System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Keputusan


__ADS_3

Setelah membelikan rumah untuk keluarga tersebut di wilayah yang baik. Seva tidak lupa juga memberikan uang kepada sang Ibu untuk membuat sebuah usaha, karena Seva sadar tidak akan bisa membantu keluarga tersebut terus menerus.


Seva meninggalkan keluarga tersebut di rumah baru mereka, terlihat mereka melambaikan tangan ke arah mobil Seva dengan raut wajah gembira.


"Tuan, kenapa anda membantu mereka?" tanya Arlot sambil menyetir.


"Menurutmu apa kriteria pemimpin yang baik itu?" Seva balik bertanya.


Arlot terlihat bingung, ia kemudian menjawab. "Mampu mengkoordinasi bawahannya dengan baik, mungkin."


Seva menghela napas. "Itu berlaku untuk pemimpin yang memimpin sebuah kelompok, berbeda denganku yang harus merangkul seluruh warga yang ada di pulau ini atau kota Original ini."


"Aku sanggup membunuh mereka yang berhianat ataupun tidak menghargai ku sama sekali, tapi aku tidak bias melihat mereka yang lemah, tidak bisa melakukan perlawan padaku harus merasakan kepedihan, ada dasarnya semua pemimpin wajib untuk membuat rakyatnya sejahtera, hal itu yang sedang aku coba terapkan, karena sekarang aku bukan lagi sekedar pemimpin Mafia tapi sebagai juga pemimpin pulau ini, apa kamu paham Arlot?" lanjutnya menjelaskan.


"Tuan, kalau begitu tugas anda akan terlalu berat, masalah Mafia bertentangan dengan kondisi warga sipil, bukankah lebih baik anda menunjuk orang lain saja?" usul Arlot yang tidak mau bosnya itu akan memiliki titik lemah jika sampai kedua urusan berbeda dijadikan satu.


Seva menghela napas. "Kamu benar, tapi Original masih dalam masa perubahan, aku akan menanganinya sendiri, agar tidak muncul orang-orang yang rakus akan jabatan nantinya, lebih baik kamu pikirkan bagaimana aku bisa mendapatkan orang-orang yang mampu membangun Negara ini, baru setelah itu aku akan melepaskan status ini," jawabnya yakin.


"Tuan, kenapa anda tidak meminta bantuan Nona Helen saja, dia banyak memiliki koneksi dan aku yakin orang-orang pilihannya pasti sesuai kriteria anda," tukas Arlot.


Seva tersenyum penuh arti, bawahannya yang satu itu memang sangat cocok dengan pemikirannya, bukan hanya untuk sekedar di ajak bicara, tapi jawaban-jawabannya selalu memberikan jalan yang menurut Seva sangat berguna.


Pria itu menyuruh Arlot untuk segera pulang ke Mansion Helen, mengingat hari juga sudah mulai sore.


...***...


Di lain sisi, Martis sudah mengirim beberapa orang terbaiknya untuk membunuh Seva setelah mendengar pemberitahuan dari Gyle.


Pria itu berpikir kalau Seva terlalu berbahaya jika terus dibiarkan berkembang, karena itulah Martis tidak ingin mengambil resiko sebelum Seva akan bertambah kuat.


Mereka semua sudah tiba di Pulau yang isinya hanya kota Original saja, semuanya menyamar menjadi turis dan sudah dibuatkan identitas palsu agar mudah memasuki kota Original.


Gyle menyambut mereka dan membawanya ke hotel dimana ia menginap.

__ADS_1


"Tuan Gyle, apa dia semenakutkan itu?" tanya pria yang memiliki codet di atas alis.


"Benar, sampai tuan Martis mengirim kami," timpal Pria dengan rambut kribo.


"Kalian jangan meremehkannya, apa kalian pikir menjadi pemimpin Mafia di sini mudah? Lebih baik kalian buat rencana yang matang dan segera bunuh dia," jawab Gyle sambil menunjukkan lokasi Mansion Helen.


Gyle juga tidak lupa memberitahu semua penjagaan yang ada di sana dengan informasi yang sudah ia kumpulkan.


Tampak mereka semua mengamati dan membuat sebuah rencana untuk masuk kedalam Mansion Helen.


"Penjagaannya cukup ketat, walaupun banyak celah," ucap salah satu dari mereka sambil menyeringai.


"Ya, Seharusnya ini misi yang mudah," timpal yang lainnya.


