System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Sebuah Harapan


__ADS_3

Seva mengajak kedua wanitanya duduk di pinggir ranjang, mereka berdua tampak merangkul, menyenderkan kepalanya di bahu Seva dengan manja.


"Kalian serius ingin punya anak?" Seva membuka pembicaraan.


Kedua wanita itu mendongak menatap Seva sambil mengangguk lirih bersamaan.


Seva menghela napas. "Berikan aku alasan kenapa kalian ingin memiliki anak dariku? Apa karena tidak ingin aku bersama wanita lain lagi, atau hanya ingin memiliki semua hartaku kelak?" tanyanya tanpa basa-basi.


Mereka berdua menggelengkan kepalanya bersamaan. Luci buka suara. "Bukan karena keduanya, aku hanya ingin hidup bahagia dengan kamu, bukankah jika belum mempunyai anak dari orang yang di cintai maka hidup kita belum bahagia?"


"Aku juga sama seperti Luci," timpal Helen.


"Terus bagaimana jika nanti kalian punya anak, aku meninggalkannya, apa kalian masih bahagia?" cecar Seva.


Seketika wajah keduanya langsung murung, mereka melepaskan rangkulannya masing-masing dari tangan Seva.


Perkataan Seva seolah ingin meninggalkan mereka begitu saja, padahal Helen dan Luci pikir kalau Seva sudah menerima hidup dengan mereka.


Seva tahu kalau kedua wanitanya pasti kecewa ia mengatakan hal tersebut. Ia pun tersenyum simpul memegang kedua dagu wanitanya itu agar menoleh ke arahnya.


"Aku belum secara resmi menikahi kalian, lagian kita juga belum punya tempat tinggal yang cocok untuk membangun bahtera rumah tangga kita, tahan dulu niat kalian, aku janji setelah South Land menjadi wilayah kekuasaan ku, kita bicarakan hubungan resmi kita," ucap Seva lembut.


Seketika wajah muram kedua wanita Seva langsung berubah sumringah, mereka tidak menyangka jika Seva sebenarnya hanya mengkhawatirkan keduanya, karena itulah ia tidak setuju memiliki anak terlebih dahulu.


"Kamu serius sayang?" tanya Luci memastikan.


Seva mengangguk. "Aku serius, kita butuh tempat yang aman untuk anak-anak kita nanti," jawabnya yakin.


Helen dan Luci menatap Seva dengan berkaca-kaca, keduanya mengangguk setuju sambil memeluk Seva bersamaan.


Mereka pun bermesraan sepanjang malam bertiga dikamar tersebut, ketiganya sampai lupa kalau kamar tersebut milik Sintia dan Silvia juga, mereka berdua pun terpaksa tidur di sofa.


...***...


Keesokan harinya, Seva seperti biasa bangun terlebih dahulu dari kedua wanitanya. Ia keluar dari kamar setelah membersihkan diri.


"Astaga, aku lupa kalau mereka tinggal di sini," Seva menepuk jidatnya ketika melihat Sintia dan Silvia yang sedang bercengkrama berdua.

__ADS_1


Seva menghela napas panjang, ia turun ke bawah menemui Arlot.


Saat Seva turun ke bawah, terlihat ada Munzar dan Gyuri yang sudah menunggunya dibawah, sedang mengobrol dengan Arlot.


"Kau sudah sembuh, Gyuri?" tanya Seva kepada pria yang sudah mengatakan sumpah setianya itu.


"Salam tuan Adelray, saya sudah sembuh berkat perawatan tetua keluarga Baliem," jawabnya sopan sambil berdiri.


"Duduklah," Seva menyuruh mereka bertiga kembali duduk lagi.


Mereka bertiga yang tadi berdiri ketika melihat Seva langsung kembali duduk setelah tuannya menyuruh duduk.


Seva menatap Munzar dengan seksama, pasalnya pria itu seharusnya sudah tidak ada hubungan lagi dengannya.


"Kenapa kamu membawa dia lagi Gyuri?" tanya Seva masih menatap Munzar.


Gyuri tersenyum. "Tuan Adelray, kebetulan beliau pemilik perusahaan terbesar di kota Mile dan saya juga melihat kalau anda sedang melebarkan bisnis, saya rasa tuan Larkin bisa di ajak kerjasama," ucapnya lembut.


