System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Menundukkan Komplotan Pinggir South Land


__ADS_3

Pria paruh baya tersebut langsung membisikkan sesuatu kepada wanita penghibur, entah apa yang dikatakannya.


Wanita penghibur tampak menganggukkan kepala sambil tersenyum lalu ia beranjak dari pangkuan pria tersebut lalu kembali menghampiri Seva.


"Tuan, anda di suruh ke ruangan tuan Levi," ucapnya sopan.


Seva menoleh ke arah Levi, pria paruh baya itu mengangguk kemudian beranjak dari duduknya.


Seva tersenyum simpul, ia mengeluarkan uang dua ratus dolar memberikannya kepada wanita penghibur.


"Terima kasih atas bantuan mu," ucap Seva seraya beranjak dari duduknya.


"Sama-sama tuan, aku tunggu dikamar 022," balas wanita itu sambil matanya.


Seva hanya menganggukkan kepala, lagi pula ia tidak ada niat sama sekali untuk bersenang-senang di sana, tujuannya ingin segera menghabisi Martis, agar ia tidak terkena teror olehnya.


Pria itu mengikuti ke arah mana Levi pergi, terlihat sosok tersebut masuk kedalam sebuah ruangan bersama dengan tangan kanannya, sementara para pengawal berdiri didepan pintu.


Seva sampai didepan pintu ruangan yang dimasuki Levi menatap pengawal yang menjaga pintu.


Para pengawal merasakan intimidasi dari tatapan Seva, mereka dibuat merinding walaupun belum tahu siapa orang didepannya itu.


Reflek para pengawal membukakan pintu untuk Seva, karena mereka merasakan tekanan dari pria tersebut.


Awalnya mereka ingin mengintimidasi Seva, tapi nyatanya malah mereka yang ketakutan terlebih dahulu.


Seva masuk kedalam ruangan tersebut, tangan kanan Levi langsung menyerangnya menggunakan pisau.


Duaak


Seva reflek menghindar dan langsung mematahkan tangan pria yang menyerangnya tersebut.


Bang


Bruak


Argh!


Tangan kanan Levi terhempas, hingga menabrak dinding, pria itu menatap Seva tidak percaya sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


Levi juga tersentak kaget, begitupun pengawal yang ada didepan pintu, mereka menelan ludah ketika melihat kekuatan Seva yang mengerikan.


Seva menghampiri Levi dengan santainya. Ia duduk dihadapan pria paruh baya tersebut sambil menyilang kan kaki kanannya ke atas kaki kiri.


"Jadi kamu pemimpin komplotan orang-orang yang menyerangku?" tanyanya dengan santai.


Pria paruh baya mencoba untuk tetap tenang. "Apa maksudmu?" tanyanya pura-pura tidak tahu, padahal ia sudah melihat video pembantaian anak buahnya.


"Aku tidak suka orang yang berbasa-basi, apa perlu aku melumpuhkan mu dulu?" tanyanya dengan suara dingin.

__ADS_1


"Brengsek, kamu pikir siapa berani mengancam ku! Asal kamu tahu wi...."


Klap


Seva tanpa banyak omong langsung mencengkram leher pria paruh baya tersebut lalu mengangkatnya.


"Tuan!" seru para pengawal bergegas masuk.


"Diamlah di sana, atau kalian semua akan ku bunuh kalian semua!" hardik Levi tanpa menoleh ke belakang.


Pria paruh baya tersebut benar-benar ketakutan, pasalnya ini pertama kalinya dia mendapatkan serangan tersebut.


Seva semakin mempererat cengkeramannya, membuat pria paruh baya tidak bisa bernapas.


Wajah pria paruh baya mulai membiru, tangannya memukul-mukul tangan Seva yang mencengkramnya.


"Apa kau tahu tentang Martis?" tanyanya langsung.


Pria paruh baya menganggukkan kepalanya cepat-cepat, ia berharap Seva mau melepaskan dirinya.


Brug


Seva melepaskan cengkraman pria paruh baya tersebut, hingga terjatuh dilantai.


Uhuk... Uhuk....


Dor


Dor


Tiba-tiba dua peluru melesat ke arah Seva, ketika ia menurunkan pria paruh baya.


Seva menggunakan tangan besi dan kecepatannya, ia menangkap dua peluru pistol yang melesat kearahnya dengan tangan kosong dan langsung melemparkannya kembali ke orang tersebut.


