
Setelah transaksi itu selesai, Roni kembali kedalam mobil. Pria itu menghela napas lega saat didalam mobil.
"Kelompok mana mereka Roni?" tanya Seva pura-pura tidak tahu.
"Mereka bukan Mafia tuan Adelray, melainkan kepolisian North Land," jawabnya yakin.
"Cih, ternyata mereka lebih buruk dari sekumpulan Mafia," celetuk Seva kesal.
Roni menggendikan bahunya. "Begitulah kehidupan sekarang, anda punya nama maka anda akan disegani, padahal dibalik itu semua niat mereka sama saja. Hanya berlindung di nama baik kepolisian, tidak seperti kita."
"Kamu benar, kita jalan lagi," perintah Seva pelan.
Roni mengangguk mengerti, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke tempat Martis berada.
Seva sepanjang jalan memikirkan Negara tempat tinggalnya. Ia berniat untuk membasmi para Polisi yang tindakannya lebih buruk dari Mafia tersebut. Namun, pria itu tidak terburu-buru agar rencananya berjalan lancar.
...***...
Silas Norton, dia atasan Luci sebum bertemu dengan Seva. Pria itu menyuruh Luci masuk kedalam kelompok Gangster Ghost untuk memberikan informasi transaksi yang akan mereka lakukan.
Silas dan bawahannya memang mengincar transaksi Gangster. Karena kelompok tersebut lebih lemah dari para Mafia, dengan begitu mereka bisa menjual hasil jarahannya kepada para Mafia, seperti yang dilihat Seva barusan.
"Ada apa tuan? Anda sepertinya sedang khawatir?" tanya bawahan Silas yang duduk didekatnya.
"Tidak apa-apa, hanya saja tadi seperti melihat seseorang yang aku kenal di mobil tuan Roni," jawabnya datar.
Bawahan Silas yang menggantikan peran Luci itu mengerutkan keningnya. "Orang yang anda kenal, siapa?" tanyanya memastikan.
Silas menggelengkan kepalanya. "Aku juga belum yakin, karena tidak mungkin dia bersama dengan kelompok tuan Martis."
__ADS_1
Silas tentu tidak pernah berpikir kalau Seva dan Luci akan bergabung dengan Martis, pasalnya mereka tidak memiliki kenalan sama sekali di Southland.
Kapal yang membawa Silas dan para bawahannya berlayar kembali meninggalkan Southland.
...***...
Sementara itu ditempat Seva berada ia sudah hampir sampai dikediaman Martis.
Terlihat bangunan nan megah layaknya sebuah Istana, bahkan Mansion Drake yang begitu megah di kota Original kalah megah dengan kediaman Martis.
"Tuan kita su ... siapa kamu!?" Roni terkejut saat melihat spion dalam mobil, ia reflek langsung menoleh ke belakang sambil menodongkan pistolnya.
"Brengsek, berani sekali kamu menodongkan senjata kepadaku, Roni!" bentak Seva.
"Eh ...," Roni langsung menurunkan senjatanya, ia paham betul suara siapa yang membentaknya.
Roni menelan ludahnya. Ia tidak menduga sama sekali jika Seva bisa melakukan penyamaran yang sempurna seperti yang ia lihat sekarang.
"Bagaimana, apa aku sudah terlihat seperti sebelumnya?" tanya Seva memastikan.
Roni tersadar, pria itu mengangguk pelan dengan raut wajah masih tidak percaya kalau orang itu Seva.
"Ayo turun!" tegur Seva seraya turun dari mobil.
Roni bergegas turun dari mobil, ia menghirup napas dalam-dalam agar kembali tenang seperti sebelumnya.
Pria itu berusaha agar tidak terkejut dengan kemampuan Seva lagi yang menurutnya sudah di luar pemahaman manusia biasa.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam kediaman Martis dengan mobil yang harus terparkir di luar gerbang.
__ADS_1
Aneh memang peraturan yang di buat Martis, hanya mobilnya yang boleh masuk kedalam gerbang kediamannya.
"Tuan Roni selamat datang kembali," sapa penjaga gerbang sopan.
"Buka gerbangnya!" perintah Roni tegas.
Penjaga gerbang mengangguk, mereka langsung membuka gerbang tersebut. Seva dan Roni masuk kedalam tanpa di curigai para penjaga gerbang.
Roni sudah terbiasa membawa klien untuk bos besarnya itu. Karena itulah tidak ada yang curiga padanya.
Seva menyapu pandangannya ke kiri dan ke kanan, terlihat banyak sekali penjaga yang membawa senjata. Mereka semua tampak sangat waspada, bahkan gerak-gerik Seva saja terus dipantau.
"Tenang saja tuan, mereka hanyalah orang-orang bodoh, halangan kita sebenarnya ada didalam," ucap Roni lirih.
Seva mengangguk mengerti, ia tidak berbicara sepatah kata pun agar tidak ada yang curiga.
Benar saja saat sampai didepan pintu Istana Martis, terlihat seorang pria dengan sorot mata tajam menghentikan mereka berdua.
"Siapa dia Roni?" tanyanya sambil menatap tajam Seva dari atas sampai ke bawah.
"Tamu tuan Martis, dia akan menwarkan senjata bagus untuknya," jawab Roni enteng.
Pria itu tidak percaya begitu saja dengan Roni, ia mendekat ke arah Seva memutarinya untuk memastikan tidak ada yang mencurigakan.
"Sepertinya anda pandai berkelahi tuan," ucap pria tersebut.
Roni mengepalkan tangannya, penjaga Martis yang satu itu memang bisa melihat bentuk tubuh seseorang walau masih terbungkus pakaian.
"Saya memang bisa beladiri tuan, tapi hanya sebatas beladiri dasar, itu pun saya harus melatihnya bertahun-tahun," jawab Seva polos.
__ADS_1
Pria tersebut mengernyitkan dahi, ia semakin menatap tajam Seva.
Roni bersiap untuk kemungkinan terburuk. Karena ia sangat tahu kalau Mata Elang julukan pria itu tidak bisa di kelabui dengan mudah.