
Seva masih berada di kediaman keluarga Baliem. Pria itu sedang berkeliling tempat tersebut dengan Gyuri yang menemaninya setelah selesai mengobrol dengan para petinggi keluarga Baliem.
"Gyuri, bukankah wilayah ini termasuk daerah kekuasaan Martis?" tanya Seva memastikan.
"Benar tuan," jawabnya singkat.
"Tapi kenapa Martis tidak mengajak kalian bekerjasama? Bukankah seharusnya mereka merekrut orang-orang seperti kalian?" tanyanya lagi.
Gyuri tersenyum. "Tuan Adelray, bukankah saya sudah pernah bilang ke anda, kalau keluarga kami tidak pernah menunjukkan kemampuan beladiri didepan umum kecuali terdesak saja. Karena itulah tidak ada yang tahu sama sekali tentang kemampuan kami, mereka menganggap keluarga Baliem sama seperti keluarga lainnya," jawabnya menjelaskan.
Seva menganggukkan kepalanya mengerti. "Dengan kata lain Martis itu bodoh, apakah ada keluarga yang sama seperti kalian?"
Gyuri menggelengkan kepalanya. "Di wilayah ini hanya keluarga kami yang memiliki kemampuan beladiri tuan."
Seva menghela napas panjang, padahal ia berharap ada keluarga lain yang memiliki kemampuan beladiri seperti keluarga Baliem, agar dia banyak memiliki dukungan yang kuat. Namun, pria itu sepertinya harus puas walaupun hanya keluarga Baliem saja yang mereka temukan.
Setelah melihat-lihat kediaman keluarga Baliem. Seva berpamitan untuk kembali pulang ke markas pertama yang di kuasainya.
Sesepuh keluarga Baliem mengantar Seva hingga di depan gerbang kediaman mereka.
Gyuri mengantar Seva dengan mobilnya, pria itu tampak senyum-senyum sendiri saat menyetir mobil untuk Seva.
"Kamu kenapa Gyuri? Apa otakmu sudah mulai tidak waras?" tegur Seva saat melihat Gyuri yang senyum-senyum sendiri dari spion dalam mobil.
"Tidak apa tuan, saya hanya senang saja akhirnya memiliki bos yang bisa di andalkan," jawabnya sopan.
Seva mengernyitkan dahi. "Kamu baru mengenalku beberapa hari, memangnya apa yang membuat kamu sangat percaya denganku?" tanyanya sambil melihat keluar mobil.
"Sikap dan perkataan anda, itu sudah cukup membuat saya yakin," jawabnya lugas.
Seva hanya menghela napas mendengar jawaban dari Gyuri. Ia tidak bertanya lagi kepada pria itu, lagi pula bagus juga jika Gyuri sudah percaya dengannya.
Mobil mereka membelah jalanan kota Hut yang tampak sangat lancar dan senggang.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mereka pun hampir sampai di markas pertama yang di kuasai Seva. Namun, baru saja mobil akan masuk ke wilayah markas tersebut. Jalanan di sana ditutup, terlihat puluhan orang membawa senjata menghentikan semua kendaraan yang ada di sana.
"Kenapa berhenti Gyuri?" tegur Seva saat mobil tiba-tiba berhenti.
"Bawahan Martis tuan, mereka sepertinya sedang memblokir jalan," jawab Gyuri yakin.
"Apa!" Seva terkejut, pria itu langsung keluar dari mobil.
"Tuan, anda mau kemana?" tanya Gyuri memastikan.
Seva tidak menjawab, pria itu langsung menggunakan gerakan cepatnya untuk ke markas.
Tampak terlihat wajah cemas Seva, pria itu takut terjadi apa-apa dengan Helen dan yang lainnya, walaupun ada Arlot di sana.
...***...
Sementara itu di markas pertama yang Seva kuasai ....
Drttt!
Drtt!
Terdengar suara senapan sergap bersahut-sahutan saat bawahan Martis memberondong markas tersebut.
"Pertahankan posisi masing-masing! Tetap bertahan sampai bantuan datang!" seru Arlot memberikan perintah.
"Baik tuan!" jawab mereka semua dengan sigap.
Terlihat markas benar-benar di hujani peluru, membuat Arlot dan yang lainnya tidak bisa lengah sedikitpun.
Di lantai atas, Helen dan Luci juga memegang senjata, sementara Sintia dan Silvia ketakutan, mereka berdua jongkok di pojokan sambil berpelukan.
Terdengar suara Helikopter di atas gedung dan bunyi derap kaki yang dari atas. Helen dan Luci mendongak mereka lalu saling menatap dan mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Kalian semua masuk kedalam kamar, jangan membuka jika bukan kami yang memanggil!" perintah Helen tegas.
Bartender, Pelayan dan kedua wanita yang sedang ketakutan masuk kedalam kamar, sementara Helen dan Luci menunggu penyerang dari balik pintu.
Suara derap langkah kaki semakin terdengar, Helen dan Luci menggenggam senjata mereka dengan erat.
Kedua wanita itu siap untuk menembak jika ada orang yang masuk kedalam ruangan tersebut. Mereka berdua bersandar di dinding dekat dengan pintu.
Duar!
Pintu hancur lebur saat sebuah peledak di aktifkan, membuat Helen dan Luci sedikit terkena efek ledakan tersebut dan terhempas jatuh.
Beberapa orang dengan senapan sergap masuk ke dalam. Namun, Helen dan Luci langsung menyerang mereka dengan sangat cepat.
Haaa!
Drtt!
Drrt!
Keduanya menembaki orang-orang yang masuk tanpa pandang bulu, menghujani mereka dengan peluru hingga tewas seketika.
Swut
Dak
Sebuah granat di lemparkan ke dalam, Helen dan Luci membelalakkan mata lebar. Mereka berdua langsung melompat untuk berlindung, tapi sayangnya terlambat.
Duar!
Duak!
Kedua wanita itu terhempas hingga menabrak dinding, terkena efek dari ledakan tersebut. Mereka berdua meringkuk di lantai dengan tubuh yang penuh dengan luka sambil mulut mengeluarkan darah.
__ADS_1