Swuzz


Dor


Dor


Pria yang menembak langsung tewas seketika saat dua peluru tersebut mengenai dahi dan matanya.


Pengawal lainnya yang mengangkat senjata, mereka semua langsung menurunkan senjata, karena melihat Seva yang bisa menangkap sebuah peluru, itu menurut mereka sudah tidak bisa di jelaskan logika dan yang pasti sosok tersebut sangatlah kuat.


Levi juga tertegun melihat hal tersebut, ia berharap agar Seva mau memaafkan tindakan bawahannya.


"Apa kalian mau cari mati?!" tanya Seva dingin sambil menatap mereka semua dengan tajam.


"Tu-Tuan maafkan kami," Levi langsung bersujud memohon maaf agar di ampuni Seva.

__ADS_1


Seva menghela napas. "Sekarang ceritakan semua tentang Martis cepat!" perintahnya tegas.


"Ba-Baik tuan!" jawab Levi gugup.


Levi kemudian menceritakan semuanya tentang Martis ke Seva.


Ternyata mereka semua juga merupakan bawahan Seva, walaupun bawahan yang tidak pernah di anggap sama sekali, karena tidak memiliki pasukan yang kuat.


Pria paruh baya itu mengatakan kalau Martis sangat di lindungi oleh pihak pemerintah South Land, karena sejatinya pemimpin Negara tersebut merupakan boneka yang digerakkan Martis.


Semua kekuatan Marti juga pria paruh baya itu beberkan, seberapa kuat dan jumlah mereka ada berapa, semuanya diberitahu olehnya.


Seva menyimak baik-baik informasi tersebut agar semuanya masuk kedalam otak, pria itu mencoba mencari titik lemah Martis yang menurutnya ada di bawahannya.


Martis terlalu menganggap remeh bawahannya, karena itulah banyak bawahannya yang menaruh dendam terhadapnya.


"Kurang lebih seperti itu tuan, tolong lepaskan kami," Pria paruh baya memohon ampunan.


Seva tersenyum penuh arti, ia kemudian berbicara. "Apa kamu tahu dimana saja markas orang-orang Martis?"


"Tahu tuan," jawabnya cepat.


"Katakan kepada semua anak buahmu, bagi mereka yang ikut denganku akan mendapatkan posisi tinggi di era kepemimpinan ku nanti! Aku tunggu jawaban kalian besok ditempat ini!" seloroh Seva sambil beranjak dari tempat tersebut.


Seva meninggalkan Levi tanpa menunggunya menjawab terlebih dahulu, pria tersebut memang niatnya ingin mencari tempat istirahat.


Pengawal Levi yang ada di sana langsung memberikan jalan ke Seva ketika Pria tersebut berjalan keluar melewati mereka dengan santainya.


Selepas kepergian Seva Levi menghela napas lega, ia sekarang bingung mau berpihak ke Martis atau Seva


Ikut Martis sudah nyaman seperti sekarang walau hanya jadi bawahan tidak berpangkat, ikut Seva belum tentu bisa seperti sekarang. Namun, Levi berpikiran realistis, melihat Seva yang mampu menangkap peluru dengan tangan kosong, ia yakin sosok tersebut dapat di andalkan.


"Kumpulkan semua orang buat besok, beritahu mereka yang tidak datang kemari akan ku bunuh!" perintah Levi tegas.


"Baik tuan!" jawab para pengawal Levi lugas.


Levi memutuskan untuk ikut dengan Seva, ia ingin mengadu nasib satu kali lagi, berpihak pada orang yang menurutnya kuat itu.


Sementara itu Seva sudah keluar dari Bar tersebut, pria itu berjalan menyusuri wilayah tersebut.


Seva menyapu pandangannya ke kiri dan kanan, sepanjang jalan hanya tempat kumuh yang ia lihat, membuat pria itu merasa prihatin.


Padahal dengar-dengar South Land merupakan Negara yang makmur, ternyata dipinggiran nya sama saja dengan Negara lain, tidak terurus sama sekali.


"Semua pemimpin sama saja dimana-mana," gumamnya sambil menghela napas.


Setelah beberapa saat berjalan Seva menghentikan sebuah taksi untuk mengantarnya ke Hotel terdekat.


Pria itu menginap di hotel untuk beristirahat, ia masih mencari cara agar dapat menyelesaikan misinya dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2