System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Sintia Malang


__ADS_3

Sintia masuk kedalam toko baju, ia memilih pakaian yang dikiranya cocok untuknya. Namun, saat melihat bandrol harga, gadis itu menelan ludah.


"Astaga, lima ratus dolar South Land?" ucapnya kaget sambil menutup mulut, agar orang yang sedang berbelanja di sana tidak mendengar.


Gadis itu melihat bandrol harga lainnya, ia benar-benar syok karena pakaian di sana paling murah dua ratus dolar South Land, sementara gajinya menjadi pembantu saja selama sebulan hanya dua ribu dolar South Land.


Artinya gaji dia sebulan hanya bisa membeli sepuluh potong baju termurah di toko tersebut, membuat Sintia enggan untuk memilih.


Sintia lebih memilih pergi keluar kembali menemui Seva yang sedang menunggunya di kursi tunggu.


"Seva, lebih baik kita pindah toko saja yah?" tegurnya langsung.


Seva mendongak menatap wajah gadis itu yang terlihat tidak berdaya, ia mengernyitkan dahi. "Loh kenapa? Di sini merupakan tempat pakaian terbaik menurut security, aku sudah bertanya waktu membelikan baju yang kamu pakai itu," ucapnya datar.


"Pakaian ini dibeli di sini? Berapa harganya?" tanya Sintia terkejut.


Seva menggelengkan kepalanya, ia sekarang tahu kenapa gadis itu tampak panik, ternyata itu masalah harga pakaian yang mahal.


Pria itu tersenyum simpul, ia mengeluarkan Black Card lalu memberikannya ke tangan Sintia.


"Gunakan itu, pilih pakaian yang kamu suka," ucapnya lembut.


Sintia melihat tangannya, ia membelalakkan mata lebar saat melihat Black Card yang diberikan Seva padanya. Walaupun ia tidak pernah memegang kartu tersebut sebelumnya, akan tetapi ia tahu kalau itu merupakan kartu Bank milik orang-orang kaya.


"Seva ini...."


"Sudah pakai saja, kamu tidak perlu khawatir masalah uang oke," ucapnya lembut sambil mendorong Sintia masuk lagi kedalam toko pakaian.

__ADS_1


Sintia hanya bisa pasrah, gadis itu diam sebentar sambil menoleh ke arah Seva yang langsung menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Akhirnya mau tidak mau Sintia memilih pakaian di toko tersebut, walaupun ia mengambil yang harganya termurah.


Sintia mengambil sepuluh potong pakaian termurah di sana, ia tidak perduli jelek atau tidak modelnya, menurutnya yang penting pas dengan ukuran tubuhnya.


"Nona, aku ambil ini semua," ucap Sintia pada kasir sambil menyerahkan Black Card dengan tangan gemetaran.


Seorang wanita yang kebetulan sedang berada di kasir juga mengernyitkan dahi saat melihat Sintia membayar dengan Black Card, tapi pakaian yang di pilih semuanya paling murah di toko tersebut.


"Punya Black Card tapi tidak bisa memilih pakaian bagus, kasihan sekali hidupmu," ejek wanita tersebut.


Teman wanita itu menoleh melihat pakaian yang di beli Sintia ketika mendengar ejekan temannya. Ia reflek melihat baju-baju tersebut lalu menggelengkan kepalanya.


"Astaga, kamu tidak bisa memilih baju?" tegurnya langsung.


Sintia hanya tersenyum. "Nona, tolong bungkus cepat yah, aku terburu-buru."


Si wanita yang merasa di abaikan Sintia, ia menegurnya. "Kamu tuli atau bagaimana? Masih bagus kami ingatkan, itu pakaian jelek semua!"


Sintia menghela napas. "Maaf Nona, bagi saya itu sudah cukup."


"Tunggu dulu, jangan-jangan kamu mencuri Black Card itu dari pelanggan mu?" cecar wanita itu.


"Maaf, maksud Nona apa yah?" tanya Sintia memastikan.


Wanita itu mendekat ke arah Sintia, ia melihatnya dari atas sampai ke bawah, wajahnya cukup cantik walau tidak memakai riasan, tapi rambutnya terlihat acak-acakan.

__ADS_1


"Kamu pasti PSK bukan?" tanyanya menyelidik.


Sintia mengerutkan kening. "Nona, tolong hati-hati kalau bicara, saya bukan PSK!"


"Alah, kamu saja memegang Black Card tangannya gemetaran, ngaku saja," ucapnya sinis.


"Astaga, pantas saja dia takut menggunakan kartu tersebut dengan membeli barang-barang murah berharap agar tidak ketahuan, ya pasti begitu!" seru teman si Wanita.


Sintia terkejut dengan pernyataan mereka, sudah jelas-jelas dia datang ke sana hanya untuk berbelanja tapi dia harus bertemu dengan orang-orang menyebalkan lainnya.


Kedua wanita itu masih mencecar pertanyaan demi pertanyaan pada Sintia, gadis itu yang sudah terbiasa menjadi pesuruh tentu saja ketakutan, tidak berani melawan mereka berdua.


Sintia menundukkan kepalanya, membuat kedua wanita yang menghinanya terus mencecarnya dengan berbagai perkataan kasar dan menyudutkannya.


"Lihatlah, sudah jelas kalau dia memang pela...."


Plak


Sebuah tamparan keras mengenai telak pipi si wanita hingga beberapa giginya terlempar keluar dari mulutnya. Ia pun terhuyung hingga jatuh ke lantai.


"Juni!" seru temannya terkejut sambil memapah wanita yang di panggil Juni itu.


Juni meringis kesakitan, ia akan marah kepada orang yang menamparnya, tapi saat ia mendongak melihat wajah Seva nyalinya langsung ciut.


Juni merupakan teman dari Elsa Larkin, tentu saja ia tahu siapa Seva. Jika sekelas keluarga Larkin saja tidak berani padanya, ia yang hanya anak dari keluarga menengah tentu saja sangat ketakutan.


"Kamu tidak apa-apa, Sintia?" tanya pria itu perhatian.

__ADS_1


Sintia menganggukkan kepalanya, ia bernapas lega saat melihat Seva datang, karena tidak berani melawan kedua wanita itu sama sekali.


Seva menatap tajam Juni dan temannya, kedua wanita itu tampak sangat ketakutan saat melihat Seva.


__ADS_2