System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Agen Ganda


__ADS_3

Seva tercengang ketika melihat kamar monitor Luci, pasalnya di sana berbagai macam monitor memenuhi kamar tersebut.


"Bagaimana menurutmu, bagus tidak?" tanya Luci kepada Seva.


"Pantas saja kau selalu bisa melihat pergerakan kami," ucap Seva kagum.


"Hihihi... itu memang salah satu pekerjaanku, oh iya... nanti malam Velix kemungkinan akan menemui penjual senjata di pelabuhan Vox," Luci menggerakkan jari-jarinya memperlihatkan tempat yang akan menjadi lokasi pertemuan.


"Tunggu dulu, kamu menyuruh aku menghabisinya di sana? Apa kamu gila, mereka yang mengantar senjata para mafia pasti akan ba... mmm."


Seva seketika terdiam ketika Luci membungkam mulutnya dengan bibirnya. Wanita itu melepaskan bibirnya ketika Seva sudah tenang.


Luci tersenyum. "Lihatlah ini,"


Wanita itu memerlihatkan Video Seva ketika membunuh Ray dengan anak buahnya yang begitu sangat cepat refleknya.


Luci entah kenapa senyum-senyum sendiri ketika melihat video tersebut, karena prianya itu terlihat sangat keren menurutnya. Sementara Seva bingung kenapa Luci memperlihatkan video tersebut.


"Kenapa kamu memerlihatkan video ini?" tanya Seva tidak berdaya.


Luci menoleh ke arah Seva sambil mengernyitkan dahi. "Padahal aku kagum denganmu saat melihat ini, tapi ternyata kamu masih saja bodoh!"


"Eh... kasar amat bahasamu," celetuk Seva kesal.


"Habisnya, kamu itu tidak bisa melihat kemampuan sendiri, semua reflek kamu yang ada di video ini sangat mengesankan, bahkan orang yang sudah berlatih puluhan tahun menembak pun belum tentu bisa seperti yang kamu lakukan, kamu tahu apa ini artinya?" tanya Luci sambil menatap Seva.


Seva dengan polosnya menggelengkan kepala. Luci benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, karena Seva terlalu bodoh.


"Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan orang bodoh seperti mu?" gerutu Luci sambil menghela napas berat.


Seva tersenyum getir mendengar perkataan Luci. Wanita itu kemudian perlahan menjelaskan kepada Seva kalau kemampuannya sudah di atas ahli senjata manapun, dengan kata lain pria itu sebenarnya bisa melawan puluhan bahkan ratusan orang sekaligus, apa lagi refleknya juga sangat cepat ketika menembakan dan menghindari peluru. Luci sangat yakin jika Seva bisa membunuh Velix dengan mudah.


"Oh... jadi seperti itu?" ucapnya sambil memegangi dagu dan mengangguk-anggukkan kepalanya seolah sudah mengerti.

__ADS_1


"Jadi kamu sudah paham semuanya?" tanya Luci memastikan.


"Hehehe... belum," jawabnya pongah.


"Seva! Ih...." Luci kesal karena Seva tidak kunjung mengerti juga.


"Hahahaha... kamu ini kalau kesal semakin cantik saja, aku tidak tahu apa maksudmu, yang pasti aku tahu kalau kemampuanku di atas mereka bukan? Maaf karena aku terlalu bodoh," ucapnya seraya memeluk Luci dari belakang.


"Kamu ini yah, dasar....!" gerutu Luci sambil tersenyum.


Wanita itu kemudian mulai menyusun rencana dengan Seva untuk membunuh Velix nanti malam. Ia tentu tidak ingin Seva terbunuh, karena itulah Luci merancang rencana yang mudah bagi Seva.


Seva hanya menganggukkan kepalanya, ia kurang lebih sudah tahu dengan rencana wanita itu.


Setelah semua rencana mereka bahas, wajah Seva kemudian menjadi serius. Ia menarik Luci hingga duduk di pangkuannya.


"Luci, aku yakin kamu bukan hanya ingin membunuh Velix, katakan padaku apa sebenarnya niatmu?!" tanya Seva dingin sambil menatap wajah wanita itu dengan tajam.


Luci akan turun dari pangkuan Seva, tapi pria itu mencengkram pinggangnya dengan kuat, sehingga wanita itu sedikit merasakan kesakitan.


