System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Terungkap


__ADS_3

Seva masih dicurigai oleh Mata Elang, pria tersebut seolah memiliki pandangan lain terhadap Seva.


Roni sudah bersiap dengan kemungkinan terburuknya, ia tersebut memperhatikan Seva dengan seksama.


"Elang, apa harus kamu memeriksa kami selama ini? Apa kau sudah mulai tidak percaya denganku?!" tegur Roni dingin.


"Cih, kalau saja kamu bukan kesayangan tuan Martis, sudah ku bunuh, Roni!" hardik Elang membiarkan Roni dan Seva masuk.


Roni menatap tajam Elang, mereka berdua memang sedikit tidak akur, pasalnya Elang iri dengan Roni yang langsung di angkat menjadi tangan kanan Martis setelah Gyle tewas, padahal Elang sudah bekerja untuk Martis lebih lama.


Seva merasakan aura permusuhan keduanya, ia sangat yakin kalau mereka bisa saja bentrok jika itu bukan dikediaman Martis.


Mereka berdua masuk kedalam Istana Martis yang teramat megah tersebut, hanya dengan melihat hal tersebut saja Seva sudah tahu kalau Martis tipikal orang yang memuja harta.


Roni bertanya kepada pelayan dimana Martis berada. Pelayan mengantar keduanya ke tuan mereka di halaman belakang, lapangan Golf berada.


Sesampainya di sana, benar saja ada Martis di sana. Seva mengernyitkan dahi saat melihat Sebastian juga sedang bersama dengan Martis.


"Rubah tua licik, ternyata kamu ada di sini juga," gumam Seva dalam hati.


Seva sekarang tahu kenapa Sebastian mengincar markas yang telah ia kuasai, kemungkinan besar pria tua itu sudah tahu kalau dirinya akan menyerang Martis dan berencana membawakan kabar baik bisa merebut markas Martis kembali agar mendapatkan kepercayaan.


"Tuan saya sudah kembali, semua transaksi aman dan saya membawa seseorang yang akan menjual barang bagus kepada anda," sapa Roni sambil membungkuk hormat.


Martis tidak menoleh ataupun menjawab sama sekali, ia tetap fokus memukul bola Golf yang ada dihadapannya.


Sebastian menoleh ke arah Roni dan Seva, pria tua itu langsung menyeringai, membuat Seva merasakan ada yang tidak beres.


"Kerjamu sangat bagus Roni," ucap Martis tiba-tiba sambil menghampirinya.

__ADS_1


Seva melihat wajah Martis yang ternyata masih cukup muda, pria itu duduk di kursi yang ada di sana sambil menyilangkan kakinya.


"Terima kasih atas pujiannya tuan," jawab Roni sopan.


Martis mengeluarkan pistol lalu mengelapnya. "Kamu tahu bukan aku sangat percaya padamu, sebab itulah menjadikan kamu tangan kananku daripada mengangkat Elang?" tanyanya menyelidik.


"Benar tuan." Roni mulai merasa ada yang janggal.


"Apa kamu berniat menghianati aku, Roni?" tanya Martis lagi.


Roni mengernyitkan dahi. "Apa maksud tuan? Saya tidak pernah se ...."


Dor!


Argh!


Brug


"Maaf saja Roni, aku bukanlah orang bodoh seperti yang kamu kira dan terima kasih sudah membawanya kemari," ucap Martis sambil menodongkan senjatanya ke arah Seva.


Sebastian terlihat menyeringai, ternyata dugaan Seva benar, kalau Sebastian lah yang membocorkan rencana tersebut.


Roni menggertakkan giginya, ia tahu kalau rencananya telah bocor, ternyata itu juga alasan Elang memandangi Seva begitu lama didepan pintu.


"Seva Adelray, aku salut padamu berani masuk ke wilayah ku tanpa pengamanan dan hanya percaya dengan bawahan ku ini."


Dor!


Argh!

__ADS_1


Roni berteriak lagi ketika sebuah peluru kembali menembus kakinya.


"Hahaha ... maaf saja Seva, tapi aku sudah tahu kalau kalian itu bersekongkol," ujar Sebastian sambil tertawa.


Seva mengulas sebuah senyum. Ia merubah dirinya kembali ke wajah asli. "Ternyata ini gaya permainan kalian, boleh juga," ucapnya masih santai.


Sebastian mengernyitkan dahi, pasalnya di kediaman Martis tapi Seva masih tampak begitu santai.


Martis juga heran dengan pria didepannya yang seolah tidak memiliki rasa takut sama sekali, bahkan tatapannya masihlah sangat santai.


"Boleh juga nyalimu, tidak heran Drake kalah telak denganmu," ucap Martis sambil menempelkan moncong pistol ke dahi Seva.


Seva mengulas sebuah senyum. "Kamu pikir bisa membunuhku dengan senjata kecil seperti itu Martis?" tanya Seva menantang.


"Cih, seharusnya kamu berpikir untuk mengatakan permintaan terakhir, jangan malah membual Seva Adelray!" hardik Martis sambil menarik pelatuk pistolnya.


"Aku tidak berniat mati di sini Martis, tujuanku dari awal memang ingin berada di dekatmu agar tidak terjadi pertumpahan darah calon semua anak buah ku," jawabnya sambil menyeringai.


"Katakan itu di neraka, bedebah!"


Martis menarik pelatuknya. Namun, bersamaan dengan itu Seva menggunakan kecepatan kilat lalu menghilang dari hadapan Martis.


Dor!


Desing!


Peluru menembus tembok yang berada dibelakang Seva tadinya, sontak saja Martis dan yang lainnya terkejut.


"Apa cuma itu kemampuanmu?" tanya Seva yang sudah berada di belakang Sebastian.

__ADS_1


Martis menoleh kebelakang, ia terkejut saat melihat Sebastian yang sedang dikalungkan katana Seva.


__ADS_2