
Seva mulai mengkoordinasi bawahan Levi agar memperketat tempat tersebut, mengingat sekarang mereka sudah masuk kedalam kota tidak dipinggiran lagi.
"Levi, aku tidak tahu seberapa besar nyali mu menjadi pemimpin mereka semua, tapi aku tahu kamu pasti bisa membuat mereka berguna untukku, tunjukkan padaku kalau kamu layak menjadi tangan kananku!" ucap Seva tegas.
"Tuan, saya tidak akan mengecewakan anda!" jawabnya yakin.
"Bagus, kamu urus semuanya, aku akan beristirahat sebentar, sekalian kamu pasok kebutuhan kita dari tempat kamu yang dulu, pindahkan mereka semua ke wilayah ini," perintahnya lagi sembari berlalu meninggalkan Levi.
Pria paruh baya tersebut mengangguk mengerti, ia tahu kalau orang yang menjadi bosnya itu berniat untuk fokus memperkuat wilayah tersebut terlebih dahulu.
Seva pergi ke lantai atas, dimana tempat senjata yang akan dikirimkan bawahan Martis berada, wanita yang bersamanya juga terus mengikuti.
"Tuan Adelray," bawahan Levi menyapa Seva dengan sopan.
"Bagaimana kualitas senjata-senjata ini?" tanyanya memastikan.
"Semuanya bagus tuan, tapi yang membuat saya takut ini barang berharga buat mereka, saya yakin jika pengiriman senjata ini tidak tepat waktu, cepat atau lambat tu... eh, Martis pasti akan menyuruh orangnya mengecek langsung," jawab pria itu yakin.
Seva mengangguk mengerti. "Tidak apa, kalian fokus saja menjaga wilayah kita, jika ada mereka bunuh yang yang melawan."
"Baik tuan," jawab pria itu yakin.
"Lantai atas tempat apa?" tanya Seva sambil melihat ke tangga lantai terakhir.
"Ruang santai tuan, kami sudah melihatnya, di sana sepertinya cocok buat anda," jawabnya lembut.
Seva tersenyum, ia menepuk bahu pria tersebut dan langsung pergi ke lantai atas, wanita yang bersama Seva terus mengikutinya.
Saat Seva sampai di lantai lima, pria itu tersenyum lebar, karena di sana memang benar-benar ruang santai, ada bar, tempat karaoke, bahkan kamar juga ada.
"Nama kamu siapa?" tanya Seva kepada wanita yang mengikutinya sambil berjalan masuk kedalam ruangan tersebut.
"Silvia tuan," jawabnya lembut.
__ADS_1
"Baiklah Silvia, kamu akan tinggal di sini nantinya, kita bisa berbagi kamar," ucapnya tanpa perduli perasaan wanita tersebut.
Silvia tertegun, ia menatap Seva lekat-lekat yang sedang mengelilingi ruangan tersebut, wanita itu tidak tahu harus berkata apa, mengingat kata-kata berbagi kamar seolah menyiratkan dirinya untuk tidur bersama dengan pria yang menolongnya tersebut.
"Aku harus bagaimana ini? Apakah tidak apa tidur dengannya? Kenapa jadi begini," ucap Silvia dalam hati gundah.
Silvia jelas saja gundah, walaupun Seva penolongnya, akan tetapi ia juga belum mengenalnya lebih dekat.
Wanita itu pikir kalau Seva akan menjadikan dirinya sebagai wanitanya, ia benar-benar bingung harus berbuat apa.
"Kenapa kamu bengong? Bersihkan dirimu dulu, didalam juga ada banyak pakaian wanita, kamu bisa mengenakannya," tegur Seva setelah memeriksa kamar tersebut.
Silvia hanya mengangguk, wanita itu masuk kedalam kamar tersebut, ia berpikir di suruh mandi untuk bersiap melayani Seva.
Wanita itu mau mengunci pintu kamar tapi tidak berani, akhirnya ia hanya bisa menghela napas lalu lekas membersihkan diri.
Wajar saja jika Silvia berpikiran kalau Seva akan menidurinya, mengingat para Mafia sangatlah kejam. Namun, wanita itu juga sudah mengambil keputusan untuk ikut dengan Seva, jadi mau tidak mau harus bisa mengikuti perintahnya.
Silvia juga mengenakan gaun yang sedikit tertutup, wanita itu sebenarnya belum siap jika harus melayani Seva, tapi mengingat keputusannya sudah bulat, wanita itu terpaksa mengenakannya.