Luci menatap Seva dengan seksama, terlihat pria itu tidak seperti barusan, ia tampak lebih serius dan seolah tidak menganggapnya sebagai seorang wanita sama sekali, ada tatapan pembunuh yang tersirat diwajahnya.


"Seva, apa kamu serius ingin membunuhku?" tanya wanita itu sambil berusaha melepaskan cengkraman Seva karena sangat menyakitkan.


"Katakan padaku, apa rencanamu sebenarnya? Aku sudah muak menjadi seorang budak! Apa lagi hanya sekedar menjadi umpan!" hardik Seva.


"Argh! Sakit Seva, tolong lepaskan aku dulu, aku akan bicara semuanya padamu, tolong...." rengek Luci yang benar-benar merasakan sakit, pasalnya kuku-kuku jari Seva menancap masuk ke kulit pinggangnya, sehingga ada darah yang menetes di sana setelah Seva melepaskannya.


"Kamu ini kasar banget," Luci melihat darah yang keluar dari bekas cengkraman Seva.


"Katakan padaku Luci!" Seva meremas dagu Luci hingga wajahnya menatapnya.


"Venom! Malam ini pemimpin mafia Venom sendiri yang akan mengirim senjata untuk Velix, aku mendengar mereka akan melakukan transaksi barang terlarang dengan jumlah banyak," jawab wanita itu ketakutan

__ADS_1


Seva menghempaskan Seva. "Cih, ternyata benar dugaanku, kamu orang Silas, bukan!?"


"Seva aku bisa menjelaskannya padamu," ucap Luci merasa bersalah.


Seva bergegas pergi dari sana tanpa mendengarkan Luci, akan tetapi wanita itu bergegas berlari mengejarnya.


"Seva, tolong dengarkan aku dulu!" Luci meraih lengan Seva.


Seva berhenti berjalan, dengan ekspresi marah ia membalik badannya menatap wanita yang telah merayunya itu.


Pria itu sangat marah, karena ia hampir saja terkena bujuk rayunya. Ia tidak pernah menyangka kalau Luci rela menyerahkan kehormatannya demi mendapatkan bantuan dari dirinya.


"Aku tidak menyangka sama sekali, ternyata kamu memang sedang mempermainkan aku, Luci! Padahal tadi aku hampir saja percaya denganmu, aku terlalu naif percaya dengan wanita licik sepertimu!" hardik Seva.


Luci menitihkan air matanya. "Aku tidak berniat sama sekali menipumu Seva! Aku akan mengatakan semuanya setelah misi ini berhasil dan kamu pikir aku menyerahkan kesucian ku karena aku pura-pura menyukaimu? Apa kamu pikir aku ini bodoh Seva?!"


Air mata wanita itu membasahi pipinya, semua perkataannya membuat hati Seva tersayat, pria itu hanya bisa tertegun menyaksikan Luci yang tampak rapuh.


Luci menghapus air matanya, ia menatap Seva dengan tajam, mencoba untuk menguatkan dirinya.


"Oke kalau kamu memang menganggap aku wanita licik, aku sudah memberikan sesuatu yang paling berharga yang telah aku jaga selama ini, sekarang aku meminta imbalan, selesaikan misi ini, setelah itu aku tidak akan pernah mengganggumu lagi!" ucapnya tegas, mencoba untuk terlihat tetap kuat.


Seva bergeming, ia masih menatap Luci dengan Serius. Pria itu ingin melihat sejauh mana wanita itu mencintai dirinya.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Seva, pria itu hanya tertegun didepan Luci, membuat wanita itu benar-benar frustasi.


"Kamu jahat Seva!" akhirnya Luci yang tadi bertingkah sok kuat tidak tahan lagi, ia menangis terisak sambil memukul-mukul dada Seva.


"Kenapa kamu jahat sekali, kenapa kamu tidak percaya denganku?" Luci menangis tersedu-sedu, ia membenamkan wajahnya di dada bidang Seva.


Seva akhirnya luluh, ia menyaksikan sendiri kalau perasaan Luci bukanlah main-main, pria itu memeluk wanita itu sambil menghela napas panjang.


"Maaf Luci...."

__ADS_1


__ADS_2