
Sebastian, dia sosok yang cukup kompeten dengan bisnisnya. Baik itu bisnis Ilegal ataupun legal.
Pria tua itu seperti rubah licik yang selalu bisa menempatkan dirinya dimanapun, kapanpun dia berada, contohnya seperti sekarang ini. Dia sedang berusaha masuk dalam bisnis Seva, akan tetapi Sebastian juga manfaatkan pemimpin kota Original yang baru tersebut untuk menghancurkan Martis.
Akan tetapi, Sebastian tidak tahu saja, kalau berurusan dengan Seva, bisa dipastikan ia akan benar-benar jatuh dari rencananya.
...***...
Ditempat Seva berada, pria tersebut sedang bersama dengan Arlot. Melihat para bawahannya yang mulai dilatih layaknya pasukan khusus dalam militer.
"Arlot, siapa pria kekar dengan mata tertutup satu itu?" tanya Seva didalam mobil.
"Brendi tuan, dia salah satu orang terbaik milik Drake yang berasal dari jebolan militer," jawab Arlot menjelaskannya.
"Kemarin aku tidak melihatnya, saat Drake datang menyerang ku," lanjut Seva.
Arlot menghela napas. "Brendi memang aneh tuan, walaupun kuat tapi dia tidak suka berada di garis depan, desas-desus mengatakan kalau dia terobsesi menjadi pelatih pasukan, karena itulah dia senang sekali melatih daripada bertarung."
Seva menyeringai. "Panggil dia kemari, aku ingin berbicara dengannya."
Arlot mengangguk, ia langsung turun dari mobilnya, memanggil Brendi yang sedang melatih pasukan.
Ketika Arlot menghampirinya terlihat sosok tersebut menoleh ke arah mobil Seva, lalu ikut dengan Arlot menghadap bos barunya.
Mereka berdua sampai disamping mobil, Seva turun dari mobil dengan menunjukkan wajah seriusnya.
Arlot menelan ludah ketika melihat wajah serius Seva. Namun, Brendi tidak sama sekali, pria itu malah menatap Seva dengan tajam seolah mengintimidasi bos barunya itu.
Swuzz
Bug
Brugh!
Brendi langsung bertekuk lutut ditanah ketika Seva langsung menghantam perutnya dengan sangat kuat.
Arlot tercengang melihat hal itu, ternyata benar kalau bosnya itu dalam mode serius akan sangat kejam.
"Aku tidak suka dipandang rendah, kamu menghargai aku maka aku juga akan menghargai mu," ucap Seva dingin sambil membenarkan jasnya.
__ADS_1
Brendi berkeringat dingin, ia merasakan pukulan Seva sangatlah keras dan cepat, sampai-sampai ia hanya melihat sekilas gerakannya sama sekali.
Brendi mendongak menatap Seva dengan pandangan sayu, sambil memegangi perutnya dengan kedua tangan. "Ma-Maaf tuan Adelray," ucapnya lembut.
Seva menghela napas. "Kali ini kamu aku maafkan, ada berapa pasukan yang mampu kau latih sendiri?" tanyanya dingin.
"Saya hanya bisa melatih dua ratus pasukan saja tuan," jawabnya jujur.
"Apa kau memiliki teman yang bisa bekerjasama denganmu untuk melatih mereka?"
Brendi menganggukkan kepalanya, masih dengan sorot mata tidak berdaya.
"Panggil mereka untuk membantumu, masalah gaji kamu bicarakan dengan Arlot dan jangan lupa atur kordinasi bersama Risu dan yang lainnya untuk menempatkan pasukan di wilayah rawan penyusup! Aku tidak mau ada orang-orang yang akan mengganggu perubahan Original!" tukasnya memberikan perintah.
"Baik tuan!" jawab Brendi mantap.
Seva menganggukkan kepalanya, ia kembali masuk kedalam mobil. Arlot tersenyum getir ke Brendi kemudian ikut masuk kedalam mobil lalu menjalankannya.
Brendi menghela napas lega setelah Seva pergi. "Pantas saja tuan Drake kalah telak, pukulannya lebih kuat dari tuan Drake," gumamnya sambil beranjak berdiri.
Pria itu kembali melatih pasukan kembali, kali ini ia sudah tahu sekuat apa bos barunya tersebut.
