
Kebenaran tentang kekayaan dan Kekuatan Seva memang tidak ada yang tahu sama sekali.
Sebenarnya Luci sudah mulai curiga dengan Seva, pasalnya dia sangat tahu bagaimana masa lalu Seva ketika menjadi pesuruh dikelompok gangster Ghost. Namun, wanita itu tidak mau mengoreknya, karena ia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Seva.
Luci hanya berharap agar bisa terus bersama Seva, tidak perduli apa yang akan dilakukan prianya itu.
...***...
Setelah mengobrol-ngobrol sebentar bersama Roni dan Arlot. Seva mengajak kedua wanitanya untuk kembali ke markas pertama, tentunya dengan Arlot sebagai sopir, sementara Roni dan Levi bertugas berjaga di markas kedua.
Seva ingin berbicara dengan Sintia, mengenai bagaimana rencana dia kedepannya. Kalau dirinya sudah menguasai South Land.
Mobil terus melaju ke Markas pertama, sepanjang jalan Helen dan Luci terlihat sangat senang, mereka berdua saling bercanda satu sama lain, membuat Seva yang menyaksikan itu cukup senang.
"Tuan, kenapa anda tidak menjadikan Silvia dan Sintia wanita anda juga?" tanya Arlot tiba-tiba.
"Arlot, kau mau kami hukum!" bukan Seva yang menjawab malah Luci membentaknya.
Seketika Arlot langsung tersenyum getir, Seva hanya terkekeh geli melihat Arlot yang begitu takut dengan kedua wanitanya.
"Kamu jangan mancing-mancing Arlot, tidak di suruh juga nanti dia bisa kepincut wanita lain," tegur Helen.
"Benar itu, sebelum kami berdua hamil, setidaknya tidak ada wanita lain dulu," timpal Luci yakin.
"Hamil? Kalian berniat hamil?" tanya Seva sedikit terkejut.
Melihat ekspresi Seva yang tampak terkejut, kedua wanita itu langsung menunjukkan raut wajah sedih.
Helen dan Luci memang sudah sepakat ingin hamil anak Seva, mereka ingin mengekang Seva dengan keberadaan sang anak nantinya agar tidak meninggalkannya kelak.
"Kamu tidak mau kami hamil?" tanya Luci lirih.
"Bukan begitu, kalau kalian hamil siapa yang akan menjaga? Sementara aku kemungkinan akan terus bepergian, bukankah aku sudah mengatakan hal ini dari awal?" ungkap Seva merasa tidak enak.
__ADS_1
"Kan masih ada pelayan dan bawahan kamu, aku yakin mereka akan menjaga kami," jawab Helen di ikuti anggukan Luci.
Seva menghela napas tidak berdaya. "kalian ini selalu saja bikin aku bingung," keluh pria itu sambil menyenderkan tubuhnya.
Seva tidak berbicara lagi. Helen dan Luci mengira kalau Seva marah, mereka juga tidak berani berbicara membahas masalah anak lagi, karena mereka tidak mau prianya lebih marah.
Arlot hanya bisa menghela napas berat, ia tahu bagaimana perasaan tuannya yang masih ingin bertindak bebas, akan tetapi pria itu juga tidak menyalahkan kedua wanita Seva. Karena semua wanita pasti ingin memiliki keturunan bersama dengan orang yang mereka cintai.
Di dalam Mobil hening seketika, tidak ada yang berbicara sepatah katapun hingga sampai ke markas pertama.
Seva turun dari mobil, Helen dan Luci bergegas turun lalu merangkul lengannya dari kiri dan kanan.
"Sayang jangan marah, kami tidak akan hamil dulu kalau kamu tidak mau punya anak sekarang," ucap Luci lembut.
"Ya, kami akan menunggu kamu siap dulu," timpal Helen.
Seva tidak menjawab sama sekali, ia sedang malas membahas masalah tersebut. Helen dan Luci terlihat panik, karena mereka mengira Seva sangat marah.
