System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Sadis


__ADS_3

Seva duduk di kursi yang ada di halaman depan kafe, pria itu tidak ingin masuk karena tidak terbiasa nongkrong ditempat tersebut.


Dulu waktu di ajak Ray, dia juga hanya nunggu didepan, bedanya kalau sekarang ia duduk di kursi, tapi dulu duduk lantai.


"Silahkan tuan, pesan apa?" pelayan bertanya pada Seva sambil menunjuk menu.


"Emm... ini, ini dan ini," Seva hanya menunjuk gambar menu, karena ia tidak tahu makanan apa itu.


"Baik tuan, tolong tunggu sebentar," ucap pelayan pria itu sopan.


Seva menganggukkan kepalanya pelan, sambil menunggu pesanannya ia menyapu pandangan ke segala arah, tidak ada tanda-tanda kelompok Mafia di sana.


Akan tetapi tiba-tiba ada segerombolan wanita dewasa yang duduk bersamanya di meja tersebut.


"Bangun! Berani sekali kau duduk ditempat ku! " hardik wanita yang masih berdiri.


Seva mendongak, ia mengernyitkan dahinya. "Tempatmu? Perasaan ini tempat umum," jawabnya santai.


"Sial, kamu tidak tahu siapa aku?! Hajar dia!" perintah wanita itu kepada pengawalnya.


"Baik Nona!" jawab para pengawal tegas.


Teman-teman wanita itu tersenyum licik, mereka akhirnya akan melihat orang dipukuli bawahan temannya tersebut. Namun, saat para pengawal baru maju ke depan, Seva dengan cepat menghajarnya.


Swuzz


Duak


Brug


Satu pengawal roboh ketika sebuah pukulan kuat mengenai dagunya, ia tidak sadarkan diri seketika saat terjatuh.


Swuzz


Seva melesat ke pengawal satunya sebelum pria tersebut menghampirinya, ia melakukan tendangan berputar hingga mengenai kepala pengawal tersebut.

__ADS_1


Duak


Brugg


Pengawal tersebut juga langsung tidak sadarkan diri seketika saat kepalanya membentur lantai.


Seva merapikan pakaiannya, ia menoleh ke arah wanita yang menegurnya barusan, tampak mereka semua tercengang dengan tindakannya yang di luar prediksi.


Seva menghampiri wanita tersebut meremas dagunya. "Dengar baik-baik, aku paling tidak suka di atur-atur, kau bukanlah siapa-siapa bagiku! Pergi dari sini, sebelum aku membunuhmu!" hardik Seva sambil menghempaskan wanita tersebut hingga jatuh terduduk di lantai lalu ia duduk kembali di kursinya.


Teman-teman wanita itu segera berdiri menolongnya, mereka memapahnya untuk berdiri.


"Awas saja kau! Jika Ayahku tahu kamu akan mati!" teriak wanita itu.


Prang


Argh!


Wanita itu berteriak histeris ketika Seva melemparkan Vas bunga dimeja hingga pecah, membuat kepala wanita tersebut langsung berdarah seketika.


Teman-teman wanita itu sangat ketakutan, karena Seva tidak takut sama sekali dengan ancaman temannya yang merupakan anak dari pemimpin kota tersebut.


"Ingyin, kita ke rumah sakit sekarang," ucap salah satu dari mereka panik.


Mereka pun meninggalkan Seva begitu saja, membawa anak pemimpin kota tersebut ke rumah sakit.


Bersamaan dengan itu pelayan datang mengantarkan pesanan Seva dengan tangan bergetar, pasalnya ia tahu siapa wanita yang di lukai Seva.


"Tu-Tuan, anda sebaiknya cepat meninggalkan kota ini ka...."


"Untuk apa? Aku tidak takut dengannya," jawab Seva memotong perkataan pelayan sambil mengambil pesanannya, karena ia memang sangat lapar.


Pelayan hanya bisa tertegun ditempatnya, ia tidak menyangka jika ada orang yang sangat percaya diri seperti Seva, tapi setelah melihat penampilan pria tersebut pelayan yakin kalau Seva bukan orang biasa.


Pelayan hanya bisa menghela napas panjang lalu meninggalkan Seva sendirian.

__ADS_1


Semua orang masih menatap Seva, karena mereka pikir pria itu akan menjadi mayat sebentar lagi.


...***...


Benar saja setelah Seva selesai memakan semua pesanannya, terlihat ada puluhan pengawal yang menghampirinya bersama dengan seorang pria paruh baya yang tampak sangat gusar menghampirinya.


"Jadi kau orangnya!" tegur pria paruh baya tersebut tegas.


Seva menoleh, ia mengernyitkan dahi ketika melihat pria paruh baya bersama dengan puluhan pengawal yang ada dibelakangnya.


Semua orang yang duduk dekat Seva menjauh, karena mereka tidak mau ikut campur dengan masalah tersebut.


"Bos, mereka berdua hanya pingsan," lapor salah satu pengawal yang memeriksa dua orang yang dihajar Seva.


"Hajar dia!" perintah pria paruh baya itu sambil menjauh.


Swuzz


Pral


Pral


Pral


Hanya dalam sekejap mata Seva memotong leher mereka semua lalu menodongkan pedangnya ke leher pria paruh baya.


"Sudah untung tadi aku melepaskan kalian, tapi ternyata kamu memang cari mati!" hardik Seva dingin.


Pria paruh baya langsung berkeringat dingin, ia tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi semua bawahannya tumbang dengan kepala terputus.


Semua orang yang tadinya mengira Seva akan tewas tercengang, melihat bagaimana pria itu membunuh puluhan pengawal hanya dalam hitungan menit.


"Tu-Tuan, sepertinya terjadi salah paham di sini," ucap pria paruh baya itu ketakutan.


"Salah paham? Setelah kau menyuruh mereka menyerangku?!" tanya Seva sinis.

__ADS_1


Pria paruh baya menelan ludah, ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar bisa di maafkan oleh Seva, mengingat pria tersebut ternyata sangatlah menakutkan.


Wanita yang memulai pertikaian datang bersama teman-temannya, mereka berniat ingin melihat Seva dipermalukan Ayahnya, akan tetapi saat sampai di sana mereka semua tercengang melihat puluhan mayat pengawalnya dengan bersimbah darah di sana.


__ADS_2