Mobil mereka berhenti didepan gedung Sky Corporation yang dulunya tempat tersebut sedikit terbengkalai.
Bangunan dengan tinggi sepuluh meter tersebut nampak sedang bersolek, agar terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Tuan apa anda akan turun?" tanya Arlot sopan.
"Tidak, Pak tua Hans dan anaknya pasti sedang sibuk, biarkan mereka mengurus semua terlebih dahulu, kita lanjut ketempat berikutnya," jawab Seva santai.
"Baik tuan," Arlot sesegera mungkin menginjak pedal gas dan lanjut mengunjungi tempat berikutnya.
Mereka ke perbatasan tiga wilayah yang sedang dilakukan pembangunan besar-besaran di sana.
Dari kejauhan sudah terlihat alat-alat berat yang sedang mengahancurkan gedung-gedung terbengkalai, untuk dibangun ulang.
Saat sampai di sana, Seva turun dari mobil, terlihat Rex yang menjaga tempat tersebut bersama dengan bawahannya bergegas menghampiri Seva dan Arlot ketika melihatnya.
"Tuan!" sapanya tegas.
__ADS_1
"Apa ada masalah?" tanya Seva basa-basi.
"Tidak ada tuan, semuanya berjalan sangat lancar, Kontraktor juga bilang, katanya besok kemungkinan separuh wilayah sudah mulai bisa dikerjakan," jawabnya yakin.
"Baguslah kalau begitu," ucap Seva datar.
Seva kemudian berjalan mendekat ke sana, betapa terkejutnya dia ketika melihat seorang Ibu dan tiga anaknya sedang menangis di pinggiran sebuah rumah kecil yang akan dihancurkan.
"Tuan, biar saya yang mengusir mereka," ucap Rex yang langsung bergegas ke keluarga tersebut, karena ia pikir Seva membenci orang seperti itu.
"Berhenti Rex! Berani kau menyentuhnya, aku pastikan seluruh bagian tubuhmu akan tercerai berai!" seru Seva sambil berjalan ke arah wanita itu.
Seketika Rex langsung mematung ditempatnya, ia menelan ludah dengan keringat dingin bercucuran sambil perlahan menoleh ke arah tuannya.
Terlihat tatapan tajam Seva yang seolah bisa membunuhnya, membuat tubuh pria itu tidak bisa bergerak sama sekali.
Arlot hanya bisa menghela napas tidak berdaya, bosnya itu memang sangat aneh, kadang ia kejam dan kadang sangatlah baik, ia tidak tahu sama sekali seperti apa sifat Seva yang sebenarnya.
Seva menghampiri keluarga tersebut, wajah seriusnya berubah menjadi ramah.
"Kenapa kalian ada di sini? Tempat ini akan dibangun ulang," tanya Seva lembut.
"Tuan, kami dari dulu tinggal di sini, walaupun sering terjadi perang di sini, tapi kami tidak bisa pergi, karena ini harta kami satu-satunya," jawab wanita itu sambil menangis memeluk ketiga anaknya.
Seva menghela napas, ia yakin wanita tersebut pribumi asli kota Original. "Suami anda kemana?" tanyanya memastikan.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Dia sudah meninggal terkena peluru nyasar, saat ada perang," jawabnya sedih.
Seva mengepalkan tangannya, ia yakin kehidupan mereka pasti sangatlah sulit, apa lagi tinggal diwilayahnya konflik, sudah Asti mereka terus-menerus dibayangi ketakutan setiap hari.
"Kalian pindah dari sini, aku berikan rumah baru, apa Ibu mau?" tanya Seva lembut.
"Tuan apa anda yakin?" tanya wanita aruh baya itu memastikan.
"Ya, akan aku belikan rumah yang nyaman untuk kalian, ayo ikut aku," ucapnya sambil tersenyum simpul.
Ibu itu mengangguk lalu beranjak dari duduk, membawa anak-anaknya ikut dengan Seva yang akan membelikan rumah baru.
Rex masih bingung ditempatnya, tapi ia tidak berani bergerak sama sekali dari sana, karena takut dibunuh Seva.
__ADS_1
Seva menyuruh Arlot membuka pintu mobil, mereka pun langsung pergi ketempat penjualan Property.