System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Tempat tinggal Baru


__ADS_3

Dalam pemikiran Helen Kultivator merupakan seorang pertapa yang umurnya bisa sampai ribuan tahun, sebab itulah ia bertanya seperti itu.


Seva menggelengkan kepalanya, ia menghela napas panjang. "Kenapa kamu bertanya umurku? Apa kamu khawatir telah memilih pria berumur ratusan tahun?"


"Bu-Bukan begitu sayang, aku hanya ingin memastikan saja dan kalau boleh aku juga mau berlatih," jawabnya malu-malu.


"Eh ...," lagi-lagi Seva dibuat terkejut dengan perkataan Helen.


Ternyata dugaannya benar kalau Helen sangat menyukai Kultivator, mengingat wanita itu langsung percaya saat dirinya mengatakan seorang Kultivator.


Seva pura-pura menghela napas tidak berdaya. "Menjadi Kultivator itu tidak mudah, kamu harus bisa merasakan energi spiritual, kalau kamu tidak bisa merasakannya maka kamu tidak berbakat," ucapnya sok bijaksana padahal hanya membual.


Akan tetapi Helen terlihat sangat serius mendengarkan semua omong kosong Seva. "Caranya untuk merasakan energi spiritual bagaimana? Bisakah kamu mengajariku?"


"Hah," Seva lagi-lagi terjebak dalam kebohongannya sendiri.


"Kenapa, apa kamu tidak mau mengajariku?" tanyanya sedih.


Seva menghela napas lagi. Ia memikirkan cara untuk menjelaskan kepada Helen apa itu energi spiritual. Pria itu lalu teringat dengan kemampuan pengobatannya.


"Ulurkan tanganmu, aku hanya bisa memberitahu ini saja, sisanya kamu lanjutkan sendiri, jika nanti kamu bisa merasakannya bilang padaku," ucap Seva berbohong lagi.


Helen sangat bersemangat, ia mengulurkan tangannya. Seva meraih tangan Helen, ia menggunakan teknik penyembuhan kepada Helen.


Hawa panas menjulur ke tubuh Helen, luka ringan yang didapatkan Helen mulai sembuh dengan sendirinya. Namun, wanita itu benar-benar percaya kalau yang dirasakannya merupakan energi spiritual.


Setelah beberapa saat Seva melepaskan tangan Helen, ia menatap wanita itu dengan penuh keraguan. Karena takut Helen tidak percaya.


"Aku bisa merasakannya, jadi benar kamu ini seorang Kultivator, baiklah aku juga akan berusaha melakukannya!" ucapnya bersemangat.

__ADS_1


Seva tersenyum getir, ternyata pepatah cinta itu gila, sedikit ada benarnya. Buktinya Helen seperti orang gila yang percaya dengan semua omong kosong Seva.


Wanita itu berjingkrak kegirangan meninggalkan Seva untuk mengamati barang-barangnya.


"Dia yang bodoh, atau aku yang terlalu pintar sebenarnya?" tanya Seva pada dirinya sendiri.


Pria itu menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya. Ia beranjak dari sana untuk menemui Gyuri mengabaikan pembicaraannya dengan Helen barusan.


Sesampainya dilantai bawah, tampak semuanya sedang sibuk membereskan tempat tersebut.


"Gyuri, aku mau bicara denganmu," tegur Seva kepada bawahannya itu.


"Ada apa tuan?" Gyuri yang sedang sibuk membantu Arlot dan yang lainnya bergegas menghampiri Seva.


"Ditempat keluarga Baliem ada rumah yang akan dijual atau di kontrakan?" tanyanya langsung.


Gyuri menganggukkan kepalanya. "Ada tuan, untuk apa memangnya?" tanyanya penasaran.


Gyuri mendongak, pria itu langsung mengangguk mengerti. "Kalau untuk Nona tidak ada tuan, kalau rumah kecil banyak."


"Hanya untuk tinggal mereka sementara, sebelum aku menguasai Southland," ucap Seva meyakinkan.


Gyuri tampak berpikir sebentar, ia lalu berbicara. "Kalau hanya untuk tinggal sebentar ada rumah yang lumayan, tapi saya tidak menjamin fasilitas di sana bagus tuan," jawabnya jujur.


"Tidak apa, yang penting mereka aman terlebih dahulu, kalian tidak keberatan kan tinggal di rumah kecil dulu?" tanya Seva kepada para wanita.


Ke empat wanita itu mengangguk bersamaan, mereka semua tidak keberatan tinggal dimana pun asalkan aman.


Seva tersenyum. Ia mengajak Gyuri untuk ker umah tersebut, sementara Markas ia serahkan kepada Arlot.

__ADS_1


...***...


Sesampainya di rumah yang Gyuri maksud hari sudah malam.


Terlihat bangunan dua lantai yang cukup bagus, di wilayah keluarga Baliem. Teman Gyuri yang menawarkan rumah tersebut juga sudah menunggu di sana.


"Selamat datang Tuan dan Nona-Nona," sambut orang itu sopan.


"Jadi kamu pemiliknya?" tanya Seva langsung.


"Benar tuan, saya pemilik rumah ini," jawabnya lugas.


Seva mengangguk mengerti. "Mana nomor rekening kamu?"


"Tuan tidak mau menawar?" tanya Pria itu terkejut.


"Tidak perlu, itu cuma buang-buang waktu," jawab Seva yang tidak berniat menawar sama sekali. Karena menurutnya rumah itu cukup layak dengan harga yang ditawarkan Gyuri.


Pria itu tanpa ragu langsung memberikan nomor rekeningnya. Seva dengan santai mentransfer uangnya.


Setelah tanda tangan serah terima, rumah tersebut resmi menjadi milik Seva. Pria itu sangat berterima kasih lalu pergi dari sana.


Gyuri yang sudah tahu rumah tersebut mengajak para wanita Seva berkeliling, mengenalkan setiap ruangan yang ada di sana.


Di lantai bawah ada dua kamar, begitu juga di lantai atas. Setiap kamar memiliki kamar mandi tentunya, walaupun tidak besar tapi kamar tersebut cukup rapi membuat para wanita terkesan.


"Bagaimana, apa kalian suka?" tanya Seva setelah berkeliling.


Para wanita mengangguk bersamaan, mereka suka dengan rumah tersebut. Gyuri menghela napas lega, ternyata pilihannya tidak salah.

__ADS_1


"Kalian istirahatlah, aku mau berbicara dengan Gyuri terlebih dahulu," perintah Seva lembut.


Seva mengajak Gyuri ke ruang tamu untuk berbicara di sana membahas penyerangan tadi siang yang menurutnya sangat mengejutkan.


__ADS_2