System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Orang-orang Lemah


__ADS_3

Orang-orang tersebut mengelilingi taksi yang dinaiki Seva. Namun, pria itu tidak takut sama sekali, ia turun dari taksi dengan santainya.


"Serahkan semua barang berharga milikmu, maka kami akan melepaskan mu!" hardik salah satu dari mereka.


Seva menutup pintu taksi, bersandar di kendaraan tersebut, sambil menyilang kan tangannya didepan dada dengan santai.


Jelas saja orang-orang di sana mengernyitkan dahi saat melihat Seva yang begitu santai.


"Apa kau tuli!" bentak salah satu dari mereka.


"Berisik sekali kau," gerutu Seva sambil melesat ke arah orang tersebut.


Swuzz


Bug


Duak


Orang itu langsung terhempas jauh kebelakang menabrak tembok hingga langsung tidak sadarkan diri.


Rekan-rekannya terkejut karena melihat hal itu, mereka menatap Seva dengan seksama, terlihat pria tampan itu menyeringai ke arah mereka semua.


"Bunuh dia!" seru salah satu dari mereka.


Haaaa!


Mereka semua berteriak menyerang Seva secara bersamaan dengan tangan kosong.


Swut


Swut


Beberapa pukulan mengarah ke Seva, akan tetapi pria itu dapat menghindarinya.


Swuzz


Bug


Bug


Beberapa orang terhempas ke belakang ketika terkena pukulan Seva, mereka yang terkena serangan itu langsung tidak sadarkan diri mengingat Seva menggunakan tinju besinya.


Swut


Salah satu dari mereka mengayunkan balok Kayu ke arah Seva ketika pria tersebut sedang lengah. Namun, pria yang sudah memiliki tubuh unik itu bisa merasakan pergerakan mereka.


Seva membalik badannya, memukul balok kayu yang sedang mengarah padanya.


Bruakk

__ADS_1


Balok kayu hancur berkeping-keping, saat Seva meninjunya menggunakan tangan besi, pria itu langsung menghajar sosok yang telah mencoba menyerangnya dari belakang.


Bug


Swuzz


Pria itu terlempar puluhan meter kebelakang, karena Seva menggunakan pukulan terkuatnya.


Orang-orang yang tersisa menyerang Seva terus-menerus, sebelum akhirnya mereka ditumbangkan oleh Seva.


Mereka semua kebanyakan patah tulang merintih kesakitan ditanah. Seva menatap mereka semua dengan sinis.


"Apa cuma ini kemampuan kalian?!" hardik Seva.


Mereka jelas saja ketakutan melihat Seva yang begitu sangat kuat, padahal mereka berjumlah cukup banyak.


Seva melihat sopir taksi yang sedang tertegun ditempatnya, pria itu tampak sangat ketakutan. Ia menghampiri sopir taksi tersebut.


Brug


"Maafkan saya tuan, saya hanya di suruh, kalau tidak menurut keluarga saya akan dibunuh," ucapnya langsung sambil bersujud didepan Seva.


Seva mengernyitkan dahi. "Jadi kamu bukan komplotan mereka?" tanyanya memastikan.


"Bukan tuan, saya hanya sopir taksi, tapi saya akui selalu membawa korban untuk mereka," jawabnya sambil berlinangan air mata.


"Apa mereka memiliki pemimpin atau markas?" cecar Seva.


Seva menganggukkan kepalanya. "Antar aku ke sana!" perintahnya seraya berjalan ke taksi.


"Eh...." sopir taksi kebingungan, tapi ia langsung bergegas mengikuti Seva.


Seva sudah masuk kedalam mobil duduk di kursi belakang, sementara sopir langsung masuk didepan.


"Tuan, apa anda yakin?" tanya sopir memastikan.


"Sudah, pergi saja ke sana, setelah sampai di sana kamu boleh pergi," jawabnya dengan yaki.


Sopir hanya bisa menelan ludah, pasalnya markas komplotan tersebut begitu banyak orang dan biasanya ada bawahan Martis yang merupakan orang nomor satu dunia bawah South land juga ada di sana.


Pria itu hanya bisa menghela napas panjang lalu mengemudikan mobilnya ke tempat markas komplotan tersebut.


Tidak butuh waktu lama Seva sampai di markas komplotan yang telah dihajar olehnya.


