Ih... kamu ini yah, jangan dengarkan ucapan dia, kami tidak merepotkan! Salam kenal aku Luci," timpalnya sambil memperkenalkan diri.
"Aku Helen, salam kenal untuk kedua wanita baru priaku," goda Helen.
Seva menghela napas panjang, inilah yang tidak di sukainya jika dekat dengan Helen dan Luci, mereka berdua akan selalu menempel layaknya prangko.
Silvia dan Sintia juga memperkenalkan diri, mereka berdua masih canggung dengan keberadaan kedua wanita Seva, pasalnya Luci dan Helen tampak tidak perduli dengan apa pun, berbeda dengan keduanya yang masih sedikit memiliki rasa risih sebagai seorang wanita.
__ADS_1