System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
South Land


__ADS_3

Seva yang sudah mengerti cara penggunaan Sistem kocok Dadu Evolusi, ia segera beranjak dari dari tempat tersebut kembali kedalam Mansion.


Ketika masuk kedalam Mansion, semua pelayan wanita langsung reflek menutup wajahnya sambil membuang muka.


Sementara para pelayan pria terlihat gugup ketika melihat tuannya yang sangat santai berjalan masuk kedalam Mansion.


Kepala pelayan yang melihat hal tersebut bergegas melepaskan Jasnya dan langsung menghampiri tuannya sambil menutupi bagian depan sosok tersebut.


"Maaf telah lancang tuan, tapi alangkah baiknya anda jangan seperti ini, ucapnya sopan, dengan sigap sambil mengikat lengan jasnya ke pinggang Seva.


Wajah Seva yang tadinya percaya diri seketika langsung berubah jelek, ia tidak menyadari sama sekali kalau tadi masuk kedalam dengan telanjang tanpa sehelai benang pun yang menempel ditubuhnya.


Pantas saja para pelayan wanita menutup wajahnya, astaga kenapa aku bisa ceroboh seperti ini?


Seva bergumam dalam hati sambil menahan malu, ia menghela napas lalu berlari dengan sangat kencang.


Swuzz


Brug


Kepala pelayan terjatuh ketika terkena hembusan angin Seva, semua pelayan yang melihat hal itu melebarkan rahangnya, karena baru kali ini melihat orang yang bisa lari secepat itu.


Bruak


Seva dengan cepat masuk kedalam kamarnya dan langsung menutup pintu. "Sial, kenapa ini harus terjadi?" gerutunya kesal.


"Ada apa sayang?" Luci terbangun karena mendengar Seva menutup pintu dengan kencang.


"Tidak ada apa-apa, kamu lanjut saja tidur," ucapnya lembut.


"Oh...." Luci menguap kemudian kembali melanjutkan tidurnya.


Seva menghela napas lega, masih dengan perasaan sedikit kesal ia bergegas masuk kedalam kamar mandi lalu berpakaian.


Saat pria itu akan keluar dari kamar, Helen dan Luci kali ini bangun bersamaan.


"Kamu mau kemana?" tanya Helen dengan suara parau.


Seva yang akan pergi keluar tidak jadi, ia kembali lalu duduk di pinggir ranjang, berencana untuk memberitahu mereka berdua perihal keberangkatannya ke South land.

__ADS_1


"Aku akan berangkat ke South land, kalian baik-baik di rumah," ucap Seva lembut.


"Loh, kok mendadak sekali?" Mata Luci langsung terbuka lebar ketika mendengar Seva berpamitan.


"Kenapa mendadak sekali, apa tidak bisa tunggu nanti?" timpal Helen bertanya.


"Tidak bisa, aku harus bergerak sekarang, aku serahkan semua yang ada di Original pada kalian berdua," ucapnya lembut sambil mengecup kening kedua wanita tersebut.


"Sayang, kamu tidak lama kan?" tanya Luci sambil memeluk Seva.


Seva menghela napas. "Aku tidak tahu lama atau tidak, yang pasti sebelum aku membunuh Martis, aku tidak akan kembali dulu," jawabnya yakin.


Luci merajuk manja, wanita itu memang sangat manja jika sudah bersama Seva, padahal dulu ketika menjadi atasan Seva ia sangat kejam dan ketus.


"Ini semua demi keinginanku agar terwujud, bukankah kalian sudah berjanji akan mendukung setiap keputusanku?" tanya Seva sambil melepaskan pelukan Luci.


"Sudahlah Luci, biarkan saja, lagi pula ini juga demi kebaikan kita," ucap Helen.


"Ya sudahlah, kamu hati-hati di sana sayang," ucap Luci sambil mengecup bibir Seva lembut.


Seva menganggukkan kepalanya, pria itu beranjak dari sana meninggalkan kedua wanitanya.


Seva sengaja pergi siang untuk mengatur Ara bawahannya terlebih dahulu, agar mereka memperketat penjagaan selagi dirinya pergi.


