System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Kegagalan?


__ADS_3

Seva kembali ke kamarnya dengan tangan berlumuran darah dan bajunya juga terkena cipratan darah.


Helen dan Luci yang sudah menunggu dikamar mereka berdua tampak sangat khawatir karena mendengar suara tembakan, akan tetapi tiba-tiba Seva yang berlumuran darah masuk lewat jendela membuat mereka terkejut.


"Sayang!" seru mereka berdua yang langsung menghampiri Seva hanya menggunakan Piyama tipis saja.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" sambung mereka berbarengan kembali.


"Jangan mendekat, aku mau mandi dulu," tegur Seva yang langsung ke kamar mandi.


Helen dan Luci hanya bisa mengangguk patuh, setidaknya mereka melihat Seva baik-baik saja.


Mereka berdua menunggu Seva sambil menyiapkan Piyama untuk Pria itu dan anggur, untuk membuat Seva sedikit rileks.


Tidak berselang lama Seva keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah bersih dan hanya mengenakan handuk saja.


"Sayang, ini piyama kamu," Luci memberikan piyama ke prianya tersebut.


"Terima kasih," Seva bergegas mengeringkan tubuhnya lalu mengenakan piyama yang diberikan Luci.


"Kamu serius tidak apa-apa kan?" tanya Helen memastikan.


"Aku tidak apa-apa, hanya terkena tembakan beberapa kali," jawabnya enteng.


"Astaga, mana yang kena tembakan, Helen panggil dokter!" seru Luci khawatir.


Helen bergegas mengambil ponselnya, tapi Seva menahan ketika Helen akan menelpon dokter pribadinya.


"Tidak perlu, aku tidak apa-apa, tadi hanya bercanda saja," ucapnya sambil tersenyum kecut.


Seva lupa kalau dia seharusnya tidak mengatakan kalau dirinya tertembak, karena tidak ada bekas luka tembak sama sekali ditubuhnya.


Helen dan Luci membuka piyama Seva, mereka melihat seluruh tubuhnya, benar saja tidak ada bekas luka tembak sama sekali, yang ada cuma pistol Seva yang sedang bergelantungan tidur ditempatnya.


Seva bergegas mengenakan piyamanya lagi. "Sudah dibilang aku tidak apa-apa," gerutunya sedikit kesal.


"Hehehe... kami cuma mau memastikan, benarkan Helen?" elak Luci


Helen menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


Seva menghela napas, ia mengambil anggur yang sudah disiapkan kedua wanitanya itu, menuangkan dalam gelas lalu menenggaknya .


Pria itu mengambil anggur tersebut dan duduk di sofa dalam kamar. Helen dan Luci mengikuti prianya itu.


"Siapa yang menyerang kamu tadi?" tanya Helen membuka pembicaraan sambil mengambil alih botol anggur meningkatkannya untuk Seva.


"Entahlah, tapi mereka cukup terampil," jawabnya datar.


"Sayang, kenapa kamu tidak memasang banyak CCTV di setiap sudut saja, nanti saya programkan bel peringatan jika ada orang yang mencurigakan," usul Luci yang sedang berbaring dipangkuan Seva.


Seva menghela napas. "Mana sempat aku melakukan itu, seharusnya kalian memasangkannya untukku."


"Iya juga yah, maaf aku terlalu fokus untuk melayani kamu, jadi lupa tugasku yang sebelumnya," ucap Luci sambil menjulurkan lidahnya.


Seva menggeleng-gelengkan kepalanya, pria itu juga sebenarnya butuh seorang Hacker seperti Luci, agar ia bisa melihat data-data musuhnya, sekaligus memasang alat-alat penunjang keamanan kediamannya.


Helen hanya mendengarkan pembicaraan Seva dan Luci, sesekali ia juga menimpali jika perlu. Wanita itu menatap Seva dengan penuh kekaguman, di incar banyak pembunuh ia masih tetap saja santai.


Mereka bertiga ngobrol-ngobrol sambil menikmati anggur didalam kamar, hingga suasana di ruangan tersebut kembali memanas, sebelum akhirnya mereka melanjutkan pergumulan yang sempat terhenti hingga pagi.


...***...


Gyle sangat yakin kalau orang-orang tersebut merupakan bawahan tuannya, mengingat jumlah mereka sama.


"Kalau begini lebih baik aku pulang ke South land, agar tuan segera pergi dari kediamannya, ya aku harus segera pulang," gumam Gyle bergegas membereskan barang-barangnya untuk segera pergi dari hotel tersebut.


Sementara itu ditempat Arlot berada yang sedang mencaritahu identitas para penyerang Seva di rumah sakit kelompok Mafia Venom dulu, pria itu terlihat duduk ditempat tunggu.


"Tuan, hasilnya sudah terlihat," ucap seorang bawahan yang mengotopsi mayat penyerang Seva.


"Siapa mereka?" tanya Arlot tanpa basa-basi.


"Data mereka menunjukkan berasal dari South land, dan...." terlihat bawahan Arlot bingung.


Pria itu mengernyitkan dahi lalu merebut keras data ke empat orang tersebut. Mata Arlot membelalak lebar saat mengetahui mereka merupakan orang-orang terbaik milik Martis.


Pria itu menggertakkan giginya. "Brengsek, ternyata dia sudah mulai bergerak!" geramnya marah.


"Kau beritahu semuanya, simpan mayat mereka baik-baik jangan sampai ada yang mengetahui mereka sudah tewas, aku akan menemui tuan Seva!" perintahnya tegas.

__ADS_1


"Baik tuan," jawab bawahan Arlot patuh.


Arlot bergegas untuk menemui Seva, karena menurutnya penemuan tersebut sangatlah penti, ia harus segera memberitahu hal tersebut pada tuannya.


...***...


Sementara itu Seva yang semalaman lembur dengan kedua wanitanya, pria itu masih terlelap diranjang bersama dengan kedua wanitanya yang terus memeluknya sepanjang malam.


Hari sudah mulai siang, hingga akhirnya Seva terbangun ketika dua wanitanya tidak sengaja menyenggol pusakanya.


Seva mengerjapkan mata, terlihat mereka tidur tanpa selimut dengan tubuh polos bagikan bayi yang baru lahir.


Pria itu perlahan menyingkirkan wanitanya agar mereka tidak terbangun, mengingat Helen dan Luci semalam mabuk, mereka tidur sangat lelap, ditambah mereka sangat kecapean.


Seva beranjak dari ranjang, ia menyelimuti kedua wanitanya, baru kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Bersamaan dengan itu Arlot sudah sampai di Mansion Helen, pria itu bertemu dengan Risu yang nampaknya juga akan melaporkan sesuatu.


"Ada apa Risu? Tumben kamu ke sini?" tanya Arlot penasaran.


Risu menghela napas. "Sepertinya Martis mulai bergerak, bawahanku ada yang melihat Gyle di pelabuhan pagi tadi, aku akan melaporkan itu."


"Cih, ternyata benar semalam bawahan Martis," gerutu Arlot kesal.


"Semalam? Apa maksudmu Arlot?" tanya Risu penasaran.


Arlot menghela napas, ia menyerahkan kertas data ke empat bawahan Martis ke Risu. "Semalam mereka menyerang tuan, untungnya beliau pandai beladiri, kalau tidak tuan bisa tewas ditangan mereka, kamu tahu sendiri siapa mereka, bukan?"


"Apa! Bagaimana mungkin mereka bisa lepas dari pengawasanmu?" tanya Risu tidak percaya.


"Entahlah, yang pasti mereka sudah merencanakan ini semua, untungnya tuan bisa mengalahkan mereka semua," jawabnya tidak berdaya.


"Kalau begitu ini hal yang bagus, dengan menghilangnya mereka berempat, kekuatan Martis berkurang, karena aku mendengar empat orang ini salah satu dari kelompok pengawal terbaik Martis," ucap Risu bersemangat.


"Iya, tapi bukan berarti itu mudah!" Arlot yakin Martis masih memiliki kekuatan tersembunyi, mengingat selama ini pria itu bisa bergerak bebas kemanapun ia ingin pergi.


"Ada apa? Kalian serius sekali?" tanya Seva yang tiba-tiba muncul.


Arlot dan Risu yang sedang duduk diruang tamu, mereka langsung berdiri dan menundukkan kepalanya memberikan salam ke Seva.

__ADS_1


__ADS_2