
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu, tampak Gyuri sangat serius untuk mendengarkan pembicaraan Seva.
"Apa kamu mengenal Sebastian Vettel, Gyuri?" tanya Seva langsung.
Gyuri mengerutkan keningnya. "Sebastian Vettel? Bukannya dia salah satu pebisnis tersukses di sini?"
"Awalnya aku juga tahunya dia seorang pebisnis, aku sempat bertemu dengannya di Original mengajakku bekerjasama masalah bisnis," ucap Seva geram.
"Lalu apa yang menjadi masalahnya tuan?" tanya Gyuri memastikan.
Seva menopang dagu dengan kedua tangannya yang ditautkan. "Aku sempat menginterogasi salah satu penyerang markas dan dia mengatakan kalau yang menyuruh mereka Sebastian," ucapnya dingin.
Gyuri sedikit terkejut dengan pernyataan Seva, pasalnya Sebastian selama ini dikenal hanya sebagai pebisnis, tidak ada yang tahu kalau pria tua itu memiliki ambisi sama seperti Seva.
"Tuan Adelray, apakah anda yakin Sebastian pelakunya?" tanyanya memastikan.
Seva menggelengkan kepalanya. "Aku belum yakin seratus persen, tapi jika itu perbuatan Martis, seharusnya Roni mengetahuinya. Mengingat dia sekarang menjadi tangan kanan Martis satu-satunya," ucapnya yakin.
Gyuri mengangguk mengerti, seharusnya memang Roni tahu jika Martis yang melakukan penyerangan. Namun, pria itu juga berpikir kalau masih ada yang di sembunyikan Roni, seharusnya walaupun Martis tidak melakukan penyerangan, bawahan baru Seva tersebut tahu ada kelompok Mafia lain di Southland.
"Tuan Adelray, saya kurang paham dengan para Mafia yang ada di Southland selain Martis, ada baiknya anda bertanya pada Roni secara langsung. Karena saya yakin dia pasti tahu ada kelompok Mafia lain di Southland," ucapnya memberikan saran.
Seva mengangguk mengerti. "Kamu benar, aku seharusnya tidak seceroboh ini, besok aku akan bertanya kepada Roni secara langsung."
Saat keduanya sedang mengobrol, Sintia datang membawa dua kopi kalengan dengan Snack yang ia bawa dari Markas.
"Maaf, hanya ada ini untuk sekarang," ucapnya lembut sambil menaruh minuman itu di meja.
__ADS_1
"Nona, anda tidak perlu repot-repot," Gyuri merasa sungkan di ladeni wanita Seva.
"Tidak apa, hanya sebatas minuman," jawabnya lembut.
Seva tersenyum simpul. "Terima kasih Sintia,"
Sintia balas tersenyum lalu pamit undur diri. Gyuri merasa iri dengan Seva, pasalnya pria itu memiliki wanita-wanita yang sangat perhatian, ditambah semuanya rukun tidak ada yang terlihat bermusuhan satu sama lain.
Melihat Gyuri yang menatap Sintia terus-menerus, Seva menegurnya. "Apa kamu menyukainya?" tanyanya langsung.
Sontak saja Gyuri terkejut, ia seketika langsung meminta maaf. "Maafkan saya tuan Adelray, saya tidak ada maksud un ...."
"Tidak perlu meminta maaf," potong Seva langsung saat Gyuri belum selesai bicara.
Gyuri tentu saja bingung dengan perkataan Seva, pria itu menatap bosnya itu dengan seksama, memang tidak ada raut wajah marah sama sekali.
Gyuri tersenyum getir. "Saya tidak berani tuan."
"Hahaha ... kamu ini benar-benar berbeda Gyuri," tawa Seva pecah.
Gyuri hanya bisa menghela napas. Mereka berdua lanjut mengobrol-ngobrol sebentar, sebelum akhirnya Gyuri pamit pulang.
Seva melihat para wanita ke atas, apakah mereka sudah tidur apa belum.
Dikamar Sintia dan Silvia keduanya tampak sudah tertidur lelap, mengingat pintu terkunci dan tidak ada suara berisik.
Seva ke kamar satunya, ia membuka pintu karena kamar di kunci. Pria itu mengerutkan kening saat melihat didalam kamar.
__ADS_1
Luci sudah tertidur lelap, sementara Helen sedang bermeditasi layaknya Kultivator. Seva tersenyum getir saat melihat hal tersebut, ia menghela lapas lalu menutup pintu kembali tidak ingin mengganggu Helen yang sedang mengejar ambisinya.
"Wanita yang tidak terduga, begitu percayanya dia dengan semua omong kosong ku," ucapnya seraya meninggalkan kamar tersebut.
Seva turun ke lantai bawah kembali, ia masuk kedalam kamar yang ada di sana lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
Pria itu menatap langit-langit kamar, memikirkan kehidupannya yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
"Aku harap semua rencana ku akan berjalan lancar kedepannya." ucap Pria itu sambil memejamkan matanya.
Seva dengan cepat terlelap, pria itu tampak terlihat sangat lelah. Karena beberapa hari ini telah melakukan berbagai pertempuran, walaupun tubuhnya tergolong sudah berbeda dari manusia biasa, akan tetapi ia juga membutuhkan istirahat.
...***...
Ke esokan harinya Seva terbangun dari tidurnya, tubuhnya terasa berat saat akan bangun.
Ketika pria itu membuka matanya, terlihat Helen yang sedang memeluk dirinya dikamar tersebut.
"Kamu sudah bangun?" tanya Helen yang ternyata tidak tidur.
Seva menoleh ke arah wanita itu. "Kenapa kamu ada di sini?"
Helen tersenyum simpul. "Semalam aku mencari kamu, minta di ajarkan merasakan energi spiritual, eh ... kamu sudah tertidur, jadi aku tidur di sini," jawabnya enteng.
Seva menghela napas tidak berdaya, ia beranjak duduk lalu pergi ke kamar mandi. Helen mengikutinya tapi Seva melarangnya.
"Selama pikiran kamu tidak bisa fokus, kamu tidak akan pernah bisa merasakan energi spiritual," ucapnya langsung yang membuat Helen seketika tertegun.
__ADS_1
Helen mencerna ucapan Seva, wanita itu tampak bersemangat lalu bergegas meditasi lagi di atas ranjang. Seva menggelengkan kepalanya, pria itu mengabaikan wanita yang sedang dipenuhi ambisi menjadi Kultivator.