Setelah semuanya sudah di atur agar tidak lengah dalam melakukan penjagaan, malam harinya Seva pergi ke bandara di antar Arlot.


"Arlot, kamu yang bertugas menjaga kedua wanitaku, jangan sampai mereka disentuh oleh siapapun!" ucapnya tegas.


"Dimengerti tuan, anda juga hati-hati di sana," jawab Arlot sopan.


Seva mengangguk mengerti, ia pun naik ke pesawat yang sudah Arlot siapkan untuk mengantarnya ke South land.


Tidak berselang lama setelah Seva masuk kedalam. Pesawat pun lepas landas dari bandara internasional Original.


...***...


Sementara itu di kediaman Martis, sosok tersebut sedang bersama dengan Gyle membahas masalah Seva yang masih hidup dan kabar ke empat orang terbaiknya yang menghilang tanpa jejak.


"Tuan, orang ini lebih mengerikan dari desas-desusnya, lebih baik kita memperketat penjagaan, saya yakin dia sudah tahu tentang anda," ucap Gyle khawatir.

__ADS_1


"Tenanglah Gyle, ini wilayahku, apa yang kamu takutkan ketika kita sedang berada di wilayah sendiri? Kurang lebih kita sudah tahu bagaimana kekuatan mereka di Original yang tidak akan mampu melawan kita di sini," jawab Marti masih sangat percaya diri.


Gyle menghela napas. "Tapi tuan...."


"Apa kamu sudah mulai meragukan aku, Gyle? " tanya pemimpin Mafia South land tersebut dengan suara dingin, memotong perkataan bawahannya tersebut.


"Maaf tuan, saya telah lancang," jawabnya tidak berdaya.


"Pergilah, tidak perlu kamu pikirkan masalah sepele ini," Martis mengusir bawahannya dengan halus.


Gyle membungkuk kemudian pergi dari sana, pria itu benar-benar merasakan akan ada gejolak besar di South land, tapi tidak tahu gejolak apa itu. Ia hanya bisa menghela napas tidak berdaya, mencoba mengabaikan instingnya.


...***...


Pukul empat dini hari, Seva sudah sampai di bandara Internasional South land, pria itu turun dari pesawat layaknya orang biasa, karena memang dia pergi ke South land menggunakan pesawat umum agar tidak mencuri perhatian musuh.


"Jadi ini South land? Tempat yang cukup indah, walau musim dingin," gumamnya sambil berjalan santai mencari taksi.


Seva terus melangkah kakinya mencari taksi untuk segera menemukan penginapan, mengingat ia tidak kenal dengan siapapun di tempat tersebut.


Sebuah taksi tiba-tiba berhenti didepan Seva, sontak saja pria itu sedikit terkejut.


"Tuan, anda akan pergi kemana?" tanya sopir taksi ramah.


"Hotel terdekatnya dari sini," jawab Seva langsung.


"Oke, masuklah tuan," sopir taksi mempersilahkan Seva masuk.


Seva mengangguk, ia membuka pintu lalu masuk kedalam taksi tersebut. Terlihat seringai tipis dari sopir taksi.


Seva menyadari ada yang aneh dengan sopir taksi, akan tetapi ia tetap diam untuk mencaritahu apa niatnya.


Dugaan Seva benar, setelah taksi jalan, bukannya dia dibawa ke pusat kota dimana hotel berada, sopir taksi malah membawanya ke pinggiran South land. Namun, Seva tidak menegurnya sama sekali, ia tetap diam di kursi belakang.


Sopir taksi yang melihat ketenangan Seva mengernyitkan dahi, padahal mereka sudah mulai masuk kedalam tempat sepi penduduk.


Apa dia bodoh? Masih bisa tenang di saat seperti ini, padahal sudah jelas aku membawanya ketempat sepi.


Sopir taksi melirik spion dalam, melihat Seva yang masih tetap tenang sambil menyenderkan kepalanya di senderan kursi belakang.

__ADS_1


Tidak berselang lama taksi berhenti, sang sopir langsung keluar dari sana, terlihat puluhan orang yang langsung mengepung taksi tersebut.


Seva bergeming, ia masih santai menghitung jumlah mereka semua sambil menghela napas panjang.


__ADS_2