"Benar tuan Adelray, saya akan sangat senang jika bisa bekerjasama dengan anda," timpalnya bersemangat.


Seva memegang dagunya, ia mengangguk mengerti. "Boleh juga ide mu. Arlot kamu hubungi tuan Hans, biarkan tuan Larkin berbicara dengannya."


"Selain itu, apa ada lagi Gyuri?" tanya Seva memastikan.


"Tetua keluarga Baliem ingin bertemu dengan anda tuan, jika tidak keberatan saya akan mengajak anda ke sana sekarang juga," jawabnya jujur.


Seva mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, hari ini aku juga tidak ada acara."


Gyuri pun mengajak Seva untuk ke kediaman keluarga Baliem, meninggalkan Arlot dan Munzar yang akan membahas kerjasama bisnis.


Seva juga tidak lupa menitip pesan ke Arlot, agar Helen dan Luci nanti tidak mencarinya.


...***...


Seva dan Gyuri pun pergi ke kediaman Baliem yang kebetulan berada di Kota Hut perbatasan Kota Mile dan Kota South, dimana markas pusat Martis berada.


Wilayah Kota Hut terbelah menjadi dua bagian, yang separuh masuk wilayah kota Mile dan yang separuhnya lagi masuk kota South.

__ADS_1


Dulunya tempat tersebut merupakan wilayah peperangan antar Mafia, tapi setelah Martis menguasai seluruh South Land, kini tempat itu dijadikan sebuah Kota.


Perjalanan dari Markas pertama yang di kuasai Seva sampai Kota Hut hanya butuh waktu satu jam perjalanan saja, mengingat jaraknya cukup dekat.


Mobil yang di naiki Seva pun sampai di kediaman keluarga Baliem. Tidak ada yang spesial di kediaman keluarga Baliem, karena semuanya tampak seperti perumahan pada umumnya.


"Keluarga kalian tinggal di sini?" tanya Seva memastikan.


"Benar tuan, kota Hut baru berkembang beberapa tahun belakangan, karena itulah tempat ini masih sedikit kumuh," jawabnya tidak berdaya.


Seva mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, pria itu menyapu pandangannya keluar mobil. Semuanya terlihat biasa saja, tidak ada yang berbeda dengan kota lainnya, bahkan orang-orang yang berlalu lalang juga tampak normal.


Akan tetapi setelah mobil semakin masuk kedalam pemukiman tersebut, terlihat sebuah rumah besar dengan gerbang masuk yang cukup besar di jaga empat orang.


Mobil berhenti didepan gerbang, seorang pengawal mendekat ke arah mobil. Saat melihat Gyuri ia langsung menganggukkan kepalanya.


"Buka gerbangnya!" seru penjaga gerbang yang mendekati mobil.


Seketika gerbang langsung dibuka dengan cepat. Gyuri kembali menginjak pedal gas setelah gerbang sudah terbuka lebar.


Saat mobil sudah masuk kedalam, Seva melihat bangunan-bangunan kuno ada didalamnya.


Dari desain rumah, hingga beberapa patung yang menyambut di pinggir jalan juga termasuk ukiran Kuno.


"Kalian pemuja relik?" tanya Seva tiba-tiba.


"Hahaha ... tidak seperti itu tuan, kami hanya tidak ingin menghilangkan bangunan sejarah yang di buat leluhur kami," jawabnya sambil tertawa.


"Oh ... aku kira kalian pemuja Relik dan sejenisnya," ucapnya santai.


"Saya rasa di jaman modern seperti ini sudah sulit menemukan pemuja relik, kalaupun ada mereka pasti kebanyakan pria sepuh yang uangnya sudah tidak terbatas," balas Gyuri.


Seva mengangguk mengerti, karena ia juga tahu kalau nilai relik itu sangatlah mahal, sangat jarang orang-orang yang suka dengan barang-barang tersebut.


Mobil yang membawa Seva telah sampai di depan kediaman utama keluarga Baliem, tampak terlihat bangunan tersebut juga masih kuno, akan tetapi dindingnya masih tampak kokoh.


Seva turun dari mobil. Gyuri mengajaknya masuk kedalam kediaman utama keluarga Baliem.

__ADS_1


Baru saja Seva masuk kedalam, ia sudah melihat banyak orang yang sedang berlatih beladiri di halaman rumah keluarga Baliem, membuat pria itu sedikit tertegun.


__ADS_2