System Kocok Dadu

System Kocok Dadu
Musuh yang cukup Kuat


__ADS_3

Pria paruh baya yang membawa tombak tersebut menghampiri Seva dengan tatapan tajam, akan tetapi Seva tidak takut sama sekali dengannya.


"Ilmu pedangmu lumayan juga, dari perguruan mana kamu?" tanya Pria yang memegang tombak.


"Apa aku perlu menjawab pertanyaan tidak berguna mu itu?" Seva balik bertanya sambil menyeringai.


"Jangan terlalu sombong anak muda! Kau belum tahu pahit manisnya kehidupan!" hardik pria paruh baya tersebut.


Seva menatap pria itu dengan dingin. "Tahu apa kau tentang diriku!"


Swuzz


Seva langsung melesat dengan cepat ke arah pria pemegang tombak tersebut. Pria itu reflek menghindar.


Trang ... Trang ....


Suara ujung tombak dan pedang Seva beradu, terdengar bunyi nyaring ketika dua senjata tersebut berbenturan.


Gerakan pengguna tombak sangat cepat dan sangat mahir, membuat Seva kesulitan untuk menahan serangan demi serangan yang di lancarkan nya.


Seva menahan serangan-serangan pria tersebut, akan tetapi gerakannya tertebak oleh pengguna tombak.


Duak


Duak


Swut


Clap


Pedang Seva terlempar saat pengguna tombak memukul kedua tangan Seva dengan sangat cepat.


Swuzz


Duak


Brug


Serangan pengguna tombak mengenai Seva, untung saja reflek Seva sangat cepat, ia menggunakan tinju besinya untuk menahan serangan tombak yang mengarah ke dadanya. Namun, ia masih tetap terhempas hingga tersungkur di tanah.


"Kau memang cukup bagus menggunakan pedang, sayangnya gerakanmu masihlah monoton!" ucap pria pengguna tombak.


Seva bangkit kembali, ia mengambil salah satu tombak yang berserakan di sekitarnya, pria paruh baya mengernyitkan dahi saat Seva akan menggunakan tombak.


"Hahaha ... menggunakan pedang yang keahlianmu saja masih kaku, bagaimana kamu akan menggunakan tombak?" ejek pria paruh baya itu.


"Kamu ini berisik sekali," jawab Seva dengan santainya.


Pria itu menghela napas lalu melesat menggunakan tombak tersebut. Sama seperti sebelumnya Seva mampu menggunakan teknik beladiri lawannya hanya dengan melihat saja.


Swuzz


Trang

__ADS_1


Trang


Pria pengguna tombak terkejut karena Seva bisa menggunakan senjatanya, apa lagi gerakannya sama dengan dirinya.


"Apa-apaan bocah ini? Kenapa dia bisa menggunakan teknik beladiri ku?" tanyanya dalam hati.


Trang


Trang


Seva terus menyerang tanpa berniat untuk mengurangi kecepatannya sama sekali, pengguna tombak tertekan, karena keahliannya malah di ungguli Seva.


Swuzz


Duak


Duaar!


Pria tersebut terhempas puluhan mete kebelakang ketika tombak yang di pegang Seva menghantam dadanya dengan sangat keras.


Pria itu terlihat berusaha untuk berdiri kembali, tampak tombaknya patah karena tadi digunakan untuk menahan mata tombak Seva.


"Biar kuberi tahu kamu satu hal, penderitaan yang aku alami mungkin sudah melebihi mu," ucap Seva sambil mengambil pedangnya yang tertancap di tanah.


Pria paruh baya itu terkesiap dengan perkataan Seva, ia mencoba menatap mata pria itu, terlihat sorot matanya yang menunjukkan kebencian, kemarahan dan keputusasaan.


Pengguna tombak seketika mengerti kenapa pemuda sepertinya memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, ia pikir karena selama ini Seva telah menjalankan metode latihan di luar kemampuan orang lain.


Seva juga melesat ke arah pria tersebut dengan sangat cepat, berbagai senjata berterbangan layaknya tombak ke arah Seva, serangan tersebut merupakan teknik seribu tombak terbang.


Swuzz


Swuzz


Pral


Pral


Seva melemparkan tombak di tangannya sambil menebas seluruh berbagai benda yang melesat ke arahnya.


