System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Mata-Mata


__ADS_3

Sementara Seva yang sedang beristirahat dikamarnya setelah seharian mengatur para bawahannya untuk membenahi setiap sudut kota Original.


Bawahan Martis yang di suruh untuk mengintai Seva sudah sampai dikota Original. Mereka datang dengan sembunyi-sembunyi, pasalnya mereka kurang lebih sudah tahu kalau pemimpin kota Original yang baru akan memeriksa mereka.


Menggunakan koneksinya, sosok tersebut dengan mudah masuk ke Kota Original lewat pelabuhan.


"Apa kamu yakin tidak ada yang mengikuti mu?" tanya bawahan Martis kepada orang yang menjemputnya.


"Tenang saja tuan, para keamanan kota Original baru dibentuk, mereka belum sepenuhnya berjaga di semua wilayah," jawabnya yakin.


"Keamanan? Apa maksudmu?" tanya bawahan Martis lagi.


Orang yang menjemput pria tersebut menghela napas. "Kota Original menghapus sistem bawahan atau penjaga wilayah, mereka sekarang membuat Sistem kemanan semacam militer."


Bawahan Martis mengernyitkan dahi. "Militer? Apa dia gila? Mana ada para bawahan Mafia bisa seperti militer, kemampuan mereka saja bisa dibilang pas-pasan."


"Tuan nanti akan melihat sendiri saat dijalan, bagaimana mereka melakukan pelatihan, bahkan dimalam hari seperti ini saja mereka masih melakukan pelatihan," jawabnya santai sambil melajukan mobilnya.


Bawahan Martis tidak bertanya lagi, ia fokus melihat jalanan kota Original yang masih ramai walaupun sudah ada peraturan baru.


Tiba-tiba pria itu melihat segerombolan orang yang memakai senjata sedang berjalan dengan gerakan menyerupai militer.


Pria itu benar-benar terkejut, ternyata ucapan penjemputnya benar, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Lihatlah mereka tuan, para bawahan ketiga kelompok Mafia di kota Original benar-benar mau melakukannya dan pelatih mereka merupakan para jebolan militer yang sebelumnya menjadi bawahan tuan Drake," ucapnya menjelaskan.


Bawahan Martis mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, sekarang semua perkataan orang yang menjemputnya itu menjadi masuk akal.


"Jika sudah seperti ini, berarti dia akan menjadikan kota Original sebagai Negara seharusnya, apa aku benar?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


Pria itu mengangguk. "Anda benar tuan, tapi Negara yang ingin dibuatnya sedikit aneh, karena kemarin saya mendengar jika tujuannya membuat kota Original menjadi Negara, untuk memperlebar bisnisnya. Padahal anda tahu sendiri, kota ini sudah menguntungkan dari segi bisnis ilegalnya."


Bawahan Martis memegang dagunya berpikir. "Kamu benar, jadi yang perlu kita tahu, apa rencana dia kedepannya, apa maksudnya dengan memperlebar bisnis, benar-benar orang yang susah ditebak."


Bawahan Martis sampai di hotel, sosok tersebut ditinggalkan di sana seorang diri, agar keberadaanya tidak di ketahui Seva.


Menggunakan orang-orang Martis yang masih tersebar dikota Original, sosok tersebut ingin membongkar kebenaran dari rencana Seva.


...***...


Ke esokan harinya....


Seva terbangun dari tidurnya, setelah cahaya sang mentari mulai menyeruak masuk kedalam kamarnya. Pria itu menggeliat sebelum akhirnya membuka mata.


Seva menoleh kanan kiri, ia tidak melihat Luci dan Helen disampingnya, pria itu baru menyadari kalau semalam menyuruh mereka agar tidak mengganggunya.


Seva memijat pangkal hidungnya. "Kau terlalu naif Seva," gerutunya pada diri sendiri.


Layar hologram Sistem memberikan pemberitahuan.


"Ya Kocok saja," ucap Seva malas sambil masuk kedalam kamar mandi.


Layar hologram menunjukkan gambar Dadu kemudian mengocoknya, setelah berputar beberapa saat Dadu berhenti.


[ Selamat, anda mendapatkan uang 1 Milyar dolar Original! ]


[ Status ]


Nama : Seva Adelray

__ADS_1


Umur : 24 tahun


Tinggi: 176 cm


Berat : 66 Kg


Kemampuan : menggunakan senjata Api berbagai jenis / Beladiri Kuno / Fisik Kuat / Ahli Medis / Regenerasi/


Saldo :1.009.999.000 dolar Original.


Seva tertegun, baru saja kemarin sistem mengatakan kalau kekuatan lebih penting dari yang, tapi sekarang ia malah mendapatkan uang.


"Kau ini sungguh plin-plan Sistem," gerutu Seva, sambil menutup kamar mandi.


Seva membersihkan dirinya, sebelum akhirnya ia turun kebawah, dimana kedua wanitanya sudah menunggu di ruang makan.


Seva melihat Helen dan Luci yang sedang ngobrol santai, terlihat keduanya tampak baik-baik saja, sehingga membuat Seva bernapas lega.


"Pagi Helen, Luci," sapa Seva seraya duduk di kursinya.


"Eh... pagi juga sayang, kirain kamu akan bangun siang, jadi kami sarapan lebih dulu," ucap Luci sambil beranjak dari duduknya dan mengambilkan roti untuk Seva dengan perhatian.


Seva menatap wanita itu yang tampak tidak marah sama sekali dengannya, padahal ia mengira kalau Luci akan ngambek setelah perkataannya semalam.


"Kamu tidak marah?" celetuk Seva.


"Marah? Kenapa aku harus marah?" jawabnya sambil mengolesi roti Seva dengan selai.


"Semalam kamu tidak suka aku pulang seperti itu?" cecar Seva.

__ADS_1


Luci menaruh roti di piring Seva, ia tersenyum sambil menatap prianya itu. "Oh semalam, aku sedang ada tamu bulanan jadi cepat marah, maaf sudah berbicara yang tidak pantas padamu," jawabnya santai.


Seva merasa ada yang aneh dengan Luci, padahal semalam wanita itu terlihat marah dengannya, tapi sekarang ia tampak baik-baik saja.


__ADS_2