System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Tipuan Kecil


__ADS_3

Bukan hal yang mustahil untuk Seva hidup kembali, selama jantungnya berdetak atau pikirannya masih berfungsi, maka tubuhnya bisa terus beregenerasi menyembuhkan luka sefatal apa pun.


Helen masih menatap Seva lekat-lekat, wanita itu memiliki banyak pertanyaan dalam pikirannya. Karena yang dilakukan Seva sudah di luar logika manusia.


Seva mendekat ke arah Bartender, pria itu menatapnya dengan dingin. "Katakan siapa yang menyuruhmu!?"


"Hahaha ... kamu pikir aku akan bi ...."


Slas


Argh!


Telinga pria itu dipotong tanpa ragu oleh Seva, darah segar mengalir deras keluar dari potongan tersebut.


Slas


Argh!


Bartender berteriak lagi saat Seva memotong telinganya satu lagi. Pria itu menelan ludah, wajahnya mulai memucat dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.


Slas


Argh!


Sekarang tangan pria itu yang di potong, hingga Bartender sudah tidak memiliki tangan lagi.


Seva tidak bertanya apa-apa lagi, sehingga membuat Bartender sekarang benar-benar ketakutan, pria dihadapannya bukanlah manusia. Ia merasa Seva itu seperti iblis.

__ADS_1


"Saya akan bicara!" serunya saat Seva mengayunkan pedangnya.


Pedang Seva berhenti tepat ketika akan mengenai leher pria tersebut. Membuat Bartender menelan ludahnya.


"Katakan, kalian bekerja untuk siapa?" tanya Seva dingin.


"Sebastian Vettel, dia yang mengirim kami," jawabnya sembari menahan sakit.


Seva mengernyitkan dahi. "Ternyata pak tua itu?" gumamnya lirih sambil berbalik badan.


Bartender sedikit menghela napas lega, tapi tiba-tiba pandangannya terbalik, ternyata kepalanya jatuh ke lantai setelah Seva menebasnya. Pria itu hanya bisa membelalakkan mata sebelum akhirnya tewas ditempat.


Seva melepaskan para wanita. Luci langsung memeluknya dengan erat sambil menangis terisak.


"Sudah, semua baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir lagi," ucapnya lembut, mengajak mereka semua berdiri lalu duduk di sofa.


Sintia dan Silvia yang masih ketakutan hanya bisa mengangguk lirih lalu mengemasi barang-barangnya.


"Kalian juga kemasi barang-barang, kita akan pergi dari sini," ucap Seva lembut.


Luci mengangguk, ia segera mengemasi barang-barangnya bersama dengan dua wanita lainnya. Sementara Helen masih duduk bersama dengan Seva.


"Kamu tidak mengemasi barang-barang, Helen?" tanya Seva menyelidik.


"Seva, katakan padaku sebenarnya kamu ini apa?" bukannya menjawab pertanyaan Seva, wanita itu malah balik bertanya.


Seva mengerutkan kening. "Apa maksud dari pertanyaan mu? Jangan aneh-aneh Helen."

__ADS_1


Helen menggelengkan kepalanya. "Tidak Seva, aku sangat yakin kalau tadi kepala kamu tertembak, manusia tidak mungkin bisa hidup setelah mendapatkan serangan seperti itu," ucapnya penuh penekanan.


Seva menatap Helen dengan seksama, terlihat jelas kalau wanita itu sangat penasaran dengannya. Ia juga bingung akan menjawab apa kepada Helen, tiba-tiba sebuah ide muncul.


Seva menghela napas sambil menyenderkan tubuhnya. "Tampaknya aku tidak bisa menjaga rahasia ini padamu lagi, apa kamu bisa berjanji padaku tidak akan bicara pada siapa pun setelah tahu sumber kekuatan ku?" tanyanya dengan ekspresi wajah serius.


Helen menganggukkan kepalanya mantap. "Aku berjanji akan menjaga rahasia ini."


"Kamu tahu Kultivasi bukan? Jika kamu tahu sumber kekuatanku dari sana, aku sebenarnya seorang Kultivator, sebab itulah memiliki kekuatan di luar pemahaman manusia biasa," jawabnya enteng.


Helen tertegun mendengar jawaban Seva. Wanita itu mencoba mencerna baik-baik perkataan Seva sambil menghubungkan kejadian-kejadian janggal yang telah di alami Seva.


Setelah semuanya digabungkan. Helen menutup mulutnya tidak percaya, ia mempercayai kalau Seva memiliki kekuatan Kultivasi. Karena menurut pemahaman wanita itu, seorang Kultivator akan sulit di bunuh, kecepatan dan kekuatannya juga di atas manusia Normal. Apa lagi Seva memberikannya pil Regenerasi juga, membuatnya semakin yakin kalau Seva memang Kultivator.


"Astaga, aku tidak menyangka jika Kultivator benar-benar ada, aku kira itu hanyalah dongeng negeri tirai bambu," ucapnya tidak percaya.


Seva rasanya ingin tertawa terbahak-bahak saat Helen mempercayai dirinya memiliki kekuatan Kultivasi, tapi ia mencoba untuk tetap tenang.


"Faktanya memang seperti itu, terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku sudah memberitahu semuanya, kamu jaga rahasia ini baik-baik," ucap Seva penuh penekanan.


Helen menganggukkan kepalanya, wanita itu hanya bisa menatap Seva dengan penuh kekaguman. Karena ia sangat tahu jika Kultivator telah melakukan pelatihan yang sangat ekstrim.


Apa lagi kekuatan Seva sudah sangat besar, Helen sangat yakin kalau pria itu telah berlatih sangat lama.


"Seva jangan bilang kalau umurmu sudah ribuan tahun?!" tanya Helen memastikan.


"Hah!" Seva terkejut dengan pertanyaan Helen, sampai-sampai rahangnya menganga sangat lebar.

__ADS_1


__ADS_2