System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Kesepakatan


__ADS_3

Seva memerhatikan reaksi mereka semua setelah Gyuri memberitahu maksudnya. Tampak para petinggi keluarga Baliem terlihat terkejut dengan pernyataan Gyuri.


"Tuan Adelray, apa benar perkataan Gyuri?" tanya sesepuh keluarga Baliem memastikan.


"Kurang lebih seperti itu, jikapun kalian tidak mau membantuku, itu tidak masalah buatku," jawab Seva santai.


Keluarga Baliem tampak saling menatap satu sama lain, mereka semua menganggukkan kepalanya lirih.


Gyuri yang melihat hal tersebut tersenyum, setidaknya dengan keluarganya yang mau bekerjasama dengan Seva, akan membuka era baru keluarga mereka yang tidak perlu menyembunyikan diri lagi.


"Tuan Adelray, jika itu memang niat anda, kami tidak akan ragu untuk mendukungnya, keluarga Baliem setuju dengan kerjasama ini," ujar sesepuh yakin.


Seva mengulas sebuah senyum. "Dari awal bilang gitu kan enak, tidak perlu buang-buang waktu."


"Gyuri, aku haus, apa di sini tidak ada air?" sambung Seva menegur bawahannya itu.


"Eh ... maaf tuan Adelray, saya lupa," jawab Gyuri bergegas pergi dari sana mengambilkan Seva minuman.


Para sesepuh dan petinggi keluarga Baliem tersenyum getir, mereka juga lupa tidak memberikan jamuan terlebih dahulu untuk Seva.


Tidak berselang lama Gyuri bersama dengan beberapa pelayan datang membawakan jamuan untuk Seva.


Mereka mempersilahkan Seva untuk memakan jamuan tersebut sambil mengobrol-ngobrol ringan.


Semakin mengenal Seva, keluarga Baliem semakin tertarik dengan pria tersebut. Karena Seva ternyata sangat ramah dan baik, berbeda saat ia pertama kali datang yang seperti pembunuh berdarah dingin saja.

__ADS_1


...***...


Sementara itu di markas pertama berada, Helen dan Luci sudah bangun dari tidurnya. Mereka keluar dari kamar setelah membersihkan diri.


"Sintia, kemana Seva?" tanya Luci kepada wanita yang sudah di anggap adik Seva tersebut.


"Aku tidak tahu Kak, katanya mau pergi," jawabnya jujur.


Luci menghela napas, lagi-lagi Seva pergi tanpa memberitahu mereka berdua. Hal tersebut seolah sudah menjadi kebiasaan prianya itu.


"Sudahlah Luci, lagian Seva juga banyak urusan, dia itu bukan pengangguran," tegur Helen yang tahu kalau saudarinya itu kesal dengan Seva.


"Dia itu selalu saja pergi tanpa pamit terlebih dahulu, memangnya tidak bisa apa pergi pamit dulu ke kita," gerutunya masih kesal.


"Ih ... kok kamu bicara seperti itu," Luci mengerucutkan bibirnya.


Helen menggendikan bahunya santai. Ia juga kesal sebenarnya, tapi tahu kalau Seva itu seorang bos, banyak yang harus pria itu lakukan selain menemani mereka berdua.


Pemikiran Helen sangat logis, mengingat wanita itu pernah menjadi bos Mafia juga. Kurang lebih sudah tahu bagaimana sibuknya Seva, apa lagi kelompok Mafia Sky dalam masa transisi untuk menjadi lebih besar.


Silvia datang membawakan mereka berdua makanan. "Nona silahkan."


Helen menarik tangan Silvia agar duduk di sampingnya. Sontak saja wanita itu terkejut dan ketakutan.


Helen tersenyum simpul. "Tidak perlu takut, aku hanya ingin mengobrol denganmu."

__ADS_1


"I-Iya Nona," jawabnya gugup.


Helen mengulurkan tangannya, ia memegang gunung kembar Silvia yang masih tertutup baju.


Sontak saja Silvia terkejut, reflek mau menepis tangan Helen, tapi saat Helen menatapnya dengan tajam. Wanita itu cuma menundukkan kepalanya ketakutan sambil menggigit bibir bawahnya.


Luci yang melihat hal tersebut mengernyitkan dahi. "Kenapa denganmu? Apa mulai tertarik dengan wanita?" tanyanya menyelidik.


Helen tersenyum ia melepaskan tangannya dari Silvia. "Tidak, aku hanya mau memastikan saja, ternyata benar kalau dia masih perawan."


"Haah!" Luci melebarkan rahangnya, menatap Silvia dengan tidak percaya, wanita secantik dia tidak mungkin masih perawan, pikir Luci dalam hati.


"Apa aku benar Silvia?" tanya Helen memastikan.


Silvia menggigit bibir bawahnya, ia lalu mengangguk lirih. Menandakan jika ucapan Helen memang benar.


Luci tidak bisa berkata apa-apa, ia heran kenapa Helen bisa tahu hanya dengan memegang dada Silvia.


"Kenapa kamu tidak mau menggoda Seva? Padahal dengan status kamu, bisa saja Seva tertarik denganmu?" cecar Helen.


Silvia menggelengkan kepalanya. "Tuan Adelray penyelamat saya, akan bohong jika saya tidak berharap mendapatkan perhatian dari tuan Seva, tapi saya sadar diri dengan kondisi saya dan juga tuan Adelray tidak menginginkan saya," jawabnya tidak berdaya.


Helen tersenyum simpul mendengar jawaban dari Silvia, ternyata masih ada wanita yang berpikiran positif sepertinya.


Sintia yang melihat hal itu hanya memerhatikan saja, ia juga penasaran dengan Silvia yang sebenarnya menganggap Seva seperti apa, mengingat dirinya tidak pernah bertanya perihal Seva ke wanita yang sekarang menjadi temannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2