
Seva tidak mengenal sama sekali siapa kedua wanita itu, karena saat di Kafe, dia hanya fokus dengan Elsa yang membuat masalah dengannya.
Brug
"Tuan, maafkan saya yang buta ini, saya pikir dia bukan kekasih anda," ucap wanita itu menahan sakitnya sambil berlutut dihadapan Seva.
Temannya juga mengikuti, mereka berdua berlutut membentur-benturkan dahinya di lantai untuk meminta maaf kepada Seva.
Pelayan tercengang dengan apa yang telah terjadi, sesaat ia melihat tadi wanita yang membeli pakaian murah di buly, tapi sekarang malah sebaliknya.
"Nona, cepat bungkus pakaianku," tegur Sintia yang tidak ingin melihat Seva melukai orang lagi.
"Ba-Baik Nyonya," ucap wanita itu gugup lalu bergegas membungkus semuanya, setelah semuanya dibayarkan, ia mengembalikan Black Card pada Sintia.
Sintia mengambil belanjaannya, menarik Seva pergi dari sana secepatnya. Wanita itu tidak mau membuat masalah untuk Seva lagi.
Seva terkejut dengan apa yang dilakukan Sintia, pasalnya ia belum memberikan pelajaran kepada kedua wanita barusan.
"Sin, aku belum memberikan pelajaran kepada mereka," ucap Seva menghentikan Sintia yang sudah menariknya keluar dari toko baju tersebut.
"Tidak perlu, mereka sudah kapok, ayo kita pulang saja," ajak wanita itu lembut.
Seva menghela napas. "Kamu ini memang dari dulu terlalu baik," ucapnya tidak berdaya.
Sintia hanya tersenyum, mereka pergi keluar dari pusat perbelanjaan tersebut menghampiri mobil.
Sementara itu didalam toko pakaian, wanita yang ditampar Seva menangis histeris, karena pipinya terasa sangat sakit, apalagi beberapa giginya melompat keluar dari tempatnya.
"Kenapa aku sial banget," ucapnya sambil menangis terisak.
__ADS_1
"Sudah Jun, yang penting kita tidak membuat masalah lebih lanjut dengannya," teman wanita itu mencoba menenangkan rekannya.
Pelayan toko hanya bisa tersenyum getir, ternyata barusan orang yang berbelanja merupakan kelas atas, untung ia tidak ikut membuly gadis tersebut.
...***...
Sementara itu, Seva dan Sintia sampai di markas, bawahan Levi langsung membukakan gerbang ketika melihat mobil Seva yang biasa digunakan Levi.
Seva mengajak Sintia turun dari mobil saat mereka berhenti didepan gedung.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Sintia.
Seva menganggukkan kepalanya. "Begitulah, maaf tempat ini tidak terawat, karena bawahan ku kebanyakan pria."
Sintia mengangguk mengerti, melihat dari gedung yang tampak kumuh, sudah jelas kalau tempat tersebut tidak terawat, apa lagi dihalaman banyak sekali semak belukar yang seharusnya di buat menjadi taman kecil.
Seva mengajak Sintia masuk kedalam. Levi yang melihat gadis yang bersama Seva membawa banyak peperbag, pria itu langsung menghampirinya.
Sintia menoleh ke arah Seva, pria itu hanya menganggukkan kepalanya lirih. Mereka langsung pergi ke lantai atas.
Ketika sampai di lantai dua, Seva melihat ada orang-orang baru di sana yang sedang duduk mengobrol bersama, pria itu mengabaikannya, orang-orang tersebut menatap Seva lekat-lekat.
Saat sampai dilantai atas, terlihat Silvia yang sedang membereskan tempat tersebut. Seva terkejut karena tempat tersebut menjadi sangat bersih yang tadinya banyak debu dan puntung rokok dimana-mana.
"Silvia, kemari lah!" panggil Seva kepada wanita yang sekarang tinggal bersamanya.
Silvia dengan patuh menghampiri Seva, ia melirik wanita yang dibawa pria itu pulang, berbagai pertanyaan muncul dipikirannya.
Sintia juga berpikiran sama dengan Silvia, kurang lebih mereka mengagumi kecantikannya satu sama lain.
__ADS_1
"Sin, dia Silvia orang yang aku ceritakan padamu dan Silvia ini Sintia, mulai sekarang kalian akan tinggal bersama," ucapnya santai.
Silvia dan Sintia mengangguk lirih bersamaan, mereka berdua masih terlihat canggung karena baru pertama kali bertemu.
"Tuan, ini taruh dimana?" tanya Levi yang sedari tadi hanya diam.
"Berikan pada mereka berdua, itu barang-barang milik mereka," perintah Seva lirih.
Levi mengangguk mengerti. Sintia bergegas mengambil barang-barang belanjaannya dengan dibantu Silvia.
Seva lalu mengajak Levi turun, karena ia tahu sudah ada yang menunggunya di lantai dua.
"Aku turun dulu, berbagilah tempat ini," ucapnya seraya turun kebawah bersama Levi.
Sintia menghela napas lega setelah Seva turun ke bawah, wanita itu duduk di sofa sambil bersandar.
"Kamu pacar Seva?" tanya Silvia memastikan.
Sintia menggelengkan kepalanya. "Bukan, aku hanya teman masa kecilnya saja, kebetulan tadi kami bertemu dan aku di ajak tinggal di sini," jawabnya jujur.
"Oh... kirain pacar Seva," ucap Silvia sambil tersenyum.
"Bukan, oh iya... aku tadi membeli pakaian untuk kita, kata Seva bentuk tubuh kamu sama sepertiku, jadi aku membeli ukuran yang sama, maaf kalau kamu gak suka," ucapnya sambil membuka barang belanjaannya.
"Astaga, ini barang-barang mahal semua, kamu yakin akan berbagi denganku?" tanya Silvia yang tampak bersemangat.
"Hihihi... tentu saja, syukurlah kalau kamu suka, aku awalnya ragu karena ini pakaian termurah di sana, ternyata selera kamu sama denganku, aku rasa kita cocok," ucapnya sambil terkikik geli.
Silvia juga merupakan gadis yang tidak neko-neko, walaupun ia pernah hidup kecukupan, menurutnya pakaian yang dibeli Sintia bagus.
__ADS_1
Mereka berdua mencoba pakaian tersebut dikamar, keduanya cepat sekali akrab satu sama lain, karena pemikiran mereka kurang lebih sama.
Sementara itu Seva tampak sedang duduk berhadapan dengan ketiga pemimpin gangster yang dipanggil Levi, mereka semua terlihat masih ragu dengan Seva.