
Seva mengepalkan tangannya melihat gadis tersebut mencoba untuk menutupi dirinya dengan kedua tangannya sambil memohon ampunan dan menangis.
"Hahaha... gadis miskin sepertimu memang layak menjadi pelacur!" ucap seroang pria yang merupakan pemimpin kelompok pembuly gadis tersebut.
Banyak dari mereka yang mengambil foto dari gadis tersebut, jelas saja gadis tersebut benar-benar sangat malu. Namun, mereka semua tidak ada yang membantunya malah tertawa senang melihat hal tersebut.
"Tolong berikan pakaianku," pinta gadis itu sambil menangis terisak.
"Maksudmu yang ini?" seorang pria menenteng pakaian si gadis yang sudah di siram bensin lalu di bakar.
Hahaha
Tawa semua orang yang ada di sana pecah, mereka semua seolah merasa senang karena bisa mempermainkan gadis tidak bersalah tersebut.
"Sekarang apa kau masih bisa jual mahal padaku, Sintia?" tanya pemimpin kelompok pembuly.
Pria itu mendekat ke arah gadis tersebut yang sedang menangis terisak dan ketakutan, tangannya mengulur untuk meraih rambut si gadis.
Slas
Pral
Bug
Hanya dalam sekejap mata, tangan pemimpin pembuly terlepas dari tempatnya jatuh ke tanah.
Argh!
Sesaat kemudian si pria baru menyadari tangannya terpotong membuatnya berteriak histeris karena kesakitan.
Seva langsung melepaskan jasnya, ia memakaikannya pada sang gadis. "Pakai itu, ada aku di sini kamu tenang yah," ucapnya lembut sambil mengusap kepala si gadis.
Gadis tersebut mendongak menatap Seva dengan air mata yang berlinangan, tampak juga matanya sudah sangat bengkak, menunjukkan kalau sang gadis sudah menangis sangat lama.
Semua orang jelas saja terkejut dengan tindakan Seva, apa lagi pemimpin kelompok Pembuly tangannya terpotong olehnya.
Seva berdiri dengan tegap menatap semua orang yang ada di sana. "Hapus semua foto atau video yang kalian ambil jika tidak, kalian akan bernasib sama dengannya!"
__ADS_1
Suara Seva begitu mengintimidasi, membuat mereka yang ada di sana sangat ketakutan, apa lagi pemimpin kelompok pembuly yang sangat ditakuti saja sampai ditebas tangannya begitu saja.
Mereka semua seketika menghapus semua foto dan Video yang telah mereka ambil.
"Siapa kau! Berani sekali ikut campur urusanku! Apa kau tidak tahu siapa a...."
Swuzz
Suara pria tersebut tercekat ketika pedang Seva sudah menyentuh perutnya, hanya tinggal menebasnya, maka semua isi perutnya pasti akan tumpah, mengingat pedang Seva sangatlah tajam.
"Paling benci aku berhadapan dengan manusia seperti kalian! Apa kamu pikir status mu bisa membuat aku takut, Hah!" raung Seva dengan sangat keras, membuat si pria benar-benar ketakutan sambil memegangi tangannya yang terpotong.
Teman-temannya hanya bisa terpaku melihat bosnya sedang di ancam Seva, mereka tidak berani bergerak sedikitpun.
Kerumunan yang melihat hal tersebut juga tidak ada yang berani buka suara sama sekali, tempat tersebut benar-benar menjadi sangat tegang dan hening.
Pral
Argh!
Pemimpin kelompok pembuly berteriak histeris lagi saat tangan satunya yang sedang memegangi tangan yang terpotong kembali ditebas Seva.
Semua orang menelan ludah melihat perlakuan Seva yang begitu dingin tersebut, pria itu mendekati orang yang telah membakar pakaian wanita yang di tolongnya.
Brug
"Ampun tuan, saya hanya di suruh," ucap Pria itu sambil bertekuk lutut dihadapan Seva.
"Ulurkan tangan kananmu!" tegur Seva.
"Tuan saya min...."
"Ulurkan tangan kananmu atau aku tebas lehermu!" bentak Seva memotong perkataan pria tersebut.
Pria itu menelan ludah, keringat dingin bercucuran di dahinya. Ia dengan takut mengulurkan tangan kanannya, semua orang yang melihat hal tersebut menelan ludah.
Slas
__ADS_1
Pral
Argh!
Pria tersebut berteriak histeris ketika tangannya dipotong bagikan roti saja, sangat mudah seperti tidak memiliki tulang sama sekali.
Seva mengibaskan pedangnya, ia lalu memasukkan pedang tersebut ke penyimpanan dimensi tidak perduli semua orang melihatnya.
"Kita pergi dari sini," Seva menghampiri si gadis lalu memapahnya untuk berdiri, membawanya kedalam mobil.
Semua orang memberikan jalan ke Seva sambil menundukkan kepala, tidak berani sama sekali menatap Seva.
Seva membukakan pintu mobil, menyuruh gadis tersebut masuk kedalam, baru dirinya juga masuk.
Tanpa menunggu, ia menginjak pedal gas dan meninggalkan tempat itu dengan sesegera mungkin, pria itu melihat ke arah si gadis yang masih menangis sesenggukan.
"Kamu tinggal dimana? Biar aku antar pulang," ucap Seva ketika mobil sudah cukup jauh dari lokasi kejadian.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, tentu saja hal tersebut membuat Seva bingung, pasalnya bukannya menjawab malah menggelengkan kepala saja.
Seva menghela napas. "Kalau kamu tidak berbicara, bagaimana aku bisa membantumu?"
Gadis itu menatap Seva. "Aku hanyalah pembantu di rumah pria yang kamu tebas kedua tangannya, karena sudah seperti ini, aku tidak memiliki tempat tinggal lagi," ucapnya tidak berdaya dengan suara parau.
"Apa! Kamu pembantu rumah tangga di sana? Lantas kamu sudah sering mendapatkan perlakuan seperti ini?" tanya Seva memastikan.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Ini yang paling kelewatan, aku kira tuan muda serius mau mendaftarkan ke Universitas, tapi ternyata dia malah memperlakukanku seperti ini."
Air mata gadis ini mulai luluh kembali, Seva benar-benar di buat tidka berdaya melihatnya, pria itu mencoba untuk tetap tenang, memberikan solusi yang baik buat gadis tersebut. Ia kemudian kepikiran dengan Silvia yang tinggal di markas wanita seorang diri.
"Apa kamu mau tinggal denganku, maksudnya ada juga wanita yang nasibnya sama seperti kamu, kalian bisa berbagi tempat tinggal di sana, bagaimana?" tanya Seva sambil menyetir.
"Anda serius tuan?" tanya gadis tersebut.
"Aku serius, panggil saja aku Seva, sepertinya kita seumuran," jawabnya lembut.
Gadis itu menghapus air matanya. "Terima kasih Seva."
__ADS_1
Sebelum pergi ke markas, Seva mengajak gadis itu untuk berbelanja, sekalian membelikan pakaian untuk Silvia, mengingat pakaian di markas semuanya milik wanita penghibur karena kebanyakan sangat terbuka.