System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Menguasai Markas Musuh


__ADS_3

Seva lanjut berjalan ke lantai tiga, ketika sampai dilantai tiga pria itu dikejutkan dengan ada sepuluh wanita yang kemungkinan akan dijual oleh kelompok Martis.


Seva menghela napas. "Aku akan menyelematkan para sandera, kalian fokus membunuh mereka semua!" perintah Seva tegas dengan nada suara sedikit berbisik.


Mereka menganggukkan kepala, mau tidak mau mereka memang harus mengikuti arahan Seva, agar rencana mereka berhasil.


Sementara itu didalam lantai tiga, terlihat beberapa orang sedang mulai menelanjangi para wanita tawanan tersebut.


Para wanita menitihkan air mata mereka, akan tetapi mereka juga hanya bisa pasrah, melawan sama saja akan di bunuh.


"Wow, tubuhmu sangat indah sekali," celetuk pria yang membuka baju para wanita. "Bos, boleh aku main dengannya dulu?" lanjutnya bertanya.


"Masih perawan atau tidak, coba lihat?!" seru pemimpin kelompok tersebut.


Pria tersebut tersenyum, karena jika sudah tidak perawan ia boleh menggarapnya, pria itu melihatnya, ia berdecak kesal ketika melihat barangnya masih bagus.


"Bos, kasihlah buatku," rengek pria itu.


"Apa kamu ingin di bunuh tuan Martis, sangat jarang kita menemukan wanita masih bersegel! Kita akan memberikan dia untuknya, agar dapat hadiah besar," ucap pria yang sedang memainkan senjatanya.


Si wanita hanya bisa menitihkan air mata sambil menutupi pusat sensitifnya menggunakan kedua tangan, ia tidak menyangka akan di culik dan berada ditempat tersebut.


Swuzz


Slas


Pral


Tiba-tiba ada angin kencang yang melesat ke arah pria yang tadi memeriksa wanita tersebut.


Pluk


Brug


Kepala pria tersebut jatuh dilantai, di ikuti dengan tubuhnya yang ambruk dengan darah mengalir deras dari potongan lehernya.


Untuk beberapa saat mereka tertegun, tidak bersalah lama para wanita itu berteriak histeris.


Aaaa!


Mereka berteriak melihat pria tadi tumbang dengan kepala yang terputus.


Pemimpin Kelompok terkejut, ia bergegas berdiri mencari siapa yang telah melakukan hal tersebut.


Drrt


Drrt


Argh!


Argh!

__ADS_1


Bawahan Levi masuk langsung memberondong bawahan kelompok tersebut hingga bertumbangan.


Sementara Seva membunuh mereka yang dekat dengan para wanita itu dan yang tidak terjangkau oleh bawahan Levi.


Pemimpin kelompok bergegas bersembunyi, sementara para bawahannya sudah tewas.


Para wanita jongkok sambil menutup telinga mereka sambil berteriak histeris, mendengar suara tembakan yang memberondong bawahan kelompok Martis.


Setelah semuanya selesai, Seva menghampiri para wanita. "Cepat kenakan pakaian kalian dan tunggu aku di bawah, di sana ada orang-orang ku," perintahnya tanpa memandang para wanita yang sedang telanjang.


Para wanita itu awalnya ketakutan, tapi saat Seva mengatakan hal tersebut mereka baru menyadari kalau ternyata akan ditolong.


Mereka pun mengambil pakaian dan bergegas pergi dari tempat tersebut, mengantisipasi ada orang jahat lagi.


Bawahan Levi menghela napas karena misi mereka selesai dengan cepat. Namun, tiba-tiba ada suara senapan sergap memberondong mereka.


"Bedebah! Matilah kalian semua!" teriak pemimpin kelompok yang masih hidup sendirian.


Drrt!


Drtt!


Argh!


Beberapa orang tewas terkena tembakan sementara yang lain bergegas keluar dari tempat tersebut.


Swuzz


Pral


Karena tebasan yang sangat cepat, membuat dia sempat tertegun sesaat, belum merasakan sakit sama sekali. Namun, beberapa saat kemudian ia berteriak histeris saat darah segar mengucur deras dari tangannya.


Argh!


"Apa di sini ada orang lagi selain kalian?" tanya Seva sambil menodongkan Katananya ke wajah pria tersebut.


Pria itu ambruk duduk di lantai karena ketakutan, dengan kedua tangan yang sudah putus.


