
Pria tua itu berdiri didepan Seva kemudian sedikit membungkukkan badan untuk memberikan salam kepada Seva, karena mau bagaimana pun ia tahu kalau Seva adalah pemimpin kota Original yang baru.
"Salam kenal tuan Seva Adelray, saya Sebastian Vettel, saya berbicara seperti ini mewakili mereka yang tentunya tidak suka dengan pemerintah berbasis politik, dimana mereka yang berkuasa bisa melakukan apa pun, padahal tempat ini sudah tergolong nyaman menurut saya," ucapnya lagi dengan sopan.
Semua orang menganggukkan kepalanya, mereka semua setuju dengan ucapan Sebastian, baik itu yang membenci Seva ataupun yang mendukungnya.
Seva tersenyum. "Bukankah yang dilakukan kita di sini sama saja? Kalian yang berkuasa bisa bebas melakukan apa pun, sementara mereka yang menjadi kaki tangan kalian, ketika terkena masalah, apa kamu perduli padanya, Sebastian?"
Sebastian mengernyitkan dahi. "Itu karena status kita atasan dan bawa...."
"Benar, karena kamu atasan dan mereka bawahan, sebab itulah mereka tidak memiliki hak untuk melawan, apakah itu yang kamu maksud?" tanya Seva sambil menyeringai.
"Lantas apa bedanya kalian dengan para orang politik yang kalian maksud? Semuanya sama saja, yang membedakan kalian tidak bisa tersentuh sedikitpun oleh bawahan kalian, tapi para politikus bisa di sentuh jika bawahannya sudah gelap mata! Itu membuktikan jika sistem yang kita anut sama saja, bukan?" lanjutnya dengan suara dingin.
Sebastian tertegun, ia tidak bisa berkata-kata ketika mendengar ucapan Seva. Semua orang yang ada di sana juga tertegun mendengar hal tersebut.
"Bukankah sudah aku bilang, peraturan yang aku buat ini mungkin Naif, tapi aku menerapkan anti diskriminasi di sini! Kalian ingin tahu kenapa aku membuat peraturan ini? Jawabannya karena aku pernah di injak-injak di bawah orang-orang seperti kalian dan apa kalian tahu rasanya? Tanya ke bawahan kalian masing-masing, suruh mereka menjawab dengan jujur! Aku yakin mereka semua akan setuju dengan peraturan baruku!" serunya tanpa menutupi kebenaran tentang masa lalunya.
Sebastian jelas bingung dengan maksud Seva, pasalnya ia mengira Seva bukan dari kalangan bawah.
Semua orang juga kurang lebih sama pikirannya dengannya Sebastian, karena yang mereka tahu Seva sangatlah kuat dan berkuasa.
Melihat Sebastian terdiam Seva buka suara kembali. "Kalian tenang saja, tidak akan ada Sistem politik di negara yang aku buat, peraturan di sini akan hanya sedikit mengubah sistem lama, dan setelah menjadikan kota ini sebagai Negara kita akan buat tempat ini menjadi surganya seluruh orang di dunia untuk bersenang-senang!"
Sebastian tersadar, ia bertanya kepada Seva. "Tuan Adelray apa maksud anda menjadikan tempat ini sebagai tempat bersenang-senang?"
Seva tersenyum. "Aku akan membuat separuh wilayah di sini menjadi tempat hiburan, kalian yang tertarik bisa bergabung dengan bisnis tersebut, agar rencanaku cepat selesai, karena itulah aku akan menjauhkan segala barang terlarang dari sini, untuk menghindari tindak kekerasan dan menjadikan tempat ini ramah terhadap semua orang."
__ADS_1
Sebastian mencoba mencerna perkataan Seva, ia kemudian buka suara. "Apakah maksud anda tempat ini akan dijadikan kebebasan bersyarat?"
"Kurang lebih seperti itu, ya walaupun sepertinya aku harus mulai bersih-bersih dari sekarang, karena masih banyak orang-orang yang akan menentang ku," jawabnya santai.
Sebastian mengangguk mengerti, semua orang yang ada di sana juga mulai mengerti pemikiran Seva.
Walau cara bicara Seva yang aneh, secara kasarnya muter-muter tidak jelas, tapi sekarang mereka paham kenapa Seva membuat peraturan yang melarang kekerasan. Karena pada dasarnya pemimpin baru Kota Original tersebut ingin membuat Negara dimana tidak ada yang namanya perundungan dan hanya akan ada kesenangan saja.
Seva tidak mengatakan untuk memberikan kesetaraan kepada kaum bawah, ia hanya menginginkan kaum bawah juga bisa menikmati perlindungan, masalah berkuasa atau tidak itu tergantung setiap insannya yang mau berjuang keras atau tidak, bagi Seva memberikan perlindungan pada mereka itu sudah lebih dari cukup.
"Bagaimana, apa kalian akan mendukung rencana ini, atau kalian akan menentangnya?" tanya Seva kepada semua orang yang ada di sana.
Sebastian tersenyum. "Tuan Adelray, meskipun saya dari South Land, saya akan mendukung anda, berikan saya tempat untuk membantu anda," ucapnya yakin.
"Saya juga akan mendukung anda!" seru salah satu orang.
Mereka kemudian bersahut-sahutan untuk mendukung peraturan baru tersebut, karena menurut mereka itu tidak terlalu buruk juga.
Seva tersenyum penuh arti. Arlot tertegun ditempatnya, karena tuannya itu dapat mengambil hati kebanyakan dari mereka, ia tidak pernah menyangka jika itu tujuan bosnya tersebut saat datang ke Bar.
Seva menoleh ke arah orang-orang yang satu meja dengannya. "Bagaimana? Apa kalian masih meragukan aku?" tanyanya memastikan.
"Maaf tuan Adelray, saya sadar telah melakukan kesalahan, ijinkan saya untuk bergabung," ucap orang yang menggebrak meja.
"Kami juga," timpal teman-temannya juga setuju.
Seva menyunggingkan senyum. "Lanjutkan minumnya! Kita rayakan awal perubahan ini!" seru pria itu dengan semangat.
__ADS_1
Semua orang mengangkat gelasnya dan bersulang, setelah Seva selesai berbicara, DJ kembali menyalakan musiknya, mereka semua kembali bersenang-senang di sana.
Seva juga terlarut dalam kesenangan juga, entah berapa botol anggur dan minuman beralkohol lainnya yang masuk kedalam perut pria itu, akan tetapi ia tidak kunjung mabuk juga.
Fisik kuatnya membuat Seva tahan terhadap alkohol, mau ia minum sebanyak apa pun, fisiknya otomatis akan menyerap semua alkohol yang masuk dalam tubuhnya, sehingga bukannya mabuk, Seva malah bolak-balik ke kamar mandi beberapa kali.
...***...
Setelah bersenang-senang ditempat tersebut, Seva kembali ke Mansion Helen ketika hari sudah petang.
Kedua wanitanya itu sudah menunggunya dengan wajah cemberut, pasalnya dari siang Seva tidak pulang sama sekali.
"Kamu dari Bar?" tanya Helen memastikan.
"Bau asap rokok, Alkohol dan wanita, sudah jelas ini kamu habis dari sana, kan?" cecar Luci.
Seva tersenyum getir, karena kedua wanitanya itu sangat peka sekali. "Aku cuma ngobrol dengan seseorang membahas rencana kita nantinya," jawabnya santai.
"Tapi kenapa ada bau wanita juga? Jangan bilang kamu main di sana?" tanya Luci sambil menggembungkan pipinya.
Seva menghela napas. "Kalian ini kenapa sih? Mana ada aku bermain di sana, mereka hanya menemani aku minum," jawabnya sambil berlalu ke kamar dengan kesal.
"Sayang, aku hanya tidak ingin kamu main dengan sembarang wanita," Luci merangkul Seva dengan manja, karena takut pria itu marah.
"Aku tahu aku bodoh Luci, tapi bisa tidak kamu jangan mencecar dengan pertanyaan seperti itu," jawabnya sambil melepaskan rangkulan Luci.
"Aku mau istirahat, jangan ganggu aku!" sambungnya tegas.
__ADS_1
Helen dan Luci tertegun di tangga, mereka hanya bisa melihat Seva meninggalkan mereka berdua begitu saja dengan ekspresi marah.