
Seva naik ke atas, tampak Helen dan Luci sudah menyiapkan anggur untuknya, pria itu hanya tersenyum saat melihatnya.
Seva duduk bersama dengan kedua wanitanya itu. Silvia dan Sintia hanya melihatnya dari jauh.
"Tempat tidur di sini hanya ada satu, kalian berbagi tempat dengan mereka," ucapnya langsung sebelum keduanya mengajak bergumul.
"Kami tahu itu, lagian kita main berempat juga tidak apa-apa," celetuk Helen.
Seva mengernyitkan dahi. "Mereka berdua sudah aku anggap adik, berbeda dengan kalian, jangan berpikiran aneh-aneh, tunggu sampai aku menguasai kota lainnya."
"Adik? Kamu yakin, mereka berdua cantik-cantik loh," tanya Luci memastikan.
"Berapa kali aku harus bilang pada kalian, aku tidak seperti pria yang lain, jika waktu itu aku tidak marah dengan Helen saja, mungkin dia akan tetap suci sampai sekarang," jawabnya jujur sambil menenggak anggur di gelasnya.
"Tapi sekarang kamu tidak terpaksa kan, menjadikan aku wanitamu?" tanya Helen sambil amerangkul manja Seva.
"Sekarang sudah berbeda, aku akan menjaga kalian berdua," jawabnya yakin.
Luci dan Helen tersenyum, mereka berdua menemani Seva minum, berharap agar pria itu mabuk dan mau melakukannya, akan tetapi sudah habis beberapa botol saja Seva tetap tidak mabuk, malah keduanya yang mabuk terlebih dahulu dan tertidur bersandar di bahu Seva.
Seva menghela napas, ia membawa Luci dan Helen bergantian masuk kedalam kamar, membaringkannya di ranjang, terlihat Sintia dan Silvia belum tidur, mereka masih asyik mengobrol.
"Sudah malam, kalian beristirahatlah, maaf tempatnya jadi sempit, besok aku belikan satu ranjang lagi," ucap Seva merasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa Seva, ngomong-ngomong kamu nanti tidur dimana?" tanya Sintia penasaran.
"Aku bisa tidur dimana saja, tidak perlu perduli kan aku," jawab Seva seraya meninggalkan kamar tersebut.
Sintia dan Silvia merasa kagum dengan Seva, walaupun statusnya sebagai pemimpin Mafia, tapi sikapnya tidak mencerminkan sebagai sosok Mafia sama sekali, pria itu sangat baik, keduanya setuju kalau Seva pria idaman para wanita.
"Beruntung sekali Nona Luci dan Helen, bisa mendapatkan hati Seva," ucap Sintia lirih.
"Kamu benar, tapi mereka juga pantas didekatnya, melihat betapa cueknya mereka dengan pekerjaan Seva, padahal kita saja masih ngeri kalau turun ke bawah," timpal Silvia tidak berdaya.
Sintia mengangguk setuju, mereka jelas kagum dengan kedua wanita itu yang memiliki kepribadian berbeda dengan wanita lainnya.
Keduanya tidak tahu saja, kalau mereka pernah menjadi gangster dan pemimpin Mafia, sebab itulah sifat mereka berbeda dengan Sintia dan Silvia.
...***...
Seva dan bawahannya sedang bersiap, mereka yang akan ikut masuk kedalam mobil Box, agar tidak terlihat oleh musuh.
"Arlot, kau jaga tempat ini, jangan biarkan Helen dan Luci menyusul!" perintahnya tegas.
Arlot menghela napas. "Tuan, mana berani saya memerintah mereka, anda tahu sendiri keduanya sangat susah di atur," jawabnya tidak berdaya.
"Bilang saja pada mereka, kalau tidak menurut aku akan menelantarkan mereka berdua," ucapnya yakin.
__ADS_1
Arlot tersenyum getir, walaupun Seva berkata seperti itu, tetap saja ia tidak berani melakukannya, bisa-bisa ia di hajar oleh kedua wanita itu.
Bukan karena Arlot lebih lebih lemah dari kedua wanita itu, tapi ia tidak mau menyakiti wanita tuannya, karena itulah pria tersebut tidak berani membantah Luci dan Helen.
Seva pun naik mobil bersama Levi, sementara yang lainnya naik mobil Box, mereka menuju tempat yang sudah di rencanakan, agar nanti malam bisa langsung bertindak.
Butuh waktu satu jam untuk sampai didekat markas bawahan Martis yang berada di kota Brugg.
Mobil Box masuk kedalam parkiran gedung-gedung dekat dengan markas tersebut, mereka keluar dari mobil Box dan langsung menyebar sesuai dengan rencana.
Sementara itu Seva dan Levi parkir di bahu jalan dengan markas bawahan Martis. Seva keluar dari mobil sambil menyalakan rokok, sementara Levi tetap berada didalam mobil dengan tubuh gemetar.
"Tuan Seva benar-benar gila, tahu gini aku tidak ikut dengannya," gerutu Levi.
Bagaimana Levi tidak ketakutan, terlihat jelas penjaga markas berlalu lalang didepan gerbang, sementara mereka dengan santainya memarkirkan mobil di dekat sana.
Hanya orang yang mentalnya kuat saja tidak takut sama sekali melihat puluhan penjaga yang memegang senapan sergap.
Seva menghembuskan asap rokoknya dengan santai, pria tersebut menghitung ada berapa jumlah penjaga didepan gerbang.
Sementara itu di markas yang sudah dikuasai, Arlot dan Hackernya sedang memerhatikan wilayah sekitar.
"Tuan Seva benar-benar bukan manusia, apa dia tidak takut mati?" celetuk Hacker yang melihat Seva parkir tidak jauh dari gerbang markas musuh.
__ADS_1
Arlot menghela napas. "Itulah kenapa aku tidak berani membantahnya sama sekali, dia itu Iblis bukan manusia."
Hacker tersenyum kecut, pada dasarnya mereka kurang lebih sudah tahu kekuatan Seva, sehingga sangat yakin kalau tuannya itu terlalu menakutkan untuk ukuran manusia, mereka pikir Seva lebih layak di juluki Iblis menyerupai manusia.