System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Kenalan Lama?


__ADS_3

Seva dan Sintia sampai di pusat perbelanjaan, ia mengajak Sintia untuk turun, akan tetapi gadis tersebut menolaknya.


"Kenapa kamu gak mau turun?" tanya Seva.


"Aku cuma mengenakan ini saja, malu," jawabnya tidak berdaya.


Seva menghela napas. "Ya sudah, kamu tunggu di sini sebentar, aku belikan dalaman buat kamu, berapa ukurannya?" tanya Seva tanpa malu sama sekali.


"Eh... kamu serius?" Sintia balik bertanya.


Seva menganggukkan kepalanya, mau bagaimanapun dulu Seva pernah menjadi pesuruh, jadi baginya membelikan sesuatu untuk seseorang bukanlah hal yang sulit.


Sintia dengan malu-malu memberitahu ukuran **********, Seva mengangguk pergi lalu bergegas pergi dari sana meninggalkan si gadis sendirian.


Hanya dalam beberapa menit saja Seva sudah kembali membelikan sepasang pakaian dan dalaman untuk gadis tersebut.


"Pakai itu dulu, setelah itu kita belanja pakaian yang kamu mau, aku tidak pandai memilih pakaian wanita," ucapnya sambil menyerahkan pakaian tersebut lalu menutup pintu mobil.


Sintia melirik Seva takut pria itu mengintip, akan tetapi pria itu tampak sedang fokus melihat ponselnya.


Gadis itu tersenyum simpul, ternyata walaupun sadis, Seva sangatlah baik dan perhatian membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Ia pun bergegas mengenakan pakaian pemberian Seva, anehnya pakaian tersebut pas ditubuh Sintia.


Sintia turun dari mobil. "Aku sudah siap," ucapnya lirih.


Seva menoleh ke arah Sintia, ia tertegun melihat gadis tersebut. Bayangan tentang teman masa kecilnya dulu saat ia belum di culik kelompok gangster Ghost terlihat.


Karena sedari tadi ia tidak fokus melihat wajah Sintia dan rambutnya juga acak-acakan, sekarang setelah rambut Sintia sudah dirapikan dan menunjukan senyumnya, membuat pria itu sangat yakin kalau gadis tersebut merupakan teman masa kecilnya dulu.

__ADS_1


"Sintia Laurence?" tanyanya sambil menatap gadis tersebut.


"Ka-Kamu tahu nama asliku?" Sintia balik bertanya.


Deg!


Jantung Seva berhenti berdetak sesaat, pria itu tidak menyangka ternyata gadis yang diselamatkannya merupakan orang yang pernah hidup bersamanya di panti asuhan dulu.


"Kamu tidak mengenalku Sintia?" tanyanya sambil mendekat ke arah Sintia dengan mata berkaca-kaca.


Sintia mengernyitkan dahi, ia menggelengkan kepalanya, karena memang tidak mengenal Seva yang penampilannya sudah berubah drastis.


"Sintia, ini aku Seva Adelray!" serunya sambil memegang kedua bahu Sintia.


"Seva Adelray?" gumam Sintia.


Gadis itu menatap lekat-lekat wajah Seva, seketika ia teringat dengan nama tersebut.


"Ka-Kamu beneran Seva yang itu?" tanyanya memastikan.


"Iya, kita pernah di panti bersama, dulu!" jawabnya yakin.


"Astaga, kamu sudah sangat berubah Seva," ucapnya sambil memeluk Seva.


Seva pun balas memeluk gadis tersebut. "Aku kira kita tidak akan pernah bertemu lagi."


Mereka berdua saling melepaskan rindu, walaupun dulu mereka hanya tinggal bersama beberapa tahun saja, tapi keduanya sangat dekat.

__ADS_1


Dulu Sintia yang selalu menjadi pelindung Seva, mengingat pria itu ketika masih kecil sangatlah kurus dan kalah jika bertengkar dengan anak sebayanya.


Nostalgia dimana mereka pernah hidup bersama sangat kentara, keluarga yang awalnya terpisah kini telah dipertemukan kembali.


"Maaf, aku tidak mengenalimu sejak awal, ngomong-ngomong kenapa kamu bisa sampai di South Land?" tanya Seva memastikan sambil melepaskan pelukannya.


Sintia menghela napas. "Ibu panti dulu pergi ketempat ini setelah di Kota Vox para Gangster semakin melunjak, setelah kehilangan kamu, beliau tidak ingin kehilangan anak-anak lainnya, tapi setelah beberapa tahun tinggal di sini, Ibu Panti meninggal dan kami pergi mencari kehidupan sendiri-sendiri dan aku mendapatkan pekerjaaan menjadi pembantu rumah tangga, tapi seperti yang kamu lihat sendiri, beginilah nasib orang kecil," ucapnya tidak berdaya.


Seva mengangguk mengerti. "Kamu tenang saja, mulai saat ini aku akan selalu menjagamu, tidak akan ada penderitaan untukmu lagi! Ayo kita belanja dulu, kamu beli apa pun yang kamu mau!" ucapnya bersemangat.


Seva menarik Sintia masuk kedalam pusat perbelanjaan, gadis itu menatap punggung pria yang menariknya itu, terlihat seulas senyum manis dari bibir gadis tersebut.


Kamu sudah sangat berubah Seva, pria yang dulu sangat lemah, sekarang kamu menjadi pria yang kuat, aku tidak menyangka sama sekali kalau kamu akan sukses seperti sekarang.


Sintia bergumam dalam hati sambil menatap pria yang dulu tidak bisa apa-apa dan selalu membutuhkan bantuannya.


Sekarang pria itu sudah bertransformasi menjadi sosok yang sangat bertanggung jawab dan memiliki kekuatan lebih.


Mereka berdua sudah masuk kedalam pusat perbelanjaan, Seva membawa Sintia langsung ke toko pakaian.


"Kamu pilih yang bagus-bagus, sekalian beli double semuanya, karena Silvia bentuk tubuhnya kurang lebih sepertimu," ucap pria itu dengan santainya.


"Apa dia kekasihmu?" tanya Sintia langsung.


Seva menggelengkan kepalanya. "Bukan, dia nasibnya sama seperti kamu, tidak memiliki siapa-siapa, jadi aku menolongnya," jawabnya jujur.


Gadis itu hanya mengangguk mengerti, ia pun masuk kedalam toko pakaian tanpa bertanya lagi kepada Seva.

__ADS_1


Sintia tidak mau menuntut banyak hal ke Seva, baginya sudah dipertemukan kembali dengannya saja sudah menjadi hadiah terindah dalam hidupnya.


Pemikiran Seva dan Sintia kurang lebih sama, karena pria itu sangat senang bisa bertemu dengan salah satu keluarganya, walaupun bukan saudara kandung.


__ADS_2