Kecepatan keduanya di luar kemampuan manusia biasa, Seva juga tidak menduga jika pria paruh baya tersebut memiliki teknik seperti itu.


Swut


Clap


Duar!


Tombak yang dilemparkan Seva menembus perut pria itu hingga masih melesat sampai menancap di dinding markas.


Pral


Sementara kepala si pria tertebas pedang Seva hingga menggelinding ditanah, sementara ia hanya terkena sedikit goresan di beberapa bagian tubuhnya. Namun, semua itu tidak berarti sama sekali, karena kemampuan regenerasinya mampu membuat tubuhnya kembali pulih seperti semula.

__ADS_1


Seva menghela napas lega, ia yakin di markas tersebut hanya pria itu yang sangat kuat.


Benar saja, setelah pengguna tombak kalah, semua bawahannya yang ada di markas tersebut menyerah, mereka semua melemparkan senjata masing-masing sambil mengangkat tangan.


Seva menyuruh separuh bawahannya untuk mengumpulkan mereka di dalam markas, agar tidak ada yang melarikan diri.


Sementara separuh lainnya untuk membersihkan mayat-mayat yang berserakan untuk mengangkutnya lalu membuang mereka.


Penguasaan markas kedua milik bawahan Martis di kota Troyes berhasil, walaupun ada beberapa bawahan yang tewas, tapi bisa di gantikan dengan bawahan Martis yang menyerah.


"Syukurlah dia berhasil," Helen menghela napas lega saat melihat video dimana Seva berhasil mengambil alih markas Martis.


"Dia bikin aku jantungan saja," ucap Luci tidak berdaya.


Arlot tersenyum. "Nona seperti tidak tahu tuan Seva saja, padahal Nona orang paling dekat dengan tuan," ucapnya sopan.


Luci menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya aku juga tidak terlalu mengenalnya, karena dia berbeda dengan Seva yang aku kenal dulu."


"Maksud Nona?" tanya Arlot penasaran.


"Kamu ini banyak bertanya sekali? Apa kamu berniat mencari kelemahannya dan ingin membunuh Seva?!" tanya Helen ketus.


"Ti-Tidak tuan, mana mungkin saya berani melakukan itu," jawabnya ketakutan.


Helen memelototi Arlot, membuat bawahan pertama Seva itu langsung menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wanita bos besarnya.


Helen mengajak Luci kembali ke atas dengan menariknya paksa, agar wanita itu tidak menceritakan lebih lanjut tentang masa lalu Seva.


"Helen kamu kenapa sih? Lepaskan sakit!" tegur Luci setelah sampai di atas.


"Kamu yang apaan? Apa kamu mau semua orang mengetahui masa lalu Seva? Walaupun Arlot anak buahnya, tapi dia tidak berhak tahu tentang semua itu!" tegurnya tegas.


Luci seketika menutup mulutnya, ia lupa kalau Seva merupakan seorang pemimpin, jika ada yang tahu kelemahannya yang ada akan orang yang mengincarnya.


Sekarang ia tahu kenapa Helen marah padanya, itu semua demi kebaikan Seva, membuat wanita itu merasa bersalah.


"Maafkan aku Helen, aku lupa kalau seharusnya aku tidak mengatakan hal tersebut," jawabnya merasa bersalah.


Helen menghela napas, ia duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. "Lain kali lebih hati-hati lagi, kita kehilangan Seva sama saja kita kehilangan segalanya."


"Iya, maafkan aku," ucap Luci sambil duduk menghampiri Helen.


Sintia dan Silvia membawakan minuman untuk Helen dan Luci, walaupun Seva sudah mengatakan agar saling berbagi tempat, akan tetapi mereka berdua tetap menghormati kedua wanita Seva.


...***...


Sementara itu tidak jauh dari markas yang sudah di kuasai Seva, terlihat seseorang yang sedang mengirim pesan kepada Martis.


Levi yang baru akan masuk kedalam markas tersebut melihatnya, ia dengan cepat menembak kepala orang tersebut hingga tewas seketika dan buru-buru mengambil ponselnya.


Levi terkejut saat melihat WA pria tersebut yang mengirimkan foto bagaimana markas mereka di serang.


"Brengsek, aku harus segera lapor tuan Seva!" gerutunya sambil bergegas masuk kedalam markas menemui Seva.

__ADS_1


__ADS_2