"Kita selesaikan malam ini juga, jangan khawatir tuan Gyle, besok anda akan mendapatkan kabar dia hanya tinggal nama saja!" ucap salah satu dari mereka sambil menjilat pisaunya.


Ke empat orang terbaik Martis sangat percaya diri bisa membunuh Seva dengan mudah, mereka pikir misi tersebut hanya tingkat menengah, pasalnya mereka belum pernah melihat kekuatan Seva dan hanya fokus untuk menaklukkan bawahannya saja.


...***...


Sementara itu di Mansion Seva, pria itu terlihat sedang bersantai bersama dengan Helen dan Luci di ruang keluarga menonton film bersama.


"Sayang, kapan kamu akan mengajak aku jalan-jalan ke Mall lagi?" tanya Luci manja.


Seva mengernyitkan dahi. "Baru juga satu Minggu kemarin ke Mall, pakaian kamu juga masih banyak yang belum dikenakan."


"Luci mengajakku membeli pakaian seksi, katanya biar kamu betah melihat kami," celetuk Helen yang berada disisi kanan Seva.


"Helen, jangan buka rahasia dong," tegur Luci.


"Lah, apa yang mau dirahasiakan, toh nanti juga yang lihat Seva, bukan orang lain," jawab Helen santai.


Luci menggembungkan pipinya. "Tapi kan kita mau buat kejutan untuknya."

__ADS_1


Helen menghela napas. "Luci, dengar baik-baik, aku tidak mau berbaring di ranjang seharian lagi karena tidak bisa berjalan, tanpa diberi kejutan saja, nih... si junior sudah sangat perkasa, kalau diberi kejutan yang ada kita akan semakin tersiksa," ucapnya tidak berdaya, mengingat kejadian pertama kali Seva menggaulinya.


Luci tersenyum getir, perkataan Helen ada benarnya, jika satu atau dua jam saja jangka permainan Seva, mungkin mereka masih bisa menikmatinya, yang jadi masalah Seva kalau sudah bergumul bisa sampai puluhan jam, itu saja sepertinya Seva belum puas juga.


"Kalian tidak suka aku bertahan lama?" tanya Seva.


"Eh...." Kedua wanita Seva reflek kaget ketika prianya bertanya seperti itu.


"Kalau tidak suka bilang saja, aku bisa cari wanita lain," goda Seva sambil melepaskan rangkulannya kepada dua wanita itu.


"Jangan!" seru mereka berdua bersamaan.


Seva mengernyitkan dahi. "Terus... maksud dari kata tersiksa itu apa?" tanyanya menyelidik.


Helen menghela napas. "Sayang, bagaimana kami tidak tersiksa, ketika kamu sudah sangat lemas, kamu masih saja perkasa, fisik kami tidak seperti kamu, tapi kami masih mencoba untuk tetap melayani kamu, jika saja kamu bisa lebih lembut saat main, mungkin kami bisa menikmatinya. Ya walaupun hanya seperti mayat hidup," jawabnya sambil tersenyum getir.


"Benar itu, apa lagi ketika kamu akan mencapai puncak, beuh... kamu kaya orang kesetanan, kami juga kan butuh kelembutan sayang," timpal Luci.


Kedua wanita itu merangkul manja Seva sambil mengusap-usap celana prianya itu. Seva mengerti maksud keduanya.


"Baiklah aku akan lebih lembut, Ayo!" ajak Seva menarik kedua wanitanya.


Helen dan Luci hanya bisa menurut, mereka berdua langsung ke kamar dan melakukan kenikmatan duniawi.


Padahal jarum jam masih menunjukkan pukul delapan, yang seharusnya masih banyak pelayan yang akan mendengar jeritan kenikmatan mereka.


Benar saja setelah satu jam pergumulan mereka, sudah terdengar dua wanita itu sedang menceracau manja.


Hingga saat pukul dua belas malam pun mereka masih melakukannya, tampak Seva masih menikmati keintiman tersebut, begitu juga dengan kedua wanitanya, walau mereka sudah lemas dan bermandikan peluh.


Sementara itu di luar Mansion terlihat empat orang yang sedang mengendap-endap memakai pakaian serba hitam dan penutup wajah hitam juga.


Mereka dengan hati-hati masuk ke Mansion Helen agar tidak diketahui oleh para penjaga.

__ADS_1


__ADS_2