"Kamu boleh pergi, ini untuk kamu," Seva turun dari mobilnya sambil mengeluarkan uang dua ratus dolar untuk si sopir.


Sopir menerimanya, pria itu bergegas mengemudikan mobilnya dan pergi dari sana dengan sangat cepat.


Seva menatap bangunan kumuh yang ada didepannya, gedung lima lantai yang terlihat tidak terawat sama sekali.

__ADS_1


Di depan gedung terdapat beberapa orang berjaga dengan membawa senjata masing-masing.


Salah satu dari penjaga melihat Seva yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Pria itu bergegas mendekati Seva. Namun, baru saja mendekat, Seva sudah melesat terlebih dahulu.


Bug


Bug


Bug


Seva langsung menghajar para penjaga hingga mereka seketika tumbang dan tidak sadarkan diri.


"Ternyata mereka sangat lemah," gumamnya lirih sambil berjalan masuk kedalam gedung tersebut.


Seva membuka pintu gedung tersebut, pria itu terkejut ketika didalam gedung sangat kontras dengan pemandangan di luar gedung.


Didalam gedung tampak ada Bar besar, di sana juga begitu banyak orang yang sedang berkumpul.


Seva kembali untuk tetap tenang, pria itu masuk kedalam bar dengan santainya sambil menyapu pandangannya ke kiri dan kanan, mencari seseorang yang bisa di ajak bicara.


"Tuan, apa anda mau bersenang-senang denganku?" seroang wanita penghibur menggoda Seva.


Seva menyunggingkan senyum. "Temani aku minum," ucapnya berbisik sambil menyelipkan uang seratus dolar ke belahan gunung wanita tersebut yang terpampang jelas.


Wanita itu jelas saja sangat senang, ia langsung membawa Seva ke sebuah kursi dan mengambilkannya minuman terbaik.


Wanita itu menuangkannya untuk Seva. "Saya baru melihat anda, apakah anda orang baru tuan Levi?" tanya wanita itu sambil duduk di samping Seva.


"Ya, bisa di bilang begitu, sebenarnya aku mau menemui beliau karena ada masalah penting yang harus aku bicarakan, tapi tampaknya beliau sangat sibuk," ucapnya tidak berdaya.


Seva berpura-pura mengenal orang yang dikatakan wanita itu, pria itu berniat agar sang wanita mau menunjukkan tempat pemimpin komplotan orang-orang yang di lawannya barusan.


"Anda tenang saja, tuan Levi sebentar lagi datang kemari, kalau masalah itu sangat penting, anda bisa bilang secara langsung nanti, apa tuan ingin saya membantu," ucap wanita itu manja.


"Kamu memang sungguh perhatian." Seva menyelipkan uang seratus dolar lagi.


Sang Wanita jelas saja sangat senang, ia pikir kalau Seva sangatlah royal, baru saja minum satu teguk tapi sudah royal, jika sudah mabuk mungkin akan bertambah royal, pikir wanita itu.


Seva terus mengorek informasi dari wanita tersebut, walaupun tidak menanyakannya secara langsung, ia menggunakan metode pemancing pembicaraan, agar lawan bicaranya mau menceritakan tanpa ditanya.


Tidak berselang lama terlihat segerombolan orang yang mengekori seroang pria paruh baya dengan penampilan sangat rapi dan memegang sebuah cerutu, layaknya bos-bos dunia bawah dalam televisi.


"Tuan, itu tuan Levi datang, tunggu beliau duduk dulu, nanti saya akan memberitahu tentang anda," ucapnya lembut.


Seva tersenyum. "Kamu atur saja bagaimana baiknya, aku percaya padamu."


Wanita penghibur tersebut sangat senang di puji Seva, apa lagi Seva dengan mudahnya memberikan tips, membuat wanita sepertinya yang memang rela melakukan apa pun demi uang semakin menurut dengan Seva.


Saat Levi sudah duduk ditempatnya bersama dengan para bawahan terkuatnya, terlihat para bawahan yang berdiri dibelakang bosnya.

__ADS_1


Si Wanita beranjak dari duduknya ia menghampiri Levi. Seva melihat begitu pintarnya wanita itu merayu dan tiba-tiba bisa duduk di pangkuan Levi.


Wanita tersebut membisikkan sesuatu kepada Levi, yang membuat pria itu reflek menoleh ke arah Seva yang sedang menatapnya sambil tersenyum mengangkat gelas .


__ADS_2