System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Penyusup


__ADS_3

Seva yang sedang bergumul dengan kedua wanita tiba-tiba merasakan adanya bahaya, akan tetapi pria itu ragu karena sedang dalam puncak kesenangannya.


Seva terpaksa menghentikan aktifitasnya, terlihat wajah memelas Helen yang sedang mendapatkan giliran.


"Sstt... kita akhiri sampai di sini, ada penyusup," ucapnya sambil melepaskan pusakanya.


Helen dan Luci yang sedang mencoba mengatur napasnya, mereka sedikit bernapas lega, walaupun tidak tahu apa maksud Seva.


Pria itu bergegas mengenakan pakaiannya kembali, baru setelah itu ia keluar dari jendela kamar dengan hati-hati.


Seva menyeringai ketika melihat sekelebat orang yang melompat dinding pagar Mansion Helen. Ia bergegas melesat ke arah orang tersebut untuk menghajarnya, karena telah mengganggu keintimannya.


Sementara itu para bawahan Martis tidak tahu kalau Seva telah mengetahui keberadaan mereka, pasalnya insting mereka tidak setajam insting Seva.


"Pelan-pelan," ucap orang yang sudah masuk dalam pekarangan Mansion.


Baru saja ia mengatakan hal tersebut, Seva sudah menyambar lehernya, menyeret orang tersebut menjauh dari rekan-rekannya.


Orang tersebut mencoba melepaskan diri dari cengkraman Seva, akan tetapi semuanya sia-sia saja.


"Berani kalian mengusik kesenanganku!" geramnya sambil memperkuat cengkeramannya dengan tangan kiri terus memukuli perut orang tersebut.


Orang itu tidak bisa melawan sama sekali, sebelum akhirnya Seva mematahkan lehernya dan dibiarkan begitu saja dihalaman belakang rumah.


Seva bergegas menghampiri target lainnya, mereka bertiga sudah turun semua ke pekarangan Mansion Helen.


"Kemana Lio?" tanya salah satu dari mereka dengan suara pelan.


"Bukannya tadi di sini?" orang lainnya malah balik bertanya.


"Apa dia masuk duluan?" tanya yang lainnya.


Mereka bertanya-tanya karena salah satu rekannya seketika menghilang dari tempatnya secara tiba-tiba.


Swuzz


Bang


Bang


Tiga orang tersebut langsung di serang Seva dengan menggunakan tinju besi dengan kecepatan penuh, membuat dua orang langsung tewas karena tulang leher mereka patah seketika.


Sementara satu orang yang memiliki teknik beladiri, tampak bisa menahan serangan tersebut, walau ia juga terhempas puluhan meter kebelakang.


"Brengsek, siapa kau!" serunya setelah berhasil berdiri tegap.


"Siapa aku? Bukankah kalian mengincarku?" Seva muncul dari kegelapan dengan tatapan tajam.


Mata orang itu membelalak lebar ketika melihat Seva sendiri yang datang menghampirinya, bukan anak buahnya.


Pria tersebut tersenyum lebar, ia pikir tidak perlu susah payah lagi mencari Seva didalam Mansion.


"Berani juga kamu muncul dihadapan kami, cepat bangun kita bunuh dia!" perintah pria tersebut yang belum menyadari tiga orang lainnya sudah tewas.


Orang itu mengernyitkan dahi, ketika teman-temannya tidak merespon seruannya. Ia menoleh ke arah mereka yang sedang terkapar dengan kepala berbalik ke punggung.


Sekarang pria itu baru menyadari kalau kedua rekannya sudah tewas, sontak saja ia terkejut dengan kenyataan itu.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin?" gumam Pria itu sambil melihat ke arah Seva.


Terlihat Seva yang sedang bersiap untuk menyerangnya, pria itu langsung mengambil senjatanya berupa pisau, mengingat senapan sergap nya jatuh ketika Seva menyerang mereka barusan.


Swuzz


Seva melesat ke arah orang itu, sosok tersebut juga melesat ke arah Seva dengan kecepatan yang hampir sama.


Trang


Tinju besi dan pisau pria itu berbenturan, sosok itu lagi-lagi terkejut karena pisaunya bisa ditahan tangan kosong oleh Seva.


Swut


Bang


Pria itu terhempas kembali ketika Seva melancarkan sebuah tendangan, akan tetapi bawahan Martis masih bisa bertahan dengan serangan barusan.


Seva kembali melesat, tidak membiarkan bawahan Martis bernapas sama sekali.


Tinju besi Seva terus dilesatkan dengan kecepatan penuh, pria itu melompat ke arah berlawan untuk menghindari, sayangnya teknik beladiri Seva sudah berkembang, tanpa melihat ia melakukan tendangan kebelakang.


Bang


Swut


Brug


Sosok itu jatuh tersungkur ditanah, sambil memegangi perutnya yang terkena tendangan Seva.


