System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Naluri


__ADS_3

Seva menunggu Gyuri di teras rumah, ia tidak mau melihat tubuh telanjang Sintia dan Silvia lagi. Kalau Helen dan Luci tidak apa, pasalnya ia sudah sering melihatnya berbeda dengan kedua wanita itu.


Akan tetapi Helen sedari tadi menemaninya di teras rumah, membuat Seva beberapa kali menghela napas dan memalingkan wajahnya.


"Dari tadi kamu membuang muka terus kenapa? Apa sudah bosan denganku?" tanya wanita itu memastikan.


Seva menghela napas. "Kekuatanku sedang tidak terkontrol, sudahlah jangan bahas itu lagi," jawabnya mencari aman.


Helen merajuk manja, ia merangkul Seva. "Kamu tidak membohongi ku


'kan?" tanya wanita itu memastikan.


"Percayalah padaku, kamu mau kejadian pertama kali berhubungan badan terulang?" tanya Seva menakuti Helen.


Benar saja Helen langsung melepaskan rangkulannya, wanita itu jelas trauma dengan kejadian pada saat itu.


Seva tersenyum kecut, padahal ia tidak ada maksud membuat trauma Helen muncul lagi, tapi apa boleh buat, hanya itu yang bisa membuat wanita itu takut padanya.


"Tuan, kita pergi sekarang?" Gyuri yang sudah sampai bergegas turun dari mobil menyapa Seva.


Seva menelan ludah saat melihat pusaka Gyuri yang ukurannya cukup besar, pria itu segera memalingkan wajahnya.


"Ya, kita berangkat sekarang!" jawabnya sembari bergegas masuk kedalam mobil.


"Sayang hati-hati!" teriak Helen.

__ADS_1


Seva hanya mengangguk tanpa menoleh. Gyuri merasa ada yang aneh dengan tuannya, tapi pria itu tidak bertanya lebih lanjut.


Mobil pun meninggalkan kediaman wanita Seva. Alasan Seva tidak menaruh penjaga di rumah tersebut, ia yakin jika wilayah keluarga Baliem itu aman.


Pria itu sudah mengeceknya sendiri saat berkunjung sebelumnya, tidak ada tetangga julid, kepo dan sok kaya, itu membuktikan kalau lingkungan di sana sangat baik, di tambah ada beberapa penjaga di gerbang masuk wilayah keluarga Baliem. Jadi ia sangat yakin para wanitanya akan sangat aman di sana.


...***...


Seva sudah sampai di Markas dua, penglihatan Mata Malam Seva perlahan mulai bisa dikendalikan, pria itu kini sudah bisa sedikit bernapas lega.


"Tuan Adelray, maaf kemarin saya tidak bisa membantu di Markas satu," sambut Roni sambil membungkukkan badan.


"Tidak apa, kita berangkat sekarang," ucap Seva sambil turun dari mobil Gyuri, beralih ke mobil Roni.


"Gyuri, kamu jaga para wanita selagi aku pergi, aku percayakan mereka padamu!" sambungnya memberikan perintah kepada bawahannya itu.


Seva menganggukkan kepalanya, ia menyuruh Roni untuk bergegas pergi dari sana.


Mobil pun meninggalkan Markas dua, hanya ada Seva dan Roni didalamnya. Seva terlihat sedang menatap ponselnya agar tidak melihat pemandangan yang tidak di inginkannya.


"Tuan, tadi pagi Martis menelpon, saya di suruh untuk melakukan transaksi N*rkoba sekitar pelabuhan terlebih dahulu sebelum pulang, apa anda tidak keberatan?" tanyanya memastikan.


Seva menganggukkan kepalanya. "Lakukan saja, aku juga punya banyak waktu," jawabnya singkat.


Roni mengangguk mengerti, ia pun langsung mengendarai mobilnya dengan cepat ke arah pelabuhan untuk melakukan transaksi.

__ADS_1


Hanya dalam setengah jam saja, mereka sampai di pelabuhan Kota Mile.


Roni turun dari mobilnya, sementara Seva tetap diam di mobil. Terlihat bawahan Roni sudah berada di sana menunggunya.


Tidak berselang lama orang-orang yang membawa N*rkoba datang, saat Seva menatapnya ia terkejut.


"Brengsek, jadi kau hanya memanfaatkan Luci , polisi gadungan!" gumam Seva sambil mengepalkan tangannya.


Seva masih mengingat jelas siapa orang tersebut sebelum ia kabur ke kota Original bersama dengan Luci.


Pria yang merupakan mantan atasan Luci ternyata seorang mafia juga, padahal ia berbicara padanya mengenai penangkapan semua Mafia.


[Tidak usah heran tuan, orang sepertinya di dunia ini sangat banyak, mengatasnamakan kebenaran padahal ia sendiri dalang kehancuran generasi selanjutnya.]


Tiba-tiba Sistem buka suara, membuat Seva sedikit menghela napas.


"Kamu benar, seharusnya orang-orang seperti ini dilenyapkan. Mereka lebih buruk dari penjahat sekalipun!" gumam Seva geram.


Transaksi Roni dengan mantan atasan Luci tampak berjalan lancar, mereka sudah saling berjabat tangan, yang artinya pertukaran mereka itu sepadan.


Tidak sengaja mantan atasan Luci itu menoleh ke arah Mobil. Seva sontak saja terkejut, ia reflek menundukkan kepalanya.


"Eh, kenapa aku jadi takut padanya?" tanyanya bingung kepada dirinya sendiri.


[Naluri tuan, anda hanya menggerakkan tubuh sesuai dengan Naluri anda, karena dulu sempat takut dengan orang-orang seperti mereka.]

__ADS_1


Mendengar jawaban Sistem membuat Seva menghela napas berat, faktanya memang seperti itu. Ia sempat takut dengan orang-orang seperti atasan Luci yang selalu memburu Gangster kecil seperti kelompok Ghost.


Kurang lebih Seva sekarang sudah tahu, tujuan para pemburu Gangster sepertinya hanya ingin melebarkan wilayah, agar tidak terganggu dengan aktifitas kelompok-kelompok tertentu.


__ADS_2