Keringat dingin mengucur deras di dahi pemimpin kelompok, wajahnya pucat pasi menahan serangan rasa takut dan sakit secara bersamaan.


"Ti-Tidak ada lagi," jawabnya tergagap.


"Di lantai atas ada apa saja?" cecar Seva.


"Senjata yang akan kami kirim nanti," jawabnya jujur.


Seva tersenyum. "Terima kasih."


Slas


Pral

__ADS_1


Kepala pria itu terjatuh menggelinding di lantai ketika Seva menebasnya tanpa belas kasihan sama sekali.


Seva menghela napas lega, ia mengayunkan pedangnya untuk membuang darah yang ada di bilah pedang, setelah itu ia memasukkannya kembali kedalam penyimpanan dimensi.


Bawahan Levi tidak ada yang berani masuk sama sekali, mereka ketakutan melihat beberapa rekannya tewas akibat serangan mendadak barusan.


Seva berjalan keluar dari tempat tersebut. "Bersihkan tempat ini, buang mayat-mayat mereka, Markas kalian sekarang di sini!" perintahnya tegas.


Mereka tertegun sesaat sebelum menjawab serentak. "Baik tuan!"


Seva menganggukkan kepalanya, ia turun ke bawah, sementara bawahan Levi membersihkan mayat-mayat bawahan Martis.


Di lantai bawah, terlihat para wanita yang sedang saling berpelukan satu sama lain, karena mereka masih ketakutan, mengingat dibawah banyak orang-orang Levi.


"Levi, tempat ini akan menjadi markas kita, di atas ada banyak senjata, kamu persenjatai bawahan mu, aku akan mengantarkan mereka pulang terlebih dahulu," perintahnya lirih.


"Dimengerti tuan," jawab pria paruh baya itu sopan.


"Kalian tidak apa-apa kan, ayo aku antar pulang ke rumah masing-masing," ucap Seva lembut.


Mereka mengangguk, Seva mengajak satu orang untuk mengendarai mobil satunya mengantar mereka ke terminal atau stasiun lalu memberikan mereka uang agar pulang ke tempatnya masing-masing, mengingat alamat mereka berbeda-beda.


Setelah semuanya sudah di antar, hanya tersisa satu wanita yang terlihat enggan pergi dari samping Seva.


"Kamu tinggal dimana?" tanya Seva memastikan.


Wanita itu menggelengkan kepalanya. Seva mengernyitkan dahi, tidak tahu apa maksud dari wanita itu.


"Kamu tinggal dimana? biar aku antarkan," tanya Seva sekali lagi.


Wanita itu menatap Seva, ia menitihkan air mata tiba-tiba. "Keluargaku dibunuh mereka, aku sudah tidak punya lagi tempat pulang," jawabnya sedih.


Seketika Seva langsung menghentikan mobilnya, pria itu menatap wanita yang masih seumuran dengannya dengan seksama.


"Jadi, apa rencana kamu selanjutnya?" tanyanya lagi.


"Tuan, bolehkah saya ikut dengan anda, jadi pelayan anda pun tidak apa, asalkan jangan jadikan saya wanita penghibur," jawabnya sambil menghapus air matanya.


Seva menghela napas. "Aku ini bukan pria baik, kamu lihat sendiri bukan," jawabnya lemah.


Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, anda berbeda dengan orang-orang yang menculik ku, tolong tuan saya...."


Wanita itu memohon dengan mata berkaca-kaca, membuat Seva merasa tidak berdaya melihatnya.


"Baik, tapi aku tidka bisa menjamin kamu selamanya akan aman, karena suatu saat nanti aku bisa meninggalkanmu," ucap Seva memastikan.


"Tidak apa tuan, saya juga ingin belajar menggunakan senjata untuk menjaga diri, sebelum anda meninggalkan saya," jawabnya mantap.


Melihat tekad wanita tersebut, Seva hanya bisa tersenyum getir. Ia pun kembali ke markas kelompok bawahan Martis yang sudah di kuasai olehnya.


Terlihat bawahan Levi sedang mengangkut mayat-mayat bawah Martis kedalam truk untuk membuangnya.

__ADS_1


Seva keluar dari mobil di ikuti wanita yang tadi bernegosiasi dengannya. Levi yang melihat hal itu menghela napas, padahal tadi dirinya juga sempat tertarik dengan wanita cantik tersebut, tapi nampaknya dia harus mulai merelakannya, mengingat sekarang wanita tersebut sudah menjadi milik tuannya.


__ADS_2