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan wajah sedih, menatap Seva yang pandangannya lurus kedepan tanpa melirik mereka berdua sekalipun.
Helen dan Luci mengangguk patuh, mereka berdua tidak berani membantah perkataan Seva sama sekali, takut prianya itu semakin marah.
Seva memanggil Sintia untuk mengobrol, gadis itu langsung datang dan duduk dihadapan Seva.
"Kalian bertengkar?" tebak Sintia langsung, melihat wajah murung Helen dan Luci.
Seva menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali, kenapa memangnya?"
Sintia tersenyum simpul. "Tidak apa, aku hanya bertanya saja, ada apa memanggilku?"
"Jika aku sudah menguasai South Land, apa rencana mu selanjutnya?" tanya Seva memastikan.
"Rencana apa? Aku sudah bisa tinggal di sini saja sudah berterima kasih padamu," jawabnya enteng.
__ADS_1
Sintia berkata jujur, ia memang sangat berterima kasih kepada Seva karena diberi tempat tinggal baru, apa lagi semua orang di sana tidak ada yang berani menyentuhnya sama sekali, walau mereka sedang mabuk sekalipun.
Seva menghela napas. "Maksudku, kamu ingin buka usaha, melanjutkan studi atau mungkin yang lainnya."
Sintia mengernyitkan dahi. "Kamu ini bicara apa sih? Uang saja aku tidak punya, apa kamu risih ada aku di sini?" tanyanya memastikan.
"Bukan begitu bodoh," Seva menjitak pelan kepala Sintia.
"Sakit ih ... lagian bicara kamu tidak jelas, seolah ingin mengusirku dari sini," ucapnya tidak berdaya.
Seva menghela napas lagi. "Aku akan memberikanmu modal jika ingin buka usaha atau kamu akan melanjutkan studi aku akan membayar biayanya, begitu juga dengan Silvia jika dia mau."
Sintia menatap Seva dengan seksama, pria yang sudah dianggapnya sebagai seorang kakak itu semakin terlihat sangat dewasa. Berbeda dengan Seva yang ia kenal dulu, sangat rapuh dan selalu membutuhkan bantuannya.
"Malah bengong, ditanya juga!" tegur Seva.
"Eh ... maaf, aku sedang berpikir saja, kamu sekarang benar-benar sudah berubah Seva," ucapnya sambil tersenyum.
"Jangan mengalihkan pembicaraan," Seva menggelengkan kepalanya tidak berdaya.
Sintia mengulas sebuah senyum lalu berbicara. "Sebenarnya aku dan Silvia sempat bercanda ingin membuat sebuah toko kue kecil-kecilan, tapi jika kamu ingin memodali kami, boleh juga bikin bisnis itu."
"Cita-Cita kalian kecil sekali, kenapa tidak buka kafe saja?" ungkap Seva langsung.
"Modalnya terlalu besar, kami mau mulai dari awal dulu," jawabnya santai.
Seva mengangguk mengerti. "Ya sudah, nanti aku akan usahakan buat kalian, untuk sekarang kalian tetap tinggal di sini dulu."
Sintia tersenyum simpul, tentu gadis itu sangat senang. Karena akhirnya akan bisa memiliki usaha sendiri, walaupun masih dalam tahap pembicaraan saja.
Setelah mengobrol dengan Sintia, Seva bergegas menemui kedua wanitanya yang sedang berada dalam kamar.
Saat Seva masuk, keduanya langsung menghampirinya. Terlihat jelas kalau mereka berdua sangat takut kehilangan pria itu.
__ADS_1
Seva hanya tersenyum penuh arti, karena ia tahu kalau kedua wanitanya pasti mengira dirinya marah saat berada dalam mobil, padahal ia hanya sedang memikirkan baik buruknya jika memiliki anak sekarang, dimana ia belum begitu menginginkan nya.