Pria itu mendongak sambil mengepalkan tangannya, ia menyesal karena tidak mendengarkan Gyle, kalau pemimpin Original yang baru sangatlah kuat.


Drrttt


Drrttt


"Matilah kau bajingan!" teriaknya sambil menembaki Seva.


Seva reflek menghindar dengan gerakan Zig-zag cepatnya, akan tetapi tembakan tersebut terus dilesatkan padanya tanpa henti.


Drrtt


Drrtt


Argh!


Argh!


Seva terkena tembakan membuatnya jatuh tersungkur karena gerakan cepatnya langsung goyah.


"Hahaha... matilah kau bajingan!" bawahan Martis terus menembaki Seva dengan membabi buta.


Seva terkena puluhan tembakan dari bawahan Martis, pria itu sampai tidak bisa berdiri.


Suara tembakan senapan sergap jelas terdengar oleh bawahan Seva, termasuk Arlot yang sedang berjaga didepan.


"Tuan! Cepat bergerak!" serunya yang bergegas ke arah suara tembakan.

__ADS_1


Arlot dan para penjaga bergegas kesamping Mansion, dimana Seva sedang bertarung.


Terlihat Seva yang masih ditembaki dengan puluhan peluru yang sudah bersarang ditubuhnya.


Pria itu tertawa senang, dia pikir sudah menang melawan Seva, ia mendekat ke arah Seva yang sudah tidak bergerak.


Di gelapnya malam terlihat Seva yang terengah-engah dengan tubuh penuh lubang peluru. Namun, kemampuan regenerasinya bereaksi sangat cepat, peluru-peluru yang bersarang dalam tubuhnya bergerak keluar dari tubuh Seva satu persatu.


Darah yang mengalir masuk kedalam lubang-lubang peluru, perlahan organ yang rusak kembali pulih.


Bawahan Martis mendekat dengan santainya, karena ia yakin Seva telah tewas, tidak mungkin ada orang yang bisa selamat dari tembakan seperti itu.


Sayangnya dugaan bawahan Martis salah, jika saja itu bukan Seva mungkin ada benarnya pemikiran tersebut, tapi Seva bukanlah manusia biasa, sosok tersebut memiliki kemampuan di luar akal sehat manusia.


Swuzz


Clap


Arghh!


Bawahan Martis berteriak histeris ketika Seva tiba-tiba bangun mencengkram wajahnya hingga jarinya menelusup masuk kedalam matanya.


Drrrt


Bawahan Martis menembakkan senapan sergap ditangannya dengan membabi buta, karena ia sudah tidak melihat lagi.


Seva melompat ke atas dinding pagar, menyaksikan bawahan Martis yang masih menembak dengan membabi buta, sebelum akhirnya peluru senapan sergap nya habis.


Terlihat Seva menyeringai layaknya Iblis, sosok tersebut melompat ke arah bawahan Martis yang sedang meraba-raba mencari senapan sergap rekannya yang ada ditanah. Ia begitu ketakutan, tapi tetap mencoba untuk tetap bertahan.


Swuzz


Pletak


Krak


Terdengar suara tengkorak kepala pecah, ketika Seva menggunakan sikunya yang sudah dilapisi tangan besi menghantam keras kepala bawahan Martis.


Kejadian tersebut dilihat Arlot dan bawahannya, mereka semua tertegun ditempat melihat betapa mengerikannya tuan mereka.


Seva berdiri dengan tangannya yang berlumuran darah bawahan Martis, sosok tersebut terlihat bagaikan Iblis malam itu dibandingkan dengan manusia.


Arlot tidak berani mendekat, kakinya terpaku di tempatnya. Para bawahannya juga tidak bisa berkata apa-apa melihat semua itu.


"Bereskan mereka dan cari tahu suruhan siapa mereka, Arlot!" perintah Seva dengan suara dingin.


"Eh, ba-baik tuan!" jawabnya tersadar dari lamunannya.


Seva melompat ke arah kamarnya, meninggalkan para bawahannya untuk membereskan sisanya.


"Kenapa kalian masih diam! Cepat bersihkan tempat ini!" perintah Arlot ada bawahannya.


"Ba-Baik tuan!" mereka juga tampak masih sangat tegang.


Arlot tahu kalau para bawahannya merasakan perasaan seperti dirinya, karena itulah ia tidak menuntut lebih. Pria itu mendongak ke arah kamar tuannya.


"Sebenarnya anda itu orang baik atau jahat tuan?" gumam Arlot bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Wajar saja jika Arlot bertanya seperti itu, pasalnya Seva kadang sangat baik dengan orang, akan tetapi jika sedang menjadi pembunuh, ia seperti tidak memiliki perasaan sama sekali, membuat pria itu tidak bisa menyimpulkan kalau tuannya orang baik atau jahat.


__ADS_2