
Seva mengabaikan pemberian uang dari Sistem, baginya itu sudah menjadi hal biasa untuknya.
Pria itu bergegas membersihkan diri lalu keluar dari kamar mandi, terlihat Helen sedang bersandar di ranjang, sementara Luci masih terlelap.
"Kenapa kamu bangun?" tanya Seva sambil mencari baju di lemari.
"Risu menelepon, katanya sudah saatnya para bawahan gajihan. Sementara uangku sudah mulai menipis, kamu tahu sendiri sekarang penghasilanku sudah tidak ada semenjak kamu menjadi bos," jawabnya tidak berdaya.
Seva tersenyum penuh arti, ia bergegas mengenakan pakainnya lalu duduk di samping Helen. "Kenapa kamu tidak bilang dari awal? Sekarang mereka itu tanggung jawabku," jawabnya lembut sambil memegang dagu Helen.
"Tapi mereka masih bawahan ku," rajuknya manja.
"Iya-Iya, mana nomor rekeningmu," ucap Seva sambil mengeluarkan ponselnya.
"Kamu punya uang? Keuangan Drake dan Ven kan buat menggaji bawahan di sana?" tanyanya merasa sungkan.
"Sudah mana nomor rekeningmu, aku ini bukan pria miskin seperti yang kamu kira," ucap Seva santai.
Helen menatap prianya itu, ia memberikan nomor rekeningnya kepada Seva.
Pria itu langsung mentransfer 10 Milyar dolar Original ke nomor rekening Helen dengan santainya.
Pesan dari M-banking masuk kedalam ponsel Helen, wanita itu langsung membukanya. Mata Helen membelalak lebar ketika melihat saldo yang di transfer Seva.
"Se-Sepuluh Milyar dolar Original? Kamu serius sayang?" tanya Helen tidak percaya.
Seva hanya mengangguk sambil tersenyum. "Gunakan uang itu, kalau kurang bilang saja padaku, nanti aku tambahin. Aku pergi dulu," ucapnya mengecup kening Helen lalu keluar dari kamar.
Helen masih tertegun menatap prianya itu, pasalnya ia mentransfer uang sangat banyak. Penghasilan dari barang terlarang saja, biasanya Helen akan mendapatkan uang satu Milyar dolar dalam empat atau lima kali transaksi dan itu semua butuh waktu cukup lama.
Sementara Seva mentransfer uang sebanyak itu tanpa berkedip sama sekali.
"Luci bangun!" Helen menggoyangkan tubuh saudarinya itu agar bangun.
"Emmm ... ada apa sih Helen? Aku masih ngantuk dan capek," jawabnya masih dengan mata tertutup.
"Ayo bangun dulu, aku mau tanya padamu, Seva punya uang banyak sekali, dia mentransfer aku 10 Milyar dolar!" ucap Helen.
"Apa?!" Luci seketika langsung terbangun, matanya terbelalak lebar.
__ADS_1
Helen yang melihat hal itu mengernyitkan dahi, karena seharusnya saudarinya itu tidak terkejut mendengar kabar kalau Seva memiliki banyak uang.
Apa lagi Luci tampak begitu antusias mendengar berita tersebut.
"Tadi kamu bilang diberi uang 10 Milyar dolar?" tanya Luci antusias.
Helen menganggukkan kepalanya lirih.
"Kok aku gak dikasih?" tanya Luci sambil cemberut
Helen tersenyum kecut, ia kira tadi Luci terkejut karena uang Seva sangat banyak, ternyata saudarinya itu malah iri dengannya karena tidak diberikan uang yang sama.
Helen bernapas lega, setidaknya Luci berarti tahu kalau Seva memiliki banyak uang. Ia tinggal bertanya darimana asal-usul uang Seva.
"Nanti kamu minta saja sendiri," ucap Helen.
Luci menghela napas. "Aku tidak memintanya, lagian kenapa kamu bisa dikasih uang sebanyak itu? Memangnya mau buat apa?" tanyanya memastikan.
"Aku ini tidak seperti kamu, semua bawahan ku harus diberi gaji, kasihan mereka juga memiliki kehidupan," jawabnya tidak berdaya.
"Loh, bukannya itu sudah tanggung jawab Seva, kan dia bosnya sekarang," cecar Luci.
"Oh ..." Luci mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
Wanita itu beranjak dari ranjang langsung ke kamar mandi dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun.
Helen bergegas mengikuti Luci, melemparkan ponselnya di ranjang begitu saja. Mereka berdua memang sekarang senang mandi bersama, setelah menjadi wanita Seva.
...***...
Sementara itu Seva sudah berada di bawah bersama dengan Roni dan Arlot.
"Kapan kamu akan kembali ke markas besar?" tanya Seva kepada Roni.
"Satu atau dua hari lagi tuan, agar Martis tidak curiga dengan saya," jawabnya yakin.
Seva mengangguk mengerti. "Nanti aku ikut denganmu langsung, aku mau lihat seketat apa penjaga di markas besar."
"Tapi tuan, bukankah itu sangat berbahaya?" tanya Roni khawatir.
__ADS_1
"Aku akan menyamar jadi bawahanmu," jawab Seva enteng.
Roni dan Arlot saling menatap, mereka berdua mengangguk bersama, mau bagaimanapun mengerti tujuan Seva, walaupun itu sangat beresiko.
Arlot tidak bisa melarang sama sekali apa yang akan dilakukan Seva, mengingat bosnya itu selalu berhasil jika menjalankan misi, jadi dia percaya saja apa yang akan dilakukan pria itu nantinya.
"Tuan, saya mendapat kabar dari Pak tua Hans, Sky Industri sudah mulai beroperasi, sekarang kita hanya perlu memperluas jangkauan dan tentu modal untuk Sky Industri," ucap Arlot menjelaskan.
"Masalah modal tenang saja, dan untuk memperluas jangkau, South Land akan menjadi tempat yang pas aku rasa," jawabnya sambil menyeringai.
Roni sekarang percaya kalau Seva memang memiliki bisnis setelah mendengar percakapan bos barunya itu dengan Arlot.
Pria itu mendengarkan dengan seksama apa yang akan dilakukan Seva selanjutnya. Ia ingin tahu sejauh mana bos barunya itu membuat rencana.
Semakin Roni mendengarkan, ia semakin dibuat terkejut dengan pernyataan Seva yang berniat mengembangkan bisnisnya hingga bisa menjadi orang nomor satu di dunia. Padahal awalnya ia hanya berharap agar Seva seperti Rokie Mekaja, tapi ternyata ambisi Seva malah lebih besar dari perkiraannya.
Saat mereka bertiga sedang mengobrol-ngobrol, membahas masalah penguasaan South Land.
Dua wanita Seva turun dari atas, mereka berdua tampak sudah sangat rapi dan tentunya cantik.
"Sayang, kamu memberi Helen 10 Milyar dolar Original, tapi aku tidak di kasih juga," Rajuk Luci manja sambil duduk di pangkuan prianya itu.
Seva mengernyitkan dahi, ia menatap Helen yang duduk di sampingnya, wanita itu hanya menggendikan bahu sambil tersenyum lugu, membuat Seva tidak bisa berkata-kata.
Pria itu menghela napas. "Black Card yang kamu bawa-bawa itu memangnya kamu tahu isinya berapa?"
"Black Card pemberian kamu di kota Original?" tanya Luci memastikan.
Seva mengangguk. "Itu cukup untuk membeli sebuah pulau, kalau kamu tidak mau, sini aku ambil kembali ganti yang isinya 10 Milyar dolar saja," jawabnya enteng sambil menengadahkan tangannya.
Hening, Roni, Arlot, Helen dan Luci tertegun mendengar perkataan Seva, mereka tidak pernah menyangka jika uang Seva akan sebanyak itu.
Seva melihat mereka semua tertegun hanya tersenyum, karena ia tahu semuanya terkejut saat ia mengatakan hal tersebut.
"Bagaimana mau di tukar?" tanya Seva sambil tersenyum.
"Ti-Tidak, kenapa kamu tidak bilang dari awal," Luci memoncongkan bibirnya.
"Kalian berdua wanita spesial buatku, aku juga sudah memberitahu Helen, kalau uangnya kurang tinggal bilang saja, kalian jangan iri satu sama lain, aku berusaha seadil mungkin," ucapnya penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Luci tanpa ragu langsung mengecup bibir Seva, tidak perduli di sana ada Arlot dan Roni, karena kata-kata Seva terlalu manis untuknya.