
Seva membersihkan diri setelah berbincang-bincang sebentar dengan Luci, Helen, Sintia dan Silvia.
Selepas itu ia turun ke bawah untuk menemui Arlot dan para bawahannya, agar Levi dan yang lainnya tidak menganggap remeh Arlot.
"Salam tuan," Arlot dan yang lainnya serempak saat mendengar Seva turun dari tangga.
Seva mengernyitkan dahi ketika Arlot terlihat superior di antara mereka berempat, tampak Levi dan yang lainnya terlihat sedikit menunjukkan raut wajah ketakutan.
Seva hanya menganggukkan kepalanya, ia lalu duduk di sofa, Arlot dan yang lainnya juga duduk setelah Seva menyuruh mereka duduk.
"Kalian tampaknya sudah saling mengenal Arlot?" tanya Seva saat semuanya duduk.
Arlot menggelengkan kepalanya. "Saya tidak mengenal mereka semua tuan, tapi mereka katanya mengenal saya," jawabnya jujur.
"Benarkah begitu Levi?" tanya Seva memastikan.
Levi mengangguk. "Siapa yang tidak mengenal tuan Arlot dikalangan orang seperti kami tuan, karena Mafia kota Original sangat dikagumi mereka yang ingin menjadi Mafia besar seperti kami."
Seva menghela napas. "Apa untungnya jadi Mafia, kalian mengejar kematian sendiri."
Seva diam sebentar kemudian melanjutkan. "Arlot, apa kamu sudah bertanya pada mereka tentang rencana ku?"
Bawahan pertama Seva itu mengangguk, ia kurang lebih sudah tahu semua rencana tuannya setelah berbicara dengan Levi dan yang lainnya.
Pria itu juga membawa seorang hacker yang akan membantu mereka berkomunikasi, sekaligus untuk mengawasi wilayah musuh.
Mendengar penjelasan Arlot, Seva tersenyum penuh arti, sekarang kekuatannya sudah bertambah, ia hanya perlu mengeksekusi rencananya saja.
"Baiklah, karena kalian juga sudah tahu semua rencananya, lebih baik kalian bergantian istirahat terlebih dahulu," ucap Seva membubarkan mereka.
__ADS_1
"Tuan, sebelum itu tadi ada orang yang mengirim sepuluh mobil box, katanya suruhan tuan, pria itu sedang ada di lantai bawah," ucap Levi mengingatkan.
Seva mengangguk mengerti, ia teringat dengan Munzar Larkin yang tadi siang membuat masalah dengannya.
Pria itu beranjak dari duduknya lalu pergi ke lantai bawah. Arlot dengan setia mengekori nya dari belakang.
Sementara Levi dan ketiga rekannya, bergiliran untuk beristirahat seperti yang di perintahkan Seva.
Ketika Seva sampai di lantai bawah, terlihat Munzar dan Asistennya yang sedang bertekuk lutut ditanah dengan di awasi beberapa bawahan Levi.
"Bangunlah, kita bicara di sana," tegur Seva menunjuk tempat duduk yang terbuat dari tong senjata.
"Tuan...."
Bawahan Seva semuanya menundukkan kepala ketika melihat bos besarnya. Seva hanya menganggukkan kepala.
Munzar menelan ludah ketika melihat Seva, ternyata pria yang membuat masalah dengannya merupakan pemimpin Mafia, pantas saja ia begitu kejam, Munzar hanya bisa tersenyum kecut karena ia telah mencari lawan yang salah.
"Tu-Tuan, sesuai dengan permintaan anda, saya sudah membawa sepuluh mobil box," ucapnya gugup.
"Mana anakmu?" tanyanya menggoda.
"Eh ..." tampak Munzar kebingungan ketika Seva bertanya anaknya.
"Bukankah anakmu bilang akan melakukan apa pun untukku? Kenapa dia tidak datang?" lanjutnya bertanya.
Munzar semakin ketakutan, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Seva, tampak wajahnya seketika pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat.
Asisten Munzar tahu kalau majikannya sedang dalam kesulitan, ia menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya agar bisa tenang dihadapan para Mafia di depannya itu.
__ADS_1
"Tuan, kenapa anda tidak ikut saja dengan tuan Larkin pulang jika ingin mendapatkan Nona Elsa, saya yakin melakukannya di kediaman tuan Larkin akan lebih nyaman daripada ... maaf, tempat ini," ucap pria itu mantap.
Arlot langsung reflek mengambil senjatanya, karena kata-kata asisten Munzar terdengar mengejek Seva.
Munzar sontak saja ketakutan saat pistol ditangan Arlot langsung menempel di dahi asistennya.
"Hentikan Arlot, kita apresiasi dia karena berani berbicara seperti itu padaku," tegur Seva santai.
"Tuan, dia sudah keterlaluan," jawab Arlot yang belum mau menurunkan senjatanya.
Seva tersenyum. "Aku tahu itu, dia berani berbicara seperti itu pasti ada sesuatu yang di sembunyikannya."
Seva menatap tajam asisten Munzar. "Apa kamu mau menantang ku?" tanyanya langsung dengan suara dingin.
"Jika anda tidak keberatan, saya ingin melihat pemuda sepertimu kenapa bisa menjadi pemimpin Mafia, saya harap bukan karena turunan dari orang tua anda, agar saya tidak kecewa nantinya," jawab assiten Munzar dengan santainya.
"Kau!" Arlot akan menarik pelatuknya, tapi tiba-tiba tangannya di hantam hingga pistolnya terjatuh.
Tangan asisten Munzar dengan cepat mengulur ke leher Arlot, akan tetapi Seva tidak tinggal diam, ia akan mematahkan tangan Asisten Munzar dengan tinju besinya. Namun, pria itu refleknya sangat cepat dan langsung melompat mundur kebelakang.
Kecepatan gerakan mereka tidak bisa terlihat oleh orang biasa, bahkan Arlot hanya sekilas melihat gerakan mereka berdua, pria itu menelan ludah, karena yakin jika terkena serangan asisten Munzar bisa fatal akibatnya.
"Dari mana kamu dapatkan teknik tinju besi dan gerakan kilat itu?!" tanya pria itu yang sudah tidak berbicara sopan lagi.
Seva tersenyum penuh arti, ia beranjak dari duduknya menghampiri sosok tersebut sambil menggulung pakaian di lengannya.
"Apa itu penting?" tanya Seva santai.
"Mungkin bagimu itu tidak penting, tapi kedua kemampuan itu merupakan milik keluargaku, tidak akan aku biarkan penjahat seperti kalian menggunakan kemampuan itu untuk melukai seseorang!" hardiknya marah.
__ADS_1
Pria itu melepaskan dasinya, ia terlihat sangat serius menatap Seva. Munzar tidak bisa berkata-kata melihat asistennya yang begitu berani melawan pemimpin Mafia, tapi ia juga terkejut karena pria yang dikiranya lemah itu ternyata bisa beladiri.
"Hoooh ... jadi kedua teknik itu punya keluargamu? Baiklah, kalau begitu akan aku tunjukan padamu bagaimana seharusnya menggunakan teknik tersebut," ucap Seva sambil bersiap menyerang.