Beberapa menit berlalu Silvia sudah menunggu Seva, akan tetapi pria itu tidak juga masuk kedalam kamar, membuat dirinya sedikit gelisah, hingga akhirnya ia pun memutuskan keluar dari kamar.
Setelah keluar dari kamar, wanita itu mengernyitkan dahi melihat Seva yang sedang memainkan ponselnya.
"Tu-Tuan, saya sudah selesai," tegurnya gugup pada Sean.
Sean menoleh ke arah Silvia, ia tersenyum lebar lalu beranjak dari duduknya. Silvia menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata, bersiap menunggu perlakuan Seva selanjutnya. Namun, ia tidak merasakan pria itu menyentuhnya sama sekali.
Silvia membuka matanya, ia tidak melihat Seva didepannya, ia reflek menoleh ke belakang dan Seva sudah masuk kedalam kamar.
"Loh kenapa dia langsung masuk kedalam? Apa aku harus mengikutinya?" Wanita itu benar-benar bimbang, ia menghirup napas dalam-dalam kemudian berjalan ke arah kamar.
Sayangnya dugaan Silvia salah besar, ketika ia memegang gagang pintu, ternyata dikunci dari dalam membuat wanita itu tertegun.
__ADS_1
Wanita itu mencoba mencerna apa yang terjadi, karena pemikirannya tidak sesuai dengan sikap Seva. Hingga akhirnya Silvia menunggu Seva keluar dari kamar untuk menanyakan status dirinya ditempat tersebut.
Tidak berselang lama Seva keluar dengan mengenakan jas baru yang memang ada didalam lemari kamar tersebut.
"Tu-Tuan Adelray, apa anda tidak ingin bersamaku?" tanyanya lugu.
Seva mengernyitkan dahi. "Bersamamu, maksud kamu?"
"Eh... a-anu... ituloh, itu...." Silvia memainkan jarinya.
"Astaga, kamu berpikir sampai sejauh itu? Bukannya kamu bilang sendiri tidak mau dijadikan wanita penghibur? Aku mau kamu tinggal di sini agar kamu aman, kamu cukup melayaniku untuk membuat makanan atau yang lainnya, bukan masalah kamar, hadeh...." Seva menghela napas tidak berdaya.
"Eh...." Silvia tercengang mendengar pernyataan Seva, wanita itu tidak menyangka, ternyata masih ada pria yang tidak mementingkan napsu nya.
"Sudah, kamu jangan terlalu berpikiran lebih, hiduplah dengan nyaman di sini, selama ada aku kamu tidak perlu khawatir," ucapnya lembut sambil menepuk bahu Silvia lalu meninggalkannya.
Wanita itu langsung menitihkan air mata, ia benar-benar bertemu seorang malaikat baginya. Silvia sangat berterima kasih karena Seva memperlakukannya layaknya wanita yang berharga.
Sementara itu Seva turun, terlihat beberapa senjata sudah di bagikan ke para bawahan Levi lainnya, hanya tersisa senjata berat seperti basoka dan sejenisnya.
Seva mengernyitkan dahi kenapa tidak ada yang membawa senjata tersebut, padahal dengan senjata itu bisa meratakan puluhan orang sekaligus.
Pria itu bergegas turun kebawah, terlihat sudah ada penjaga yang bertugas di setiap lantai. Mereka menyapa Seva dengan sopan ketika pria itu turun ke lantai paling bawah.
"Levi, kenapa tidak ada yang menggunakan senjata berat?" tanya Seva saat sampai dilantai bawah.
"Tuan, senjata itu mahal, sayang sekali kalau digunakan," jawabnya sopan.
Seva menghela napas. "Pemikiran kamu bisa saja membunuh bawahan mu, gunakan senjata itu untuk yang berjaga di depan, semua orang juga wajib pegang granat, aku lihat ada banyak granat di sana, masalah uang kamu jangan khawatir, kalau bisa kamu pesankan mobil Barakuda untuk mengangkut orang-orang mu nanti!" perintahnya tegas.
Levi tertegun untuk sesaat, pasalnya ia tidak mengira jika bosnya sangatlah royal. Pria paruh baya itu mengira kalau Seva akan mencari keuntungan saja, tapi siapa yang menyangka kalau pria tersebut malah menyuruhnya untuk memperkuat tempat tersebut.
"Ba-Baik tuan, saya akan melakukan sesuai dengan perintah anda!" jawabnya